Lampu Merah buat Kampus Merah – Ambon Ekspres
Trending

Lampu Merah buat Kampus Merah

AMBON, AE— Perseteruan di internal Universitas Darussalam (Unidar) Ambon belum berakhir, sementara sudah hampir empat semester Pangkalan Data Pergurauan Tinggi (PDPT) Unidar ditutup. Bila perseteruan berlanjut dan PDT belum dibuka hingga empat semester, kampus merah itu ditutup.

Setelah melantik Farida Mony sebagai rektor Unidar Ambon, pimpinan Yayasan Darussalam, Senin (25/1) menemui Koordinator Kopertis Wilayah XII Maluku-Maluku Utara, membicarakan masalah PDPT serta pelantikan Farida Mony tersebut.

“Pertemuan dengan Kopertis adalah untuk mendapatkan kepastian pengakuan terhadap rektor Universitas Darussalm Ambon, sehingga penyelenggaran pendidikan bisa berlangsung atas kewenangan yang melekat pada beliau sebagai perpanjangan tangan kementerian untuk memberikan PDPT dan sebagainya dibuka. Dan ada Universitas Darussalam Ambon yang rektornya adalah Farida Mony,” kata ketua Yayasan Darussalam, A.R. Polanunu di kampus B, Wara, kemarin.

Terkait pengakuan Kopertis atas pelantikan Farida Mony, Polanunu mengatakan, pada prinsipnya Koordinator Kopertis setuju, dengan catatan, semua civitas akademika harus diajak bersatu.

“Kami tidak pernah membedakan mahasiswa, para dosen yang ada di sana. Yang membedakan itu adalah mereka merasa seolah dengan adanya dua kepemimpinan di kampus merah itu lalu memihak,” ungkapnya.

Sementara, saat dikonfirmasi, Koordinator Kopertis Wilayah XII Maluku-Maluku Utara Zainudin Notanubun mengakui pertemuan tersebut untuk membicarakan Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Unidar Ambon.

“Tapi saya katakan, untuk membuka PDPT, harus satu rektor, karena pembukaan PDPT itu bukan Kopertis tapi di Dikti setelah ada laporan dari Kopertis,” ungkapnya.

Terkait keberadaan rektor Farida Mony, Notanubun mengatakan, Kopertis tidak berwenang untuk memberikan pengakuan, sebab itu wewenang Yayasan. Kewenangan penuh ada pada Yayasan.

Yang diinginkan oleh Kopertis adalah tidak merugian mahaiswa. Baik mahasiswa di kampus A Tulehu maupun mahasiswa di kampus B, Wara. Sehingga, semua mahasiswa disatukan. Jika itu sudah dilakukan maka Kopertis akan mengusulkan ke Dikti untuk membuka PDPT.

“Mengakui atau tidak mengakui (rektor) itu adalah urusan Yayasan karena untuk peguruan tinggi swasta, yang sangat punya peran adalah Yayasan. Kita hanya mengawasi masalah pendidikan dan pembinaan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa rektor ini legal dan yang itu tidak legal,” jelasnya.

Kopertis, kata Notanubun hanya menginginkan agar mahasiswa tidak dirugikan, mahasiwa harus diselamatkan. “Saya katakan kalau semua mahasiswa berkumpul di Wara atau di Tulehu, PDPT saya buka. Nanti urusan pengadilan dari belakangan. Kalau ini dibiarkan jalan terus, maka Darussalam akan mati karena sudah menjelang empat semester pangkalan data (PDPT) ditutup,” ujarnya.

Sebelumnya, rektor Universitas Darusaalam (Unidar) Ambon versi Yayasan Pendidikan Darussalam, Ibrahim Ohorella mengajak semua insan akademik di kampus berjas merah itu untuk kembali bersatu, membangun Unidar menjadi lebih baik. Dosen dan mahasiswa jangan terbawa dalam perseteruan antara pihak Yayasan Darussalam Maluku dengan Yayasan Pendidikan Darussalam.

Melalui juru bicaranya, Husain Latuconsina, rektor Unidar mengatakan, kebijakan pimpinan Unidar saat ini adalah mengembalikan proses akademik dan non akademik itu seperti semula.

“Artinya, kalaupun ada teman-teman yang masih berada di Wara itu agar segera kembali seperti biasa. Baik teman-teman dosen, maupun ade-ade mahasiswa, sehingga jangan lagi mahasiswa diruginkan dengan adanya konflik ini,” ungkapnya, Rabu (20/1).

Intinya, kata Latuconsina, konflik tersebut jangan sampai menyusahkan mahasiswa. Jangan sampai mengorbankan mahasiswa. Dan kebijakan universitas adalah menyelamatkan mahasiswa, karena proses akademik juga harus tetap berlanjut.(MG3/MAN)

Most Popular

To Top