Kemarau Bertahan 3 Bulan Lagi – Ambon Ekspres
Trending

Kemarau Bertahan 3 Bulan Lagi

Air terus mengering

AMBON, AE.—Cuaca ekstrim di Kota Ambon dan sekitarnya masih akan bertahan hingga memasuki Februari. Namun, musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir Maret.

Sementara, sampai kemarin, debit air di Kota Ambon terus mengalami penurunan. Sumber air di PDAM yang saban hari melayani penjualan air pada mobil tangki sejak tanggal 6 Januari lalu sudah ditutup.

Sesuai pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ambon, ada perubahan cuaca secara alami. Dimana daerah lautan Pasifik Timur masih mengalami cuaca panas. Sehingga berdampak pada gejala El Nino yang masih berlanjut.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, George Mahubessy menyampaikan, El Nino yang merupakan fenomena anomali laut dan atmosfer secara bersamaan terjadi di seputar perairan Peru (samudra Pasifik Timur).

Dimana suhu udara permukaan laut naik hingga diatas normal, dan bertekanan udara rendah. Sebaliknya, Samudra Pasifik Bagian Barat (termasuk kawasan Indonesia), suhu permukaan laut cenderung turun dibawah normal dan tekanan udara tinggi.

Sehingga, kata Mahubessy, akibat pergerakan tekanan udara tinggi ke rendah secara besar-besaran ini menyebabkan bergeser ke Pasifik Tengah dan Keperairan Peru. Dan Indonesia kehilangan banyak uap air yang berdampak pada kemarau panjang.

“El Nino ini bertahan di Januari. Memang sebelumnya dari pantauan kita, awal Januari itu kondisi cuaca sudah mulai normal. Akan tetapi ada perubahan faktor alam, yang menyebabkan cuaca di kota Ambon dan sekitarnya akan kembali normal pada Februari mendatang,” ungkap Mahubessy, ketika dikonfirmasi Ambon Ekspres via seluler, Jumat (08/1).

Awalnya perkiraan menurunnya El Nino ini sejak Desember 2015 lalu, dimana sudah menurun di angka minus 5. Sehingga mendekati skala positif, dimana El Nino dipastikan punah ketika menduduki skala positif.

Namun, lanjut dia, ada perubahan di Januari, dimana skala yang sebelumnya minus 5, kini menjadi minus 8. Sehingga ada kenaikan yang menyebabkan gejala El Nino masih berlanjut di kota Ambon dan sekitarnya. Akan tetapi, untuk cuaca normal bukan berarti cuaca memasuki musim hujan, tetapi masih ada pada status musim kemarau.

“Faktanya berbeda, dari data BMKG sendiri, ada kemungkinan Februari normal. Normal bukan berarti musim hujan, karena hingga Maret kota Ambon masih musim kemarau atau panas. Nanti di bulan April, kota Ambon dan sekitarnya memasuki musim pancaroba. Kemudian Mei hingga September, adalah musim penghujan untuk kota Ambon,” terangnya.

Mahubessy menjelaskan, dari pantauan sesuai Indeks Osilasi Selatan, jika skala El Nino masih pada kedudukan minus, maka gejala El Nino masih tetap ada. Akan tetapi jika El Nino di indikasikan mengarah ke positif maka dipastikan telah punah.

Sehingga jika masih berlangsung karena menduduki skala minus, maka kota Ambon tetap masih terdampak

“Dampak El Nino di Indonesia Barat dan Timur itu beda. Kalau Barat jauh dari pasifik, sementara Timur berdekatan dengan pasifik, makanya dampaknya masih kelihatan. Karena daerah diatas Papua sudah masuk Pasifik. Ini karena proses alam yang tidak bisa dihalangi, maka diharapkan Februari akan normal,” tutur Mahubessy.

Untuk diketahui, El Nino di tahun 2015, gejala awal fenomena El Nino terdeteksi pada bulan Oktober 2014, namun proses kelahirannya belum stabil (selalu berubah) dan baru konsisten sejak bulan Februari 2015 – November 2015 berdasarkan pantuan NOAA climate Prediction Center- Amerika Serikat.

PDAM Wainitu Tutup
Sementara itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wainitu, Kota Ambon, akhirnya menutup suplay air ke mobil-mobil tangki. Penutupan disebabkan debit air yang semakin mongiring, dan informasi adanya rencana di Demo warga. Pengumuman penutupan sudah dipasangan sejak, Rabu (6/1), tanpa batas waktu.

Pantauan Ambon Ekspres di kantor PDAM, Jumat (8/1), sejumlah sopir angkutan air minum mengeluh, bahkan ada yang tertidur di atas tanki mobil. Salah satu supir truk air minum, Ongen mengaku sudah mengantri air dari pukul 04:00, Jumat (8/1) dini hari, hingga sore ini belum juga dilayani.

“Memang kami sudah tutup sejak tanggal 6 Januari lalu. Selain karena air yang mongering, juga ada informasi akan terjadi demo warga. Saya tidak tahu demo untuk apa? Tapi mungkin saja soal air,” kata salah seorang petugas kepada Ambon Ekspres di PDAM, kemarin.

Sampai kemarin, pelayanan air oleh PT. DSA Ambon juga terganggu akibat mengeringnya air di Arbes. Ini sudah berlangsung sejak hampir dua bulan terakhir, akibat musim kemarau yang melanda Maluku, terutama kota Ambon.

Pihak PT DSA kadang terpaksa menunda penyaluran air bersih kepada warga di beberapa kawasan yang menjadi tanggung jawab PT DSA dalam memberikan pelayanan air bersih, diantaranya di Karang Panjang dan desa Batu Merah.

Bila debit air turun, aktivitas pengambilan air di Arbes dihentikan dalam beberapa hari, hingga debit air bertambah dan layak untuk diambil, kemudian disalurkan kepada masyarakat.

Sehingga, dalam beberapa waktu terakhir, jadwal pelayanan air bersih bagi masyarakat juga terganggu. Pada kondisi normal, penyaluran air satu kali dalam dua hari. Namun, pada masa saat ini bisa molor hingga tiga hari, satu kali penyaluran.

Sejumlah warga di Wara, Kebun Cengkih, Galunggung dan Kampung Batumerah, mengaku air PDAM maupun DSA kini mengalami penurunan pelayanan. Awalnya, dua hari satu kali dialiri, kini empat atau lima hari baru ada pasokan.

Itu pun tidak berlangsung lama seperti biasa lagi.
Sebelumnya, pengamat lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti), Rafael Osok mengatakan, berkurangnya debit air di beberapa sumber air di kota Ambon sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Itu terutama disebabkan oleh pengalihan fungsi kawasan sekitar sumber air tersebut.

“Kalau kita lihat, kan memang bukan di tahun ini saja, ya. Saya selalu bilang bahwa air bersih di kota Ambon ini setiap tahun menurun, debitnya. Kalau kita lihat data dari PDAM. Tujuh sumber utama mata air di Kota Ambon, setiap tahun menurun,” kata Rafael Osok via seluler, kemarin.

Ketua Lembaga Penelitian Unpatti itu menjelaskan, sikap pemerintah kota Ambon yang tidak tegas dalam melindungi kawasan sekitar sumber air bersih, menjadi salah satu faktor penyebab terus berkurangnya debit air.

Dikatakan, memang persoalannya, fungsi lahan itu yang paling utama. Alih fungsi lahan pada kawasan-kawasan resapan air sudah semakin tinggi. “Artinya, yang tadinya adalah hutan, menjadi kegunaan yang lain,”katanya.

Parahnya lagi, pengalihan fungsi lahan itu tidak diikuti dengan program lain, berupa penanaman kembali pada kawasan yang dialihkan menjadi kawasan pemukiman atau perkebunan pangan itu. “ Jadi intinya itu di alih fungsi lahan,”tegasnya.

Sebagian besar lokasi lima daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Batu Gantung, Batu Gajah, Wai Tomu, DAS Wae Ruhu dan DAS Batu Merah, yang menjadi pusat pasokan air di Kota Ambon telah berubah menjadi pemukiman, di samping aktivitas penebangan yang tidak terkendali. (ISL)

Most Popular

To Top