Rumihani, Jalani Usaha Warisan Untuk Bertahan Hidup – Ambon Ekspres
Trending

Rumihani, Jalani Usaha Warisan Untuk Bertahan Hidup

SESEKALI keringat yang menetes di sela sela jilbabnya, disekanya sambil terus menatap sejumlah pakaian bekas (pakaian impor) di lapak tempatnya berjualan. Dia amat sibuk hari itu. Dia, Rumihani (47) .

Wanita yang meneruskan usaha warisan orang tuanya berjualan pakaian bekas di Pasar Mardika, Kota Ambon, saban hari harus berurusan dengan pelanggannya.

Sudah belasan tahun lamanya ia menggantungkan hidup dengan menjual pakaian bekas, yang memang merupakan satu-satunya mata pencaharian bagi kelangsungan hidup keluarganya. “Saya mulai ikut berjualan ketika masih berusia 14 tahun, bahkan sebelum kami diberikan lapak oleh pemerintah untuk berjalan,” ujarnya sambil menata pakaian bekas yang akan dijual.

Sambil menunggu pembeli Rumihani mengisahkan awal usaha ini dijalaninya, dengan mengikuti ibunya untuk berjualan pakaian bekas.Saat itu, belum ada lapak untuk berjualan. Kadang dia bersama ibunya mencari tempat dimana saja untuk bisa berjualan. Mulai dari jembatan Batu Merah hingga di pantai Losari.

“Kedua orang tua saya asal Wanci dan saya tidak tahu sejak kapan orang tua datang ke Ambon. Yang saya ingat, saya dibesarkan di kota ini dengan hasil penjualan pakaian bekas dari orang tua,” ucapnya.

“Lapak ini baru kita tempati sekitar tahun 1995 sebelum kerusuhan, pemerintah memberikan izin lokasi ini kami pakai untuk berjualan,” tambah dia.

Selama 33 tahun bertahan hidup di kota ini, Rumihani menyadari penghasilan semakin lama semakin surut. Apalagi, lapangan pekerjaan sangat minim. Supaya bisa menyekolahkan keempat anaknya, ia dan suaminya La Ode Rasiu meneruskan usaha jual pakaian bekas atau yang sering disebut warga Kota Ambon, Cakar Bongkar sampai saat ini.

Dalam percakapan kami, Rumihani mengungkapkan, sangat ingin keempat anaknya dapat hidup yang layak. Tidak seperti dirinya, jika tidak memiliki modal untuk membeli lagi pakaian bekas dari agen, maka penghasilan untuk makan tidak ada.

“Saya punya empat anak yang masih bersekolah, Allhamdulilah dua sementara kuliah yang duanya lagi masih di tingkat sekolah dasar (SD). Setidaknya, saya dan suami bisa merasa bangga ketika anak-anak kami mampu kami biayai hingga sekarang walau hanya dengan menjual pakainan bekas,” ucap istri dari La Ode Rasiu ini.

Untuk dapat memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya, ia bersama suaminya, menjalankan usaha penjualan pakaian bekas yang merupakan usaha warisan. ”Tak peduli harus berdesak-desakan untuk mendapatkan pakaian bekas di agen, yang penting bisa dapat satu atau dua karung yang bisa dijual,” ungkap wanita asal Wanci, Sulawesi Tenggara ini.

Sehari-hari Rumihani yang biasa dipanggil Umi oleh pelanggannya ini, dibantu bibinya dan saudara sepupuhnya untuk berjualan. “Kami berjualan dari jam 07:00 pagi hingga jam 18:00 (6 sore) atau bahkan jika ada ramai pengunjung bisa sampai jam 20:00 (jam 8 malam),” ujarnya sambil melayani pelanggan.

Membuka tumpukan pakaian yang beratnya lebih dari 50 kilogram, sudah menjadi hal yang biasa bagi dirinya. 10 tahun berjualan, dia mengaku banyak kendala yang dialami. Mulai dari kondisi barang yang kadang tidak semua layak dijual. “Kita seperti membeli kucing dalam karung, kadang yang ada bisa dijual ada juga yang tidak sama sekali,” ungkapnya.

Menyadari bahwa pelanggan semakin menurun karena begitu banyaknya bermunculan penjual pakain impor. Dirinya berupaya agar bagaimana para pelangan tetap mau untuk membeli dagangannya.

“Saya biasa telepon atau sms kalau ada barang baru yang masuk, dengan begitu pelanggan bisa langsung datang ada yang ambil dulu baru bayar ada juga yang biasanya memasan barang-barang tertentu. Semua ini dilakukan dengan modal kepercayaan saja antara pedagang dan pembeli,” katanya.

Dikatakan, dalam sebulan bisa ada dua kali pengiriman dari Wanci atau dari Jakarta. Modal yang dibutuhkan pun cukup banyak. Kalau penjualan sepi, maka terpaksa dirinya hanya mengambil satu atau dua karung.

“Minimal modal yang harus ada Rp 1 juta itu termasuk biaya muat dan jasa buruh yang dipakai. Kalau sehari bisa dapat Rp300 sampai Rp500 ribu sudah lumayan. Tapi keuntungan yang betul-betul bisa disimpan untuk modal adalah sisa belanja makan,” ujarnya.

Saat ditanyakan soal kebijakan pemerintah untuk melarang penjualan pakaian bekas, Rumihani dengan raut wajah yang lelah mengungkapkan biarkan penjualan pakaian bekas ini ada, karena bukan hanya dia, tapi para pedagang lain pun tentu memiliki pendapat yang sama.

“Dari mana kita dapat penghasilan lagi untuk hidup, kalau tidak berjualan seperti ini? Kita bisa jalani dengan modal sendiri, asalkan pemerintah tidak melarang-larang,” cetusnya. (**)

Most Popular

To Top