Dimana Pemerintah? – Ambon Ekspres
Trending

Dimana Pemerintah?

AMBON, AE.— Air salobar selalu menjadi titik rawan konflik. Namun selama ini, pemerintah Kota Ambon hanya diam, dan tidak pernah menyelesaikan masalah hingga tuntas. Minuman keras selalu menjadi pemicunya.

Masalah ini juga tidak pernah tuntas diselesaikan. Aksi provokasi justeru kerap terjadi di wilayah tersebut.

Catatan Ambon Ekspres, peristiwa bentrok antarwarga di kawasan Air Salobar sudah terjadi pada 15 Juni 2008. Akibatnya 2 orang luka-luka dan sejumlah bangunan rumah rusak ringan.
Pelemparan pemukiman penduduk dan pembakaran dua rumah warga kembali terjadi pada Mei 2013. Kejadian serupa pada Juni 2014.

Sejumlah rumah warga rusak. Salah satunya dibakar massa. Bentrok ini masih terjadi antara kedua kelompok masyarakat itu, yakni Salobar Bawah dan Salobar Atas termasuk pihak lain.
Bentrokan kembali terjadi pada 4 Mei 2014.

Bentrok mulai sekitar pukul 19.25 wit. Dipicu oleh oleh aksi pelemparan sejumlah rumah warga Air Salobar oleh orang tak dikenal. Aksi pelemparan itu memicu kemarahan warga Air Salobar, dan terjadilah kosentrasi massa diantara kedua kelompok, yang berujung saling baku lempar dengan batu.

Tanggal 2 Januari 2016, peristiwa pembacokan terhadap salah satu pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 13 Ambon bernama Renaldi (16) terjadi. Lokasi kejadian di pangkalan ojek Pohon Mangga, Salobar Bawah. Pelakunya Mavalanti Terinate (26). Beruntung tidak mengenai sasaran. Renaldi hanya mengalami luka di lengan kanan.

Direktur Tifa Damai Maluku, Yus Pattipawae saat dihubungi via seluler, Senin (4/1) menilai, bentrokan antarwarga maupun pemuda yang sering terjadi kawasan Airsalobar, harus dilihat sebagai tindakan kriminal murni. Bukan persolan-persoalan antar komunitas yang bisa menimbulkan presepsi keliru terhadap informasi-informasi yang bias kepada masyarakat.

“Karena itu, yang dibutuhkan adalah kearifan dan kecerdasan dari masyarakat untuk menyikapi persolan ini. Karena rangkaian peristiwa ini merupakan tindakan kriminal murni,”kata Yus.

Selain itu, dibutuhkan ketegasan aparat keamanan, terutama kepolisian untuk meningkatkan pengamanan. Jika terjadi lagi perkelahian antar warga maupun pemuda, maka konsekuensinya adalah penegakan hukum.

Menurut aktivis perdamaian ini, publik tidak bisa menjustifikasi aparat kepolisian belum maksimal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pasalnya, kata dia, ditengah masyarakat ada tokoh agama, tokoh pemuda dan aparat pemerintahan level kecamatan, kelurahan dan dusun yang mempunyai tanggungjawab besar menjaga wilayah masing-masih agar terhindar dari bentrokan.

Direktur Lembaga Antar Iman Maluku, Abidin Wakano menilai, bentrok yang terjadi antar warga maupun pemuda sudah bukan menjadi rahasia umum di kota Ambon. Hal ini disebabkan, setiap orang atau komunitas sering menonjolkan identitas diri masing-masing.
Kejadian-kejadian seperti ini selalu terjadi. Dalam teori konflik, kata Abidin, selalu saja orang merumuskan identitas komunitas sebagai identitas dirinya.

“Apalagi wilayah yang bertetangga, itu punya memori tentang masa lalunya masing-masing. Ini merupakan problem sosiologis. Bisa ditimbulkan oleh minuman keras, membangun geng-geng, masing-masing menonjolkan identitas diri dan kelompoknya. Dan akhirnya terjadi ketegangan-ketegangan seperti itu,”paparnya.

Dia menampik pemerintah melakukan pemberian terhadap beberapa kali bentrokan yang terjadi antar warga di Kota Ambon, khususnya di Airsalobar. Namun, pendekatan dan upaya penyelesaiannya belum dilakukan secara tuntas.

Penyelesaian hanya sebatas menghentikan bentrokan atau konflik. Belum ada upaya komprehensif dan dilakukan secara kontinyu untuk menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.

“Saya kira, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa pemerintah melakukan pembiaran. Karena, dalam konteks ini butuh peran dari semua pihak untuk penyelesaian jangka panjang. Hanya saja, upaya penyelesaian masalah, belum dilakukan secara tuntas,”paparnya.

Aktivis perdamaian lainnya, Elsye Syauta memaparkan, secara umum bentrok antar komunitas, warga maupun pemuda di kota Ambon yang kerap terjadi diakibatkan masih adanya memorinya konflik sosial masa lalu. Sehingga, meskipun pemicunya karena masalah sepeleh, pertikaian dapat terjadi.

“Kota Ambon pernah terjadi dilanda konflik sosial dan agama. Sehingga sampai kini, masih menimbulkan bentrok antar penduduk di dua pemukiman. Bekas ini semacam menjadi trauma. Karena itu, bentrok bisa saja terjadi dengan apapun pemicunya. Itu dulu yang harus dipahami,”paparnya.

Direktur Yayasan Parakletos ini mengaku, tak punya referensinya yang kuat untuk mengklaim pemerintah melakukan pembiaran. Namun sejauh yang ia ketahui, pemerintah perlu menuntaskan bentrok yang sering terjadi, terutama di Airsalobar.

“Saya tidak mempunyai bukti. Tapi, sayogianya harus ada intervensi yang maksimal. Kalau suatu masalah tidak pernah tuntas, maka pertanyannya adalah seberapa seriuskah pihak yang menyelesaikannya itu menganggap penting masalah tersebut diselesaikan? Karena masalah yang berantai, itu akibat tidak pernah diselesaikan secara tuntas,”akunya.

Penyelesaiannya, lanjut Elsye tidak hanya mengharapkan penegakan hukum. Yang lebih penting, adalah pendekatan secara sosial. Ini bisa menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Ketua RT 003/RW 06 Keluruahan Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, Sitti Nurdin mengatakan, kelurahan Nusaniwe terdapat enam RT. Pangakalan ojek Pohon Mangga merupakan tempat pengojek warga dari enam RT tersebut.

”Pangakalan ojek pohon mangga itu menjadi tempat nongkrong anak muda enam RT. Setahu saya, konflik antar pemuda disini hanya disebabkan oleh minuman keras dan saling mengejek,”katanya.

Olehnya itu, dia meminta agar aparat kepolisian membangun satu pos disekitar pangkalan tersebut. Pasalnya kata dia, pihaknya sudah melakukan pembenahan. Namun, tak membuahkan hasil.

“Saya harap aparat keamanan membangun satu pos penjagaan disini. Mungkin dengan adanya pos, mereka akan takut dan tidak meminum minuman keras atau main judi,” harapnya.

Di perketat
Terkait sering terjadi aksi kriminalitas maupun terjadi bentrokan antara warga Airsalobar, kepolisian berdalih terus memantau kawasan tersebut. Dengan rutin dilakukan patroli malam. Hal ini disampikan Kepala kepolisiaan Resort (Kapolres) pulau Ambon dan Pp.Lease AKBP Komaruz Zaman, melalui humas, AKP Meity Jacobus.

”Untuk langka pengamanan dalam mengantisipasi dan menjaga stabilitas kemanan di kawasan itu (Air Salobar-red) patroli rutin akan terus dilakukan di malam hari, selain itu juga patroli akan dilakukan di kawasan-kawasan yang kita anggap rawan terjadi tindak pidana,”kata perwira tiga balak itu, Senin (4/1) kemarin.(TAB/ERM)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!