Pencemaran Merkuri Sudah Merusak – Ambon Ekspres
Trending

Pencemaran Merkuri Sudah Merusak

JAKARTA, AE.—Sebaran Merkuri akibat penambangan emas secara liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, berada dalam level bahaya. Harus ada upaya serius dalam menanganinya pasca aktifitas di gunung tersebut dihentikan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komite II DPD RI Anna Latuconsina, kepada Ambon Ekspres, kemarin. Dia mengatakan, pemerintah melakukan tindakan tepat dengan mengusir para penambang dari atas gunung. Mereka adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas rusaknya ekosistem hutan dan sungai di Pulau Buru.

Kini, setelah penambang hengkang, pemerintah daerah masih punya tugas penting, yaitu melakukan normalisasi lingkungan. “Normalisasi kawasan Gunung Botak, serta wilayah yang tercemar merkuri harus segera dilakukan dengan penanganan serius.” Katanya.

Pencemaran lingkungan akibat penggunaan merkuri yang tidak terkontrol, berada pada beberapa wilayah. “Di antaranya wilayah Wamsait, Sungai Anahoni, Kayeli, Gogorea, serta di dalam beberapa perkampungan di Kota Namlea,” Ungkap Anna yang telah mengunjungi wilayah-wilayah tersebut.

Kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh zat merkuri sudah di luar ambang batas. Tanah dan sungai di sekitar kawasan Gunung Botak telah tercemar zat kimia berbahaya.

“Karena itu, penanganan pencemaran harus dilakukan secepat mungkin. Pencemaran dari aktifitas penambangan emas telah merusak tanah dan air. Jika hal itu terus meluas dikhawatirkan akan menimbulkan masalah yang lebih serius,” terang Anna.

Menurutnya, sebelum para penambangan diusir dari Gunung Botak, kandungan merkuri telah diidentifikasi mendekati sedimen air tanah. Jika hal itu terjadi maka ancaman yang sangat berbahaya bisa terjadi.

Masalah serius dari kasus ini jelas menyangkut nyawa manusia. Bisa jadi, kasus penyakit minamata terjadi di Pulau Buru dan sekitarnya. “Namun beruntung hal itu tidak sempat terjadi. Pemerintah melakukan tindakan tepat dengan menutup Gunung Botak,” kata dia.

Sementara itu, dari Buru sejumlah pemuda adat dari Dataran Tinggi Waeapo di Petuanan Kayeli mengancam PT Buana Pratama Sejahtera (BPS) jika perusahaan masih terus melakukan penambangan dengan dalih normalisasi.

“Hari ini kita nyatakaan “perang” (perlawanan) kepada PT BPS dan pelaksana harian Bambang Riyadi, karena mengadu domba kami dengan tetua adat,” tandas Usman Soulisa SH saat berlangsung pertemuan para tokoh adat dari Noropa dan Noropito di rumah Seget, Mat Nurlatu di Desa Waegernangan, Senin sore (4/1).

Pertemuan dipimpin Metetemon, Monen Nurlatu. Hadir dalam pertemuan itu Matgugul Mual, Bagin Soulisa, Purusiwatemon, Robot Nurlatu, Matlea Giwagi, Slamat Behuku, Kawasan Watemon, Gibribut Nurlatu, Geba Adat Watemon, dan Titi Nurlatu.

Dalam pertemuan tersebut sempat terjadi keterlambatan karena menunggu kehadiran Raja Kayeli Fuad Wael dan Hinolong Baman, Manaliling Besan serta Kaksodin, Ali Wael. akan tetapi Raja dan dua tokoh adat tersebut tidak hadir. Itu diduga karena ketiga tokoh adat tersebut lebih sepakat dengan PT BPS.

Beberapa tokoh perwakilan dari Noropa dan Noropito gusar karena tiga tokoh lainnya yang diharapkan mengikuti pertemuan, yakni Raja Kayeli, Kaksodin dan Honolong Baman tidak hadir.

Pertemuan adat yang sudah digelar 2 kali itu dilakukan karena mereka merasa dibodohi dan ditipu. pasalnya, masyarakat adat yang juga ikut mendukung pengosongan lokasi tambang, awalnya mengira lokasi itu benar-benar akan di tata dan disterilkan dari sisa-sisa bahan kimia berbahaya yang sudah melampaui ambang batas. (CR8)

Most Popular

To Top