Masalah Baru di JMP – Ambon Ekspres
Trending

Masalah Baru di JMP

AMBON,AE.—Bergesernya struktur baja bentang tengah sekitar lima centimeter serta kabel penyangga tiang utama bentangan tengah yang mengalami pergeseran ke arah kanan, akibat gempa bumi Tektonik yang mengguncang Pulau Ambon dan sekitarnya, akhir tahun 2015, dinilai merupakan hal yang wajar.

Namun harus ditelusuri lebih jauh guna memastikan ada tidaknya kerusakan di bagian lain, terutama tiang penyangga dan pondasi jembatan terpanjang di wilayah timur Indonesia itu.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengatakan, sesuai informasi yang diperoleh dari pihak Balai Pelaksana Jalan dan Jembatan Nasional (BPJJN) wilayah MXII Maluku-Maluku Utara, meski struktur baja bentang tengah JMP mengalami pergeseran sekitar lima centimeter.

Pergeseran itu terjadi karena JMP belum ditutup dan kabel penyangga belum sempat dipasang. Namun itu tidak menjadi persoalan bagi lanjutan pembangunan jembatan tersebut.

“Ada Konsultan dari Taiwan. Dia meminta waktu selama seminggu untuk meneliti dan akan memberikan rekomendasi kapan JMP tersebut diangkat dan disambung,” kata gubernur seusai Hari Amal Bakti ke-70 Kementerian Agama RI, di lapangan Merdeka Ambon, Senin (4/1).

Gubernur melanjutkan, sesuai hasil rapat bersama pihak balai jalan, paling terlambat, Minggu ke dua bulan Januari tahun ini, JMP sudah bisa tersambung.”Kita tunggu saja, tidak ada masalah. Yang penting strukturnya sudah duduk dengan baik,” ujar gubernur.

Akademisi Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Thobyend Sahureka mengemukakan, alasan yang disampaikan oleh pihak BPJJN dapat dipahami, mengingat getaran gempa berkekuatan 5.2 Skala Richter saat itu terasa cukup kuat. Sehingga tidak salah kalau JMP ikut kena dampak dari gempa tersebut“ Itu suatu hal yang wajar,” ungkapnya, Selasa(5/1).

Apalagi yang terjadi hanyalah pergerseran struktur baja bentang tengah dan kabel penyangga. Lain hal kalau ada bagian JMP yang runtuh, maka itu suatu hal yang patut dipertanyakan.

Persoalannya sekarang adalah, berpindahnya struktur baja dan kabel penyangga itu bisa dikembalikan ke posisi semula atau sulit untuk kembali pada posisi semula. Bila sulit untuk kembali, itu berarti elastisitas bahan sudah berada pada ambang batas.

Karena itu, bila setelah diriset secara baik dengan menggunakan alat yang canggih, ternyata batas elastistasnya itu terlampui maka itu harus dibongkar. tapi kalau masih berada dalam batas elastisitas, itu artinya jembatan bisa dikembalikan pada posisi semula.

Lebih lanjut kata Sahureka, perlu ditelusuri pergeseran itu, apakah struktur di bagian bawah jembatan, terutama tiang penyangga dan pondasi itu ikut kena dampak, mengalami suatu proses di luar batas elastisitas atau masih berada dalam batas elastistas bahan konstruksinya.

Baja struktur yang mengalami pergeseran itu, adalah bagian yang paling atas jembatan. Sementara yang perlu adalah tiang penyangga dan pondasinya, karena tiang penyangga dan pondasi itu bagian struktur yang dihitung untuk menahan gempa.

“ Jadi perlu ditelusuri lebih lanjut. Diperiksa, jangan sampai terjadi sesuatu di situ. Karena berpindah sekitar 5 centimeter, yang kalau dalam ilmu teknik disebut mengalami perubahan bentuk. Jangan sampai mereka salah melihatnya. Sehingga, perlu didatangkan orang yang betul-betul ahli itu,”katanya.

Dikatakan, bila sambungan antara tiang penyangga dan tiang pondasinya itu mengalami suatu kerusakan, dan melampuai elastisitas bahan, terutama baja tulangannya, maka harus tiang penyangga itu dibongkar.

Apakah bergesernya baja struktur JMP itu juga karena kurang baiknya pertimbangan antisipasi, mengingat kondisi Maluku yang merupakan daerah rawan Gempa? Mantan anggota DPRD Maluku itu, tidak yakin bila mungkin proyek besar itu tidak diawali dengan perhitungan gempa di Maluku. Perencanaan jembatan, sudah pasti dihitung besaran gempa yang akan terjadi padanya.

“ Saya jamin, jembatan itu pasti didesain dan dihitung dengan potensi gempa. Proyek sebesar itu kalau tidak dihitung untuk tahan gempa, masalahnya fatal. Proyek semegah jembatan merah putih, pasti gempanya dihitung,” ucapnya.

Sementara, Kepala BPJJN Amran Mustari yang dihubungi untuk dikonfirmasi tentang masalah JMP adan upaya penyelesaiannya, enggan memberikan penjelasan. (MAN)

Most Popular

To Top