Bentrok, Perwira Polisi Ditebas Hingga Tewas – Ambon Ekspres
Trending

Bentrok, Perwira Polisi Ditebas Hingga Tewas

Oknum Polisi Juga Diduga Terlibat

AMBON, AE— Insiden berdarah terjadi di Negeri Suli. AKBP Martin Mairuhu, perwira menengah (pamen) Polda Maluku ditebas dengan menggunakan parang hingga tewas. Satu orang juga sedang dirawat di rumah sakit Otoqwik, Passo karena luka serius yang dialami akibat bentrokan di tengah perayaan Hari Ulang Tahun itu.

Tewasnya AKBP Marthin Mairuhu menambah peristiwa terbunuhnya polisi akibat kekerasaan. Dalam kurun waktu satu tahun lebih, sudah empat anggota polisi di Maluku meninggal dunia akibat kekerasan, awalnya pada tanggal 29 September 2014, menimpah Aiptu Paulus Lekatompessy. Dia tewas setelah dikeroyok di Asrama TNI di kawasan Benteng.

Anggota brimob Polda Maluku, Bripda Faisal Lestaluhu meninggal pada 19 Juni 2015 saat terjadi bentrokan antara warga Mamala-Morela, Aiptu Christian Jermias, tewas dikeroyok di atas KM Sabuk 48 dan dibuang ke laut pada 18 Desember 2015 dan AKBP Martin Mairuhu meninggal pada Minggu (3/1) malam.

Peristiwa terbunuhnya Martin, terjadi pada Minggu (03/1) malam sekira Pukul 21.00 WIT di Negeri Suli Bawah, tepatnya di depan rumah Keluarga Samuel Kembauw. Di tempat tersebut sedang diadakan acara ulang tahun. Martin ikut merayakan hari bahagia itu.

“Saya kurang tau pasti insiden penyerangan itu. Tiba-tiba massa sudah banyak di depan rumah (Samuel Kembauw-red). Saat itu kita hadiri acara ulang tahun dari ibu Meri Mairuhu/Kembauw.

Soal penyebab penyerangan, saya kurang tahu,” ungkap Indra Malioholo salah satu korban bentrokan di Mapolres Ambon kemarin, sembari menambahkan, ada juga salah satu korban yang dirawat bernama Yohanis Hehanussa.

Kepala kepolisiaan Resort (kapolres) Polres Pulau Ambon dan Pp.Lease AKBP Komaruz Zaman, melalui humas AKP Meity Jacobus menjelaskan, pemicu terjadi bentrokan berawal dari Revano Haliwela yang diduga sebagai pelaku utama, mengendarai mobil Inova hitam bernomor DE 1886 melaju di depan rumah Samuel Kembauw.

Dari penuturan saksi mata, mobil yang dikendarai Revano sempat terhalang sebuah mobil yang belakangan diketahui milik Yapen. Mobil itu sementara parkir kawasan tersebut, dan sedikit menghalangi lalu lalang kendarangan bermotor.

Melihat kondisi itu, Samuel Kembauw memindahkan mobil milik Yapen. Revano langsung memutar mobilnya dengan menaikan pedal gas mobil berulang kali, sehingga ditegur oleh AKBP Martin yang sementara berada di depan rumah Samuel Kembauw.

Suara ini mengusik sejumlah orang yang sedang melakukan syukuran bertambahnya umur salah satu keluarga di kediaman Samuel Kembauw. Revano lalu ditegur AKBP Martin. Teguran perwira polisi ini dibalas dengan amarah Revano. Terjadi adu mulut. AKBP Martin kemudian memukul Revano saat itu.

”Hanya masalah sepeleh saja, karena suara mesin kendaraan Revano saat itu terlalu keras, sehingga ada teguran dari korban. Kemudian terjadi pertengkaran mulut antar keduanya. sempat dia (Revano Haliwela-red) dipukul oleh korban,” ungkap Meity di ruang kerjanya, Senin (4/1) kemarin.

Revano kemudian memilih kembali ke kediamannya tak jauh dari lokasi rumah Samuel Kembauw. Usai mandi, Revano sempat bertemu kakaknya yang juga seorang polisi Brigadir Marvin Haliwela (30) yang bertugas di Denma Polda Maluku. Melihat, pelipis mata adiknya merah, Marvin menanyakan insiden tersebut.

Revano mengaku dipukul oleh seorang polisi, namun dia tidak mengetahui identitasnya. Entah disuruh atau tidak oleh Marvin, sekira Pukul 20.30 WIT, Revano kembali ke kediaman Samuel Kembauw. Disana masih dilakukan syukuran. AKBP Martin juga masih ada. Beberapa orang juga masih terlihat terlibat dalam acara tersebut.

Tiba di TKP, Revano tidak langsung menuju kediaman Samuel Kembauw. Dia memilih berdiri di rumah Man Wagima, yang lokasinya berdekatan dengan TKP. Sementara Marvin menuju tempat acara pesta ulang tahun guna menanyakan prihal pemukulan terhadap adiknya, Revano.

Marvin menemui AKBP Martin. Mereka sempat berdiskusi, namun karena terlalu ramai, Marvin menyarankan AKBP Martin untuk berbicara diluar kegiatan pesta. Beberapa saat, tiba-tiba sudah terjadi perkelahian antara warga Suli dengan sekelompok orang yang menghadiri kegiatan pesta ulang tahun tersebut.

Situasi kemudian tak terkendali, Marvin memilih meninggalkan TKP. Alasannya untuk menyelamatkan diri, karena itu dia mengaku tidak mengetahui lagi insiden setelah meninggalkan TKP.

Johanis Salampessy (51) PNS di Kantor Kelurahan Lateri, yang tidak tahu menahu soal insiden itu, juga sempat dipukul oleh orang tidak dikenal hingga mengalami luka pada pelipis mata kiri. Akibat pemukulan itu, kembali terjadi ketegangan di sekitar rumah Samuel Kembauw. Mereka mencari pelaku pemukulan Johanis.

Ada sejumlah warga mengaku, melihat pelaku masuk ke dalam rumah keluarga Kembauw. Namun setelah berkoordinasi dengan kakak dari pemilik rumah, mereka akhirnya setuju diselesaikan dengan damai. Hanya saja ditengah upaya damai itu, ada warga yang melihat seseorang keluar dengan senjata tajam dari rumah Kembauw.

Melihat itu, massa dari warga Negeri Suli yang berada di TKP langsung marah dan melakukan pelemparan terhadap rumah Keluarga Kembauw, sehingga terjadi terjadi bentrok kedua kelompok. Melihat situasi yang tidak terkendali, Johanis meninggalkan TKP untuk mendapatkan perawatan luka yang diderita.

Hal sedikit berbeda disampaikan saksi mata CN (38) yang ikut dalam perayaan syukuran ulang tahun tersebut. Dia mengaku, sempat melihat Marvin bersama 4 (empat) orang rekannya memanggil AKBP Martin. Pembicaraan berlanjut sampai ke lorong menuju jalan raya yang diikuti oleh teman-temannya yang hadir dalam acara ulang tahun.

Setelah sampai di depan rumah Keluarga Kembauw (diatas jalan raya) tiba-tiba sudah ada kosentrasi massa, sekitar 30 orang. Kemudian terjadi adu mulut antara warga Suli dengan mereka yang terlibat dalam acara ulang tahun tersebut.

Saat terjadi adu mulut, CN dan AKBP Martin Mairuhu berusaha melerai. Tiba-tiba, CN sudah melihat AKBP Martin yang berada dibelakangnya terjatuh ke tanah dan bersimbah darah, akibat mengalami luka pada bagian kepala dan wajah.

CN langsung mengangkat korban menuju ke rumah salah satu Warga. Darisana mereka menumpangi mobil untuk membawa AKBP Martin ke rumah sakit. Sampai di RS Otoqwik Passo, korban akhirnya meninggal dunia, kemudian korban dirujuk ke RS Bhayangkara Tantui guna dilakukan visum.

Korban mengalami luka pada kepala bagian atas dengan panjang 8,05 cm, lebar 1,5 cm akibat sabetan senjata tajam serta luka memar pada bagian wajah. Sementara Johanis Salampessy mengalami luka pada pelipis mata kiri akibat pemukulan.

Meity mengatakan, sejumlah warga sudah dimintai keterangan terkait dengan kejadiaan tersebut, diantaranya warga setempat dan juga tamu undangan yang menghadiri acara ultah.

”Saksi yang sudah diperiksa saat ini lebih dari 10 orang, baik pihak keluaraga korban, warga setempat dan tamu yang menghadiri acara tersebut (ultah-red),” ucap Meity.

Sementara Marvin Haliwela sudah diamankan di Mapolres Ambon guna dimintai keterangan. Revano Haliwela sempat melarikan dan akhirnya diamankan. ”Dia (Marvi Haliwela-red) sudah diamankan setelah kejadian. Sudah ditangkap di kawasan desa Suli, dan sudah diamankan,” pungkas Meity. (ERM)

Most Popular

To Top