Si Manis di Suap Trans Seram – Ambon Ekspres
Trending

Si Manis di Suap Trans Seram

Jakarta,AE— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (13/1) malam melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT). Anggota DPR RI berinsial DWP menjadi target. Politisi partai PDIP itu ditangkap karena diduga menerima suap untuk memuluskan proyek jalan di Pulau Seram.

Proyek milik Kementerian PU itu akan dikerjakan melalui Balai Pelaksana Jalan dan Jembatan Nasional (BPJJN) Wilayah XII Maluku-Maluku Utara yang saat ini dipimpin oleh Amran Mustari. Mustari sendiri juga disebut-sebut terlibat sejumlah kasus dugaan korupsi.

Dari penelusuran Ambon Ekspres, inisial DWP oknum anggota Komisi V DPR yang ditangkap KPK tersebut, merujuk pada nama anggota Fraksi PDI Perjuangan yang duduk di komisi infrastruktur dan perhubungan itu, yaitu Damayanti Wisnu Putranti.

DWP ditangkap KPK di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah itu tertangkap tangan menerima uang miliaran rupiah. Uang itu diduga diterima DWP dari seorang kurir, guna memuluskan proyek jalan sepanjang 60 kilometer di Pulau Seram yang didanai melalui APBN tahun 2016 itu.

”Ya, benar (ada OTT, red). Kakap,” kata seorang sumber di KPK yang enggan disebutkan namanya.

Ini merupakan hasil OTT pertama sejak lembaga anti rasuah itu miliki lima pimpinan yang baru. Selain DWP, KPK juga menangkap enam orang di tempat yang sama. Mereka diduga merupakan pihak swasta yang menginginkan proyek tersebut. KPK juga menyita satu unit mobil Toyota Alphard warna hitam dengan nomor polisi B 5 DWP. Namun, KPK belum mengeluarkan penjelasan resmi tentang penangkapan BWP itu.

Kemarin, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan empat tersangka suap menyuap dari hasil operasi tangkap tangan, Rabu (13/1). Keempatnya adalah anggota DPR berinisial DWP dan tiga orang dari kalangan swasta UWI, DES dan AKH.

“Suap diberikan untuk mengamankan proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2016,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam jumpa pers singkat, Kamis (14/1) di kantor KPK.

DWP, UWI dan DES yang diduga sebagai penerima suap dijerat pasal 12 huruf a, atau pasal 12 huruf b, atau pasal 11 Undang-undang Pemberantasan Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 KUHPidana. Sedangkan AKH sebagai pemberi suap dijerat pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 33 Undang-undang Pemberantasan Tipikor.

Agus menjelaskan kronologis pembongkaran praktek suap menyuap itu berawal dari pergerakan yang dilakukan penyidik KPK mulai Rabu (13/1). Dalam OTT di empat tempat berbeda, KPK menangkap enam orang. Dua orang selain para tersangka adalah sopir.

Setelah diamankan, mereka yang ditangkap dibawa ke kantor KPK, termasuk DWP. Agus menjelaskan awalnya penyidik meringkus UWI di Tebet, Jakarta Selatan, sekitar pukul 17.00 saat hendak pulang ke rumahnya.

Kemudian, penyidik meringkus DES di sebuah mall kawasan Jaksel. Keduanya ditangkap setelah sebelumnya bertemu dengan AKH di kantornya PT WTU di kawasan Jaksel. “Dalam pertemuan itu diduga terjadi pemberian uang oleh AKH kepada UWI dan DES,” kata Agus.

Kemudian, penyidik meringkus AKH di kawasan Kebayoran Baru, Jaksel. Dari tangan DES dan UWI, kata Agus, penyidik menyita duit masing-masing 33 ribu dolar Singapura.

Sebelumnya, kata Agus, UWI sudah terima 33 ribu dollar Singapura yang telah diambil oleh DWP melalui sopirnya pada 13 Januari 2016 dini hari. “Setelah itu tim bergerak ke Lenteng Agung menangkap DWP,” katanya. (JPNN/ MAN)

Most Popular

To Top