Dendam Jadi Pemicu Konflik – Ambon Ekspres
Trending

Dendam Jadi Pemicu Konflik

AMBON,AE— Kasus pembunuhan warga antar desa di Maluku hingga kini belum dapat diselesaikan secara komprehensif. Disisi lain, korban terus berjatuhan. Namun, para pelaku sulit ditangkap. Hal ini dinilai bisa menimbulkan rasa dendam antar kampung yang bertikai.

Kasus pembunuhan di Maluku, baik akibat konflik komunal maupun dilakukan oleh individu sering terjadi. Hampir setiap tahun. Namun, aparat kepolisian sulit meringkus para pelaku.
Seperti kasus pembunuhan terhadap Benyamin Lekahena (60), warga Desa Abubu,

Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), beberapa waktu lalu. Sejumlah saksi yang diperiksa belum ada satupun bukti kuat yang dapat mengarah ke pelaku.

Pada November 2015, juga terjadi pembunuhan terhadap Abdul Karim Pikal alias Luki warga Negeri Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Malteng ditemukan tewas. Diduga dia tewas akibat bom yang dilempar oleh orang tak dikenal.

Pegiat perdamaian Maluku, DR Abidin Wakano mengatakan, dalam teori konflik, kekerasan akan melahirkan kekerasan jika tidak ada penegakan hukum para pelaku kekerasan. Ini disebabkan adanya rasa ketidakpuasan, sehingga balas dendam sudah menjadi hukum rimba.

“Kalau pelaku tidak ditahan dan tidak ada tindakan hukum, maka tindakan itu bisa menjadi sebuah kebiasaan, sebuah aksi yang berulang-ulang. Tidak ada penegakan hukum, maka tidak ada efek jerah. Berikutnya, karena ketidakpuasan, melahirkan aksi balas membalas.

Dalam teori konflik disebutkan, kekerasan akan selalu melahirkan kekerasan baru. Dan itu biasa berulang-ulang,”kata Abidin kepada Ambon Ekspres melalui telepon genggam, Senin (29/2).

Sulitnya penegakan hukum, lanjut Abidin, disebabkan, telah terbentuknya komunalisme antar kampung. Sehingga, masyarakat dua desa yang bertikai, maupun secara individu dengan beda desa, cenderung tertutup. Tidak mau menyampaikan apa yang dilakukan oleh pelaku kekerasan (pembunuhan) kepada aparat kepolisian.

“Masyarakat kita ini kan hidup dalam komunalisme, baik in grup dan atau out grup, antara katong dan dong. Dalam teori konflik jika terjadi akan terumus siapa lawan dan siapa kawan atau dong dan katong (mereka dan kita) antar desa.

Ketika sudah terbentuk perasaan ‘kita dan mereka’, maka selalu ada kecenderangan setiap kelompok untuk menutup-nutupi, sehingga hal itu membuat aparat keamanan agak sulit juga dalam melakukan tindakan hukum atau mencari tahu siapa pelakunya,” terangnya.

Tapi menurut Direktur Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) Maluku itu, kecenderungan warga untuk menutupi identitas pelaku, dan mandeknya proses hukum, juga tak selamanya menjadi alasan bagi aparat. Apalagi kasus-kasus pembunuhan di Maluku sering terjadi dan memantik dendam antar desa atau kampung.

“Kita tidak bisa menjadi itu alasan. Saya pikir negara harus betul-betul hadir dalam konteks memberikan kepastian hukum terhadap pelaku kekerasan,”kata dia.

Bagaimana peran tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk mencegah konflik komunal yang disebabkan kekerasan secara individu, menurut dia, sudah dilakukan. Hanya saja, belum maksimal dengan metode yang tidak efektif.

“Raja-raja itu kan punya kekuatan adat yang kuat. Namun terkadang, dia tidak punya kreatifitas dalam mengelola konflik. Memang kalau dulu itu kan sering mengikuti pendidikan dan pelatihan resolusi konflik. Tapi, sebagian raja kan sudah meninggal. Ada yang sudah digantikan. Sekarang banyak yang baru, sehingga perlu ada lagi kegiatan tersebut. Perlu ada pendidikan dan pelatihan resolusi konflik,”paparnya.

Anggota komunitas Non Violence Study Cyrcle (NVSC) Firman Rahyantel menilai, secara otomatis akan terjadi saling dendam antar desa jika para pelaku pembunuhan tidak ditangkap. Dendam ditimbulkan oleh rasa saling curiga dan sentiment.

“Pisikologi masyarakat kita cenderung kuat melihat konfik pada kesamaman identitas dan mengabaikan motif pembunuhan serta keterlibatan pelaku dan korban. Pelaku berasal dari desa A, misalnya, merasa identitas yang sama sehingga perlu dibela.

Begitupun sebaliknya, desa korban pun merasa identias yang sama sehingga merasa perlu membela. Maka, terciptalah rasa dendam antar desa,”urai Firman.

Menurut dia, konflik antar desa di Maluku saat ini yang cenderung bertahan lama karena persoalan Sosial identity (identitas sosial), prasangka, curiga, kecemburuan sosial dan lainnya.

“Saya analogikan ini seperti bongkahan es di laut, yang nampak hanya sedikit seperti kekerasan berujung pembunuhan, identitas sosial. Tapi yang tak tampak merupakan akar masalah seperti prasangka, kecurigaan, kecemburuaan, dan lain-lain. Ini cenderung terabaikan dalam penyelesaian konflik di desa. Kita cenderung melihat ketika masyarakat sudah tak berkelahi lagi itu berarti aman,”kata dia.

Solusinya, lanjut dia, upaya rekonsiliasi perlu dilakukan segera uuntuk pencegahan. Baik lewat tetua adat, pemerintah desa, antar kedua desa perlu duduk bersama untuk membicarakan solusinya.

“Hal ini perlu di mediasi oleh pihak ketiga. Pihak ketiga harus benar-benar independent, baiknya lihat yang berwajib. Tapi saran saya proses mediasi bukan saja disitu tapi upaya pihak berwajib dan pemerintah harus mengawal terus,”tukasnya.

Sementara itu, AKP Theodorus Priyo Santosa, Kasat Serse dan Kriminal Polres Pulau Ambon dan PP.Lease, menjelaskan, terkait dengan rentetan kasus pembunuhan, berimbas pada keterlibatan kelompok maupun antar desa, sulit terungkap, karena tidak ada keterbukaan, kemudiaan saling menutupi.

“Aparat kepolisian kesulitan dalam mengungkap pelaku dalam kasus-kasus pembunuhan kemudian menyeret antar desa. Dari pengalaman kita, untuk kasus-kasus seperti ini, sulit kita ungkap karena keterbatasan saksi, kebanyakan tidak melihat kejadiaan secara langsung,” kata Theodorus, Senin (29/2).

Dia mencontohkan kasus pembunuhan terhadap Benyamin Lekahen (60), warga Desa Abubu, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), beberapa waktu lalu.

Sejumlah saksi yang diperiksa belum ada satupun bukti kuat yang dapat mengarah ke pelaku.
Menurut dia, terkait kasus ini, dari keterangan warga maupun data yang sudah dikantongi, pihaknya belum bisa mengungkap pelaku pembunuhan sadis tersebut. ”Dari enam saksi yang kita mintai ketarangan, mereka ini tidak ada yang melihat kejadiaan secara langsung,” ucapnya.

Selain kasus ini,lanjut Theodorus, juga kasus tewas Abdul Karim Pikal alias Luki warga Negeri Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Malteng. Diduga dia tewas akibat bom yang dilempar oleh orang tak dikenal, Minggu tanggal 8 November 2015 sekitar pukul 11.30, yang hingga kini, siapa pelakunya juga belum diketahui.

”Keterbukaan dari warga penting, untuk bisa membantu kita dalam mengungkap kasus-kasus seperti ini.Kita juga sangat berharap agar persoalan seperti ini jangan sampai dibawah lagi ke persoalan kelompok. Karena Ini murni pidana, kasus-kasus yang belum terungkap kita tetap berupaya untuk menyelesaikan,” katanya.(TAB/EMR)

Most Popular

To Top