Lahan Emas Disasi Warga – Ambon Ekspres
Trending

Lahan Emas Disasi Warga

AMBON,AE— Penambangan emas di Pulau Rombang, Maluku Barat Daya oleh PT Gemala Borneo Utama (GBU) tak pernah selesai. Setelah masalah lingkungan dan ganti rugi, kini muncul polemik kepemilikan lahan. Ahli waris mata rumah Wyatu melakukan sasi diatas lahannya, karena diserobot PT GBU untuk produksi emas tanpa persetujuan.

Ahli waris mata rumah atau petuanan Wyatu, Samson Lendhers kepada wartawan di Ambon, Jumat (12/3) mengatakan, luas lahan milik petuanan Wyatu yang diserobot PT GBU untuk melakukan eksploitasi emas sekitar 2 hektare (ha). Namun, lanjut dia, lahan tersebut diklaim oleh Chris Johan dan Librek Johan selaku ahli waris mata rumah Oirleta sebagai milik mata rumah Orleta.

Dengan klaim itu, Chris dan Librek memberikan jaminan kepada PT GBU untuk melakukan eksploitasi. Bahkan ganti rugi tanaman warga sudah dibayar. “Sekarang, sesuai informasi yang saya dapat, masyarakat Orleli yang sudah mendapatkan uang dari PT GBU, mau tidak mau harus produksi. Tapi, saya selaku pemilik lahan sudah melakukan sasi. Karena itu, saya meminta pemerintah memperhatikan dengan serius masalah ini,” kata Samson.

Sasi merupakan larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun nabati) alam tersebut. Samson mengaku, sejak eksplorasi tahun 2008 hingga rencana eksploitasi atau produksi 2016, tidak ada koordinasi dengan dirinya. Baik dari pemilik lahan dari mata rumah Orleta, pemerintah daerah maupun PT GBU.

“Sampai saat ini saya tidak dikoordinasikan, baik oleh pemerintah daerah maupun PT GBU, dan Chris Johan selaku pemilik lahan lainnya dari mata rumah Orleta. Mereka adalah anak adat, karena itu mereka harus tahu apa yang mesti mereka lakukan,” ungkapnya.

Menurut dia, Chris dan Librek telah melakukan pembohongan terhadap PT GBU dan pemerintah dengan mengatakan bahwa lahan produksi emas merupakan milik ahli waris mata rumah Orleta saja. Dia juga mengaku, kecewa dengan pemerintah daerah yang tidak lagi melakukan verifikasi informasi sebelum mengeluarkan izin eksploitasi.

“Pemerintah daerah, baik provinsi maupun MBD juga harus memverifikasi kebenaran informasi dari Chris dan Librek soal lahan eksploitasi emas di Oirleli. Ini kan penipuan oleh keduanya kepada pemerintah dan PT GBU,”ucapnya.

Dia melanjutkan, dalam waktu dekat akan digelar sidang adat di desa Hila untuk meminta klarifikasi klaim kepemilikan lahan dari Chris Johans dan Librek Johans. Jika setiap klaim yang disampaikan salah, maka akan dikenai sanksi adat yang serupa hukum mati dalam konteks hukum negara atau hukum positif.

Ketua mahasiswa Romang, Caken Ishack Knyarlai mengatakan, sesuai keterangan yang didapatkan dari pemangku adat tertinggi di Pulau Romang, Wilhelmus Johans beberapa hari lalu saat bertemu, tidak semua lahan yang dijadikan lokasi eksploitasi adalah milik mata rumah Orleta. Sehingga, jika Chris maupun Librek mengaku masyarakat sudah setuju, adalah pembohongan.

“Kebetulan beberapa hari lalu saya bertemu dengan pemangku adat tertinggi di Pulau Romang, Wilhelmus Johans dan beliau menyampaikan hal itu. Jadi, sebagian tanah di lokasi yang dipatok oleh perusahaan adalah milik mata rumah lain dalam hal ini Orleta dan Uyatu. Namun, secara sepihak Chris Johans mengaku kepada PT GBU bahwa daerah itu milik mata rumah Orleta. Itu adalah pembohongan,”kata Ishack.

Atas klaim Chris dan Librek, kata dia, masyarakat Oirleli dan keluarga mata rumah Uyatu melakukan sasi terhadap lokasi yang dijadikan lokasi produksi tambang emas oleh PT GBU tersebut. Sasi dilakukan sejak minggu lalu di petuanan Wyatu, Dusun Oirleli.

Tidak Dipandang
Sementara itu, Tokoh masyarakat Pulau Romang, Oyang Orlando Petruz menilai, aktivitas tambangan emas oleh PT GBU atas jaminan segelintir orang yang mengklaim sebagai ahli waris, termasuk tindakan penyeborotan.

Namun, menurut dia, pemerintah provinsi Maluku dan Maluku Barat Daya seakan mengganggap sepeleh permasalahan tambang di Pulau Romang. Sebab, selama ini tidak ada penyelesaian secara tuntas terhadap sederet persoalan disana.

“Tahun 2012, terjadi pembakaran terhadap camp-camp PT GBU, karena masyarakat kecewa. Lalu, masyarakat didatangi oleh aparat kepolisian dan ditangkap. Dan ini sudah berulang kali terjadi. Bahkan, sempat menjadi isu nasional dan internasional. Tapi, selalu didiamkan. Tidak ada penyelesaian kompeherensif,” ungkap dia.

Orlando mengemukakan, terdapat banyak referensi terkait silang pendapat dan potensi konflik dari akibat penambangan emas oleh PT GBU di Pulau Romang.”Kecaman dan seruan ini selalu disampaikan. Aksi unjuk rasa di jalanan sering dilakukan. Namun, seakan-akan sepi perhatian dari pemerintah daerah,” keluhnya.

Dia mengaku, masyarakat dan ahli waris pemilik lahan tidak menginginkan PT GBU merugi. Namun, dalam proses eksplorasi hingga eksploitasi nanti, pihak perusahaan dan pemerintah harus menghargai hak-hak adat pemilik lahan.

Kepala Dinas ESDM provinsi Maluku, Martha Nonlohy yang dikonfirmasi via sms terkait keluhan ahli waris petuanan Wyatu tersebut, belum menanggapinya. Sementara Kepala Perwakilan PT GBU di Ambon, Ghea Sinai saat dikonfirmasi mengaku, tidak ada sasi.”Selamat sore, barusan saya konfirmasi ke Romang. Mereka katakan tidak ada sasi. Terima kasih,”singkat Ghea via sms, Minggu (14/2).

Namun, saat Ambon Ekspres melakukan konfirmasi langsung dengan salah satu keluarga pemilik lahan di petuanan Wyatu di dusun Oirleli, Alex Lendhers, mengaku, benar jika ada sasi. Sasi telah dilakukan semiggu lalu. “Iya, betul ada sasi. Sasi sudah dilakukan satu minggu lebih,”kata Alex via seluler, Minggu (14/2).

Alex mengaku, sasi terpaksa dilakukan, karena lokasi yang dikapling PT GBU untuk eksploitasi emas telah memasuki wilayah petuanan Wyatu. Selain itu, tidak ada koordinasi dan pemberitahuan dari ahli waris petuanan Orleta yang wilayahnya juga dijadikan lahan produksi, dengan ahli waris petuanan Wyatu.

“Alasan kami, karena lokasi yang dipatok sudah memasuki wilayah petuanan Wyatu. Tapi, tidak ada pemberitahan kepada kami selaku pemilik petuanan Wyatu. Luas dan lebarnya sekitar 2 hektar,”ungkapnya.(TAB)

Most Popular

To Top