Menristekdikti Nodai Demokrasi Unpatti – Ambon Ekspres
Trending

Menristekdikti Nodai Demokrasi Unpatti

Jakarta, AE— Gerakan Pemuda Peduli Rakyat Indonesia (Gempari) menilai Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Muhammad Nasir telah menodai demokrasi karena telah memilih rektor Univeritas Pattimura (Unpatti) dengan perolehan suara terendah.

“Padahal calon rektor dengan suara tertinggi Prof Tomas Pentury. Tapi yang dipilih Menristekdikti Prof MJ Sapteno,” ujar Ketua Gempari, Alfian Ramadhani, saat berunjuk rasa di depan Gedung Kementerian, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, di Jakarta (15/2).

Sekadar informasi, Unpatti telah selesai menyelenggarakan pemilihan rektor. Pemilihan ini berlangsung demokratis dengan dipilih para senat. Dari 95 suara yang terdiri dari 62 suara anggota senat Unpatti dan 32 Menristekdikti, Prof. Dr. M. J. Sapteno berhasil meraih 44 suara.

Dia mengungguli Prof. Dr. Thomas Pentury yang memperoleh 37 suara. Sementara Prof. Dr. Tonny Pariella memperoleh 13 suara. Satu surat suara tidak digunakan karena salah satu anggota Senat tidak hadir.

Pada pemilihan tahap pertama, 60 dari 62 suara anggota senat Unpatti memilih Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si, 21 suara, disusul Prof. Dr. M. J. Sapteno, SH., M.Hum, 16 suara, Prof. Dr. Tonny Donald Pariela, MA, 13 suara dan Prof. Dr. Ir. Alex S. W. Retraubun, M.Sc., 10 suara.

Alfian mengatakan, pemilihan rektor di berbagai universitas merupakan kegiatan suci dalam menentukan arah pembelajaran di bangku kuliah. Sebab, suka atau tidak, rektor terpilihlah yang akan mengambil kebijakan selama periodenya berlangsung.

“Kalau dulu pemilihan rektor hanya mengacu kepada pemerintah. Sehingga bisa dikatakan rektor merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah,” cetusnya.

Namun, Alfian menyebut di era demokrasi saat ini, mahasiswa melalui senat sebagai pelaku kegiatan belajar mengajar di kampus sangat tepat menentukan pemimpin di kampusnya.

Alfian mengatakan, selama ini pemilihan rektor secara demokratis sangat jelas terlihat. Sistem pemilihan melalui keran-keran demokrasi mulai terbuka.

“Karena dengan sistem tersebut pemilihan rektor yang dahulu murni perpanjangan tangan pemerintah kini mulai mempertimbangkan peran internal kampus dan tokoh masyarakat setempat,” katanya.(jpnn)

Most Popular

To Top