Pemindahan Ibukota, Langkah Terbaik – Ambon Ekspres
Trending

Pemindahan Ibukota, Langkah Terbaik

AMBON,AE— Rencana pemindahan ibu kota provinsi Maluku ke Makariki, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, dinilai tepat, sebagai program jangka panjang untuk mengurangi kepadatan di kota Ambon.

Pemerintah pun diingatkan, mempertimbangkan kembali rencana pembangun gedung kantor gubernur di Batu Koneng, desa Poka. Sebab, selain tidak efektif mengurangi kepadatan, juga menunjukan pemerintah tidak konsisten. Sementara, sudah banyak uang daerah yang digunakan untuk menyiapkan lahan di Makariki.

Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Amelia Tahitu mengemukakan, tidak mudah memindahkan ibu kota provinsi Maluku. Banyak hal, mulai dari infrastruktur hingga sarana dan prasanara lain harus dipertimbangkan. Namun, bila itu dilakukan dengan maksud mengurangi kepadatan di kota Ambon, menjadi suatu keharusan.

“Karena, lahan di kota Ambon tetap, tapi jumlah penduduk terus bertambah. Perlu solusi. Salah satunya, ya ibu kota provinsi dipindahkan ke Makariki. Tapi, itu program jangka panjang, karena harus mempersiapkan banyak hal,” kata Tahitu, Selasa(2/2).

Dia mengaku, heran dengan rencana yang baru dari pemerintah, yang ingin membangun kantor gubernur Maluku di Batu Koneng. Ini rencana yang dinilainya tidak efektif untuk mengurangi kepadatan di pusat kota Ambon. Justeru, membuat kepadatan baru di sekitar lokasi yang baru, Batu Koneng.

“Sebaiknya di Makariki saja. Kalau mau bangun kantor gubernur di Ambon lagi, berarti rencana pemindahan ibu kota di Makariki dimentahkan lagi. Kenapa mau ke Batu Koneng. Lebih baik di Pulau Seram, yang masih luas. Lebih bagus. Lahannya masih luas,” ujarnya.

Kalau gedung kantor dibangun di Batu Koneng, itu hanya program jangka pendek. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kantor gubernur yang baru sudah dapat dimanfaatkan oleh aparatur sipil negara. Ini berbeda dengan pemindahan ibu kota ke Makariki yang tentu harus melalui persiapan yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena banyak kantor yang harus dibangun di sana.

Tapi, manfaat pembangunan kantor gubernur di Batu Koneng tidak akan bertahan lama, karena perhatian masyarakat akan juga tertuju di sana. Kemacetan bisa terjadi di ruas-ruas jalan di sekitar lokasi itu, ditambah makin padatnya pemukiman sebagai akibat dari pertumbuhan usaha kecil di sekitar lokasi aktivitas pemerintahan di sana.

“Hanya mungkin, pemerintah berfikir, rentang kendali juga ( kalau pindah di Makariki). Tapi, kalau rencana pindah itu terlaksana, sementara kantor gubernur sudah dibangun di Batu Koneng, kan tida tepat juga. Semua fasilitas, terutama perkantoran sebagai simbol kehadiran pemerintahan juga harus dibangun di sana (Makariki),” katanya.

Sehingga, lanjutnya, pemerintah tentu harus konsisten dalam melanjutkan rencana sebelumnya, memindahkan ibu kota provinsi di Makariki. Dengan begitu, pemerintah lebih fokus dalam mempersiapkan segala hal. “Kalau pemerintah mau serius untuk jangka panjang, lebih baik di sana (Makariki),” tegasnya.

Akademisi lain dari Universitas yang sama, L. Samson mengemukakan, pemindahan ibu kota provinsi menjadi solusi yang baik untuk mengurangi kepadatan di kota Ambon. Pemerintah sebaiknya fokus pada rencana awal, agar tidak membuang-buang waktu dan menggunakan uang daerah untuk rencana pembangunan kantor gubernur di Batu Koneng.

Samson menjelaskan, memindahkan ibu kota provinsi Maluku tidak hanya dengan membangan sarana dan prasana pemerintahan yang baru di sana. Tapi, pemerintah juga harus lebih memperbaiki sarana dan prasarana transportasi ke ibu kota yang baru nanti. “Karena itu, sebaiknya dari sekarang pemerintah fokus ke Makariki. Supaya persiapannya lebuh matang,” katanya.

Samson mengatakan, bila pemerintah berobsesi membangun kantor gubernur di Batu Koneng, bisa menjadi indikasi bahwa pemerintah membatalkan rencana awal yang dibuat pada masa kepemimpinan gubernur Karel Albert Ralahalu.

“Dan kalau bangun kantor gubernur di Batu Koneng, sepertinya kurang tepat. Karena, kita lihat dari tujuan, mengurangi kepadatan. Batu Koneng, kan masih di masuk kota Ambon. Nanti ada kepadatan lagi di sana. Setelah itu, apakah mau bangun kantor gubernur yang di tempat lain lagi. Ini, kan repot,” ungkapnya.(MAN)

Most Popular

To Top