Masyarakat Panik, Sumber Air Dicari – Ambon Ekspres
Trending

Masyarakat Panik, Sumber Air Dicari

Wawali: Pasokan Air turun 70 Persen

AMBON, AE.—Masyarakat di beberapa kawasan di Kota Ambon dilanda kepanikan, dan ketakutan menyusul terus berkurangnya persediaan air di dua titik penyuplai air, Air Besar dan Wainitu. Kini pasokan air diharapkan lebih banyak dari Halong. Pemerintah kini berusaha mencari sumber air baru.

Wakil Walikota Ambon, Sam Latuconsina menjelaskan, krisis air bersih kini mencapai titik rawan. Kondisi ini sudah terjadi sejak September 2015 lalu, bersamaan dengan kemarau panjang. Saat ini pasokan air dari PDAM dan DSA sudah mengalami penurunan drastis hingga mencapai hampir 70 persen.

“DSA dan sudah bekerja sama dengan tim dari Unpatti Ambon untuk meneliti sumber-sumber yang ada. Mana sumber yang masih diselamatkan. Karena terjadi kerusakaan pada daerah resapan, maka harus diperbaiki daerah resapan itu,” terang Latuconsina.

Dengan terjadinya penambahan pemukiman penduduk di daerah resapan, mengganggu persediaan air bersih. Ini perlu diantisipasi oleh seluruh pihak termasuk pemerintah kota, jika tidak Ambon akan kehabisan stok air bersih saat musim kemarau panjang.

“Sekarang daerah resapan sudah hampir musnah. Kita akan evaluasi kembali untuk bagaimana mengembalikan daerah resapan itu. Kita sudah instruksikan kepada kepala PDAM dan Kadis PU untuk mencari solusi jangka pendek. Dimana mencari sumber air baru dengan membuat sumur resapan, agar menjadi area suplai untuk kebutuhan debit air di kota Ambon,” kata Latuconsina.

Kerusakan yang terjadi pada daerah resapan, kata dia, bukan menjadi kesalahan utama pemerintah kota, pembangunan di daerah resapan seperti di Gunung Nona dan Arbes tidak memiliki IMB. Ini banyak terjadi pasca konflik beberapa tahun lalu.

“Dianggap daerah resapan akan dikunci, karena tidak boleh ada pembangunan di situ kecuali penanaman dan perkebunan. Ini akan kita sesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW, red) atau sonasi,” tutup Latuconsina.

Sementara itu, sebagian warga sudah mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Ada sebagian warga yang rela mengeluarkan ratusan ribu rupiah untuk mendapatkan persediaan air bersih lewat mobil tangki dari PDAM maupun DSA dan beberapa penyalur lainnya.

Bahkan ada warga yang rela turun mengambil persediaan air dari tempat lain, untuk diangkut ke tempat tinggal mereka. Dengan menggunakan berbagai tempat penampung air seperti gen air dan lainnya.

Di kawasan Benteng atas RT 002/RW04 kelurahan Benteng, kecamatan Nusaniwe Ambon, sudah sejak tiga hari terakhir warga mengeluhkan pasokan air bersih.

“Untuk mendapatkan air bersih, biasanya warga membeli satu tangki ukuran 5 ribu liter seharga Rp 120 ribu. Kini naik sampai Rp.150 ribu. Bahkan sekarang ini air mulai mengalami kesulitan, dan jarang terlihat. Karena makin banyak pesanan air lewat mobil tangki yang dipesan warga,” kata Haryanto Tatypana, salah satu warga setempat.

Sementara di kawasan Gunung Nona, RT 008/ RW 07, warga sudah beberapa hari tidak memperoleh air bersih yang sudah dipesan lewat mobil-mobil tangki air. Padahal sebelumnya, mobil tangki air sering terlihat masuk kawasan tersebut untuk menyalurkan air bersih.

“Kalau disini warga masih memperoleh air bersih melalui tangki air. Tetapi, sudah tiga atau empat hari ini mobil air tidak terlihat. Mungkin karena kondisi sekarang debit air berkurang akibat musim kemarau panjang,” kata L. Tahapary, yang juga warga kawasan Gunung Nona.
Hal serupa terjadi di kawasan Tantui, sebagian Kebun Cengkih, Galunggung, dan Wara.

Masyarakat mengeluhkan pasokan air dari DSA maupun PDAM. “Sekarang kami juga kesulitan untuk memesan air dari mobil tangki. Kalau pasokan dari DSA, sudah mulai berkurang. Kami takut, kalau persedian kian berkurang,” ungkap Sri, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Wara.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Ambon, Rovik Akbar Afifudin mengatakan, persoalan krisis air harus secepatnya ditangani, karena sudah sangat rawan. Yang perlu dilakukan pemerintah, adalah melakukan koordinasi dengan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) dan PT Dream Sukses Airindo (DSA) beserta Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan evaluasi persediaan air bersih.

“Dalam satu minggu 4 hari sekali air mengalir, ini harus menjadi persoalan serius. Oleh karena itu, evaluasi terhadap IMB di lokasi serapan air sudah harus di moratorium. Untuk mengantisipasi jangan sampai ada ijin lagi yang dikeluarkan.

Dan harus dilakukan penghijauan di daerah resapan air seperti di Gunung Nona dan Air Besar (Arbes, red),” jelasnya, ketika ditemui usai kegiatan Milad PPP ke-43, di kediaman Wakil Walikota Ambon, di Karpan, Minggu (10/1).

Ketua Fraksi PPP kota Ambon ini menilai, daerah resapan air di kota Ambon harus dibuat sebagai daerah penghijauan, agar dapat menyangga debit air di kota Ambon. Bahkan perlu dilakukan pembersihan terhadap sungai-sungai yang merupakan penyuplai air bersih.

“Itu yang harus dilakukan dengan Balai Sungai dan Badan Lingkungan Hidup, karena ini menjadi tanggung jawab bersama. Sudah harus dipikirkan untuk program pemerintah kedepan untuk ketersediaan air bersih kedepan.

Dimana perlu disediakan skenario program yang mengarah pada persiapan tempat sumber air, sehingga kota Ambon tidak menjadi daerah yang krisis akan air bersih,” ingatnya.

Salah satu staf Prakirawan Cuaca, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pattimura Ambon, Rion S Salman menjelaskan, kondisi cuaca masih terus berubah-ubah sehingga belum dipastikan adanya musim penghujan di kawasan Indonesia Timur, terlebih Maluku khususnya kota Ambon.

“Sampai saat ini fenomena El Nino itu belum usai akibatnya panas masih terjadi. Dan itu melanda Indonesia Bagian Timur. Kita beda dengan Indonesia bagian barat. Kalau barat, fenomena El Nino itu sudah berakhir sejak akhir tahun kemarin, sehingga saat ini mereka sudah ada pada musim penghujan,” jelas Rion, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, selama fenomena El Nino belum berakhir, maka belum adanya musim penghujan. Bahkan meski El Nino berakhir, potensi hujan masih sangat sulit untuk melanda kota Ambon hingga akhir Maret mendatang.

“Kita disini (Maluku dan pulau Ambon red) sendiri, sampai saat ini belum ada hujan. Untuk musim hujan sesuai perkiraan pada akhir bulan Maret. Masih fluktuatif berawan hingga hujan ringan. Artinya hujan itu masih sulit, langit itu belum banyak berawan. Kalaupun hujan, itu hanya hujan ringan,”terangnya.

Direktur WALANG Aspirasi Masyarakat Maluku Kristian Sea, mengecam Direktur DSA-PDAM terkait krisis air bersih yang terjadi di sejumlah kawasan di Kota Ambon.

Dia akan melakukan aksi besar-besaran bersama masyarakat yang merasa dirugikan dan memboikot kantor DSA-PDAM Kota Ambon, karena dinilai tidak mampu dalam melayani masyarakat Kota Ambon. Pemerintah Kota Ambon juga dinilai gagal memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih.

Menurut dia, sampai saat ini masyarakat diberbagai lokasi di kota ini, seperti IAIN-Wara, Kebun Cengkeh, Galunggung, Kapaha, Batu Merah, Bentas, Gunung Nona dan masih banyak lagi yang tidak mendapatkan air bersih, bahkan warga memesan air hingga seminggu tak kunjung datang.

Dia juga mempertanyakan PDAM Wainitu, yang tidak lagi melayani mobil tanki, padahal kondisi sekarang susah untuk mendapatkan air bersih.

Walang mendesak Walikota Ambon, Richard Louhenapessy segera memanggil Direktur PDAM dan DSA, untuk bisa mempertanggung jawabkan, makin berkurangnya pasokan air.
(ISL/AHA/AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!