Pangdam Minta Maaf – Ambon Ekspres
Trending

Pangdam Minta Maaf

AMBON, AE.—Dua oknum anggota TNI, dari Yonif 732/Banau, berinisial Pratu P dan Pratu D, yang diduga melakukan penganiyaan terhadapa tiga warga Desa Tuhaha, RS (13), FP (10), dan DS (42). Kini telah ditahan, oleh pihak Pomdam XVI/Pattimura. Pangdam XVI/Pattimura menyatakan permintaan maaf atas insiden yang dilakukan oleh anak buahnya.

Komandan Polisi Militer Kodam XVI/Pattimura Kolonel Cpm Salidin kepada koran ini menjelaskan, penahanan terhadap dilakukan setelah dua prajurit TNI selesai menjalani pemeriksaan sementara oleh penyidik Pomdam. Keduanya ditahan di intalasi tahanan Pomdam.

“Setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, penyidik anggap sudah cukup bukti untuk melakukan penahanan, maka kedua terduga berinisial Pratu P dan Pratu D langsung ditahan,” jelas dia, via telephone selulernya, Jumat sore kemarin.

Menurut Danpom, kedua terduga tersebut sudah diamankan sejak Kamis kemarin, setelah menjalani pemeriksaan secara intensif oleh pihak Pomdam. “Ditahan sejak (antara Rabu dan Kamis, red) kemarin. Ada di sel Pom,”singkatnya.

Ditempat terpisah, Komandan Batalyon 732/Banau, Letnan Kolonel Infanteri Harrizal, mengaku pihaknya menyesali tindakan yang dilakukan oleh kedua anak buahnya itu. Bahkan tindakan kedua oknum tersebut dianggap sangat tidak layak dilakukan oleh seorang prajurit TNI yang merupakan aparat pelindung rakyat.

“Pertama-tama kami sangat menyesali dan meminta maaf kepada para korban dan seluruh masyarakat Tuhaha, Saparua serta masyarakat Maluku, atas tindakan kedua oknum TNI itu. Tindakan itu memang sangat tidak layak dilakukan oleh prajurit TNI,”kata orang nomor satu di Batalyon yang bermarkas di provinsi Maluku Utara itu, Siang kemarin.

Setelah mendengar informasi adanya penganiayaan, dia langsung menarik keduanya dari pos dimana mereka bertugas. Setelah itu, keduanya diserahkan ke pihak Pomdam, guna menjalani proses hukum.

“Kami bertanggungjawab atas segala hal tersebut, hingga para korban ini sembuh dan pulih seperti sebelumnya. Dan dua oknum tersebut akan bertanggungjawab atas perbuatannya, karena kedua anggota itu dinyatakan bersalah sesuai dengan aturan yang berlaku,”tegasnya.

Harrizal menambahkan, satgas BKO Yonif 732/Banau telah mengakhiri masa tugasnya di Maluku, dan akan dikembalikan ke Markas Batalyon di kota Ternate. Namun kedua prajurit itu tetap akan mendekam di Sel tahanan Pomdam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Panglima Kodam XVI/Pattimura Mayor Jenderal Doni Munardo, telah mengunjungi ketiga korban yang sementara dirawat di RS dr Latumeten Ambon. “Kemarin pak Panglima, bersama Pak Dandim 1504 Ambon telah mengunjungi para korban di rumah sakit, kemudian untuk biaya pengobatan para korban maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan ketiga korban itu, merupakan tanggungjawab kami,”kuncinya.

Hal yang sama juga dilakukan Pangdam terhadap korban penganiayaan warga Desa Waemital Kecamatan Kairatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Widodo Adin Saputra. Remaja 19 tahun ini meninggal setelah diduga dianiaya Anggota TNI SBB yang kesehariannya bertugas di Dodiklatpur Rindam XVI Pattimura Kairatu.

Pangdam didampingi Sekretais daerah (Sekda) Mansur Tuharea, Kol. Ervin (Danrindam XVI Pattimura), Letkol Inf. Sutardi (Dandodiklatpur), Letkol Inf. Umar (Wakapendam), AKBP Syahbuddin Nasution, S.Ik (Kapolres SBB), Letkol Inf. Tribharata Wiratdjati (Dandim 1502/Masohi), menemui orang tua korban dan warga setempat. Pertemuan berlangsung di Balai Desa Waemital, Jumat (7/1).

Mayjen TNI Doni Munardo menjelaskan, Masyarakat tidak perlu resah, TNI akan memberikan jaminan keadilan dalam proses hukum. “Saya sudah sampaikan ke Mabes TNI secara akuntabel, professional, dalam kasus ini untuk memenuhi rasa keadilan sesuai fakta. Awalnya saya mendapatkan laporan yang berbeda dengan fakta di lapangan,” kata dia.

Munardo sangat menyesalkan ada insiden yang menyebabkan meninggalnya Widodo, di tengah TNI sedang gencar-gencarnya merangkul masyarakat. Kata dia, tindakan ini merusak suasana apalagi berasal dari lembaga pendidikan yang seharusnya mampu menjadi contoh.

“Di RSUD kita juga meminta rekam medis agar dapat memperkuat kasus di pengadilan militer. Hal ini sehingga Kodam XVI/Pattimura selalu mendapat apresiasi dari masyarakat melalui pendekatan yang ada,” jelasnya.

Atas kejadian ini, Munardo menyatakan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat terlebih khususnya keluarga korban.”Saya minta maaf. Saya janji, masyarakat silakan untuk mengawal dan mendapatkan keadilan dalam proses ini sesuai dengan aturan yang berlaku. Saya akan berikan ruang seluas mungkin sehingga keadilan masyarakat dapat terpenuhi,” pungkas dia. (AHA/CR1)

Most Popular

To Top