Kisah Masyarakat Katapang-Ariate Sebelum Angkat Pela – Ambon Ekspres
Trending

Kisah Masyarakat Katapang-Ariate Sebelum Angkat Pela

Diserang Hingga Dicap Sebagai Pengikut RMS

Gerakan DR. Soumokil dan pasukannya untuk mendirikan negara Republik Maluku Selatan (RMS) membuat masyarakat Katapang dan masyarakat Ariate turut menderita. Korban jiwa berjatuhan, kampung dibumihanguskan.

Masyarakat mengungsi, tapi cobaan bertubi,  mereka dicap mengikuti misi RMS, lalu disasar pasukan TNI. Namun, komitmen pada NKRI tidak goyah.  Perasaan senasib membuat mereka lalu menyatu dalam ikatan Pela  dan membuktikan bahwa mereka bukan penghianat  bangsa.

Di saat orang di tempat lain sibuk mengamati Gerhana Matahari Total (GMT) pada, Rabu (9/3),  masyarakat dusun Katapang Miring, desa Loki,  kecamatan Huamual dan masyarakat desa Ariate, kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat larut dalam kesibukan, menyiapkan prosesi adat panas Pela  antara masyarakat kedua dusun/desa  itu  yang terjalin sejak tahun 1958.

Hari menjelang siang, Matahari diatas langit dusun Katapang yang luput dari peristiwa GMT, leluasa menyorotkan sinarnya ke bumi. Dari atas kapal Siwalima pada pukul 11:30 Wit, terlihat ratusan orang telah memadati bagian darat dermaga Katapang.

Sementara diatas dermaga, berdiri bupati kabupaten SBB Jacobus Puttileihalat dan wakilnya La Husni. Bupati kabupaten Buru Ramli Umasugi juga terlihat di sana, menyambut gubernur Maluku, Said Assagaff dan rombongan yang datang dalam rangka panas Pela masyarakat dusun Katapang desa Loki dengan masyarakat desa Ariate.

Setelah dengan sedikit  berhati-hati   berjalan diatas papan kayu lantai  dermaga yang tidak lagi kokoh itu, rombongan gubernur tiba di darat dan disambut 30 perempuan paruh baya berbaju cele yang sedari tadi berdiri membentuk barisan, lalu  menyanyikan lagu tentang ikatan Pela.

Sementara sejumlah warga dan petugas keamanan terus menertibkan warga agar tidak menghalangi jalan yang akan dilalui rombongan gubernur menuju Baileo dusun Katapang, tempat proses adat panas pela.

Sebelum sampai di Baileo, rombongan gubernur dihadang  tujuh anak laki-laki bertelanjang dada, bercelana pendek, kain merah diikat di kepala,  parang panjang khas Maluku yang terbuat dari belahan kayu digenggam dengan tangan kanan dan Salawaku (Senjata perisai tradisional) di tangan kiri.

Mereka berdiri tegap dengan tatapan tajam ke depan, layaknya pasukan perang yang siap tempur. Setelah mendapat aba-aba, mereka pun berlari menuju rombongan gubernur sambil berteriak dan langsung mempertontonkan tarian Cakalele.

Tidak lama setelah rombongan gubernur masuk ke dalam Baileo tak berdinding itu, menyusul beberapa tetua adat Katapang berjubah putih  panjang dan kopiah putih serta tetua adat  Ariate berjubah  hitam panjang, membawa air yang dijadikan sebagai simbol  ikatan Pela masyarakat kedua desa/dusun.

Air  yang  diambil dari sumur tua di Ariate itu disakralkan dengan doa yang dibaca secara Kristen oleh pemuka agama di  Ariate dan doa secara Islam oleh pemuka agama di Katapang.
Tiba di depan Baileo, Tahuri (Terompet) ditiup, diikuti teriakan kata-kata petuah oleh tetua adat Ariate dan Katapang secara bersahutan menggunakan bahasa masyarakat kedua desa/dusun tentang makna ikatan Pela. “Air itu sudah didoakan, jam 12 tadi malam (Selasa malam),” ungkap salah satu warga Katapang, La Iru.

Sementara di dalam rumah mantan kepala kampung Katapang, Taher Bin La Ambo (Alm), tepat di depan Baileo, tokoh agama, tokoh  adat dan tokoh  masyarakat Katapang, sedang duduk bersila. Empat pemuda bertelanjang dada dengan  parang di tangan, berdiri tegap  di samping kanan dan kiri pintu rumah itu.

Dari dalam rumah, para tokoh  kampung Katapang itu lalu keluar, bergabung dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Ariate, berdiri berjejar menghadap sebuah meja dengan tinggi dan panjang sekitar 1/2 meter. Diatas meja yang telah ditutup kain putih ini, diletakakan Baskom berisi  air sakral.

Ritual adat pun dimulai,  disaksikan langsung oleh gubernur Maluku, bupati SBB dan bupati Buru. Kalimat demi kalimat adatis dan relegius dilontarkan salah satu tokoh adat yang memandu prosesi tersebut.

“Air ini saya berikan, sebagai kelanjutan tanggung jawab saudara berdua untuk melaksanakan bagi anak cucu Ariate-Katapang,” ujar sang pemimpin prosesi ritual  sembari menyerahkan gelas berisi air sakral kepada Kepala desa Ariate, Benny Suripatty.“ Diterima”, jawab Benny Suripatty lalu meneguk semua isi gelas itu. Giliran selanjutnya, kepala dusun Katapang, Arsyad Syukur, meminum air itu.

Semua orang yang hadir, larut dalam suasana prosesi adat yang sakral dan dilatari sejarah masa  kelam masyarakat kedua desa/dusun itu. Beberapa warga Ariate dan Katapang terlihat menundukkan  kepala di tengah kerumunan orang itu lalu menyeka air mata mereka.

Beberapa diantaranya bahkan berteriak  histeris, sebagai puncak dari perasaan sedih, mengenang betapa menderitanya para pendahulu mereka akibat menjadi sasaran gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) bentukan  Mr. Dr. Christian Robert Steven Soumokil pada tanggal 25 April 1950.

Saat itu, DR. Soumokil ingin menjadikan pulau Seram, pulau Ambon, kepulauan Lease, kepulauan Banda, kepulauan Buru, serta Maluku Tenggara sebagai wilayah RMS, keluar dari negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Namun keinginan itu tidak mendapat dukungan dari masyarakat, termasuk masyarakat kampung Katapang yang tetap setia pada NKRI.

Pernah diminta oleh pemerintah untuk mengungsi ke Ternate karena pulau Seram dan pulau Ambon dijadikan sebagai daerah operasi militer (DOM), menumpas gerombolan RMS, namun masyarakat Katapang memilih bertahan di kampung mereka.

Kenyataan pahit mulai dirasakan masyarakat Katapang.  Tepat  tanggal 16 Mei 1950, pasukan RMS yang dikenal dengan sebutan Baret, menyerang kampung mereka. Rumah-rumah penduduk dibakar, warga dibantai, sebanyak 16 warga meningal dunia, 20 orang luka-luka.

Pelaksana tugas kepala kampung Katapang,  Muhamad Noer bin La Ambo ditangkap, disiksa lalu dibawa ke Batu Capeo, pulau Ambon. Kemudian  dibawa ke pantai Liang, Maluku Tengah. Di sana, Ia dibunuh bersama pimpinan pemuda merah putih pulau Ambon, Wem Lewarauw.

Meninggalnya putra mahkota Muhamad Noer bin La Ambo, roda pemerintahan kampung   Katapang kemudian dikendalikan oleh Taher Bin La Ambo. Setelah penyerangan itu, masyarakat Katapang hidup dalam bayang-bayang ketakutan, bila kampung mereka kembali diserang.

Negeri-negeri lain di pulau Seram juga tidak luput dari gerakan RMS. Salah satunya negeri Kaibobo yang dibumihanguskan  pada tanggal 11 Oktober 1950. Masyarakat Kaibobo menyelamatkan diri dengan perahu, tujuan mereka adalah pesisir Jazirah Huamual, diantaranya   tanah Ariate. Mereka terus mencari tempat pengungsian yang aman dan nyaman. Tibalah merekadi kampung Katapang.

Selama di sana, mereka diperlakukan dengan baik oleh masyarakat Katapang. Namun, mereka tidak bisa berlama-lama karena situasi keamanan kampung Katapang juga tidak kondusif. Sehingga, mereka melanjutkan perjalanan ke negeri Luhu,  berbekal sagu, pisang, ubi-ubian seadanya yang diberikan masyarakat Katapang.

Situasi keamanan yang buruk membuat masyarakat Katapang menyusul ke negeri Luhu pada  awal tahun  1951.  Mereka mengungsi bersama masyarakat Kaibobo di sana. Perasaan senasib masyarakat dua kampung kian kuat. Di pengungsian, mereka memperkokoh rasa solidaritas dengan saling berbagi dan membantu di setiap kesulitan.

Setelah situasi keamanan kembali membaik, sebagian masyarakat Kaibobo kembali ke negeri mereka. Sementara, 40 kepala keluarga lainya memilih menetap di tanah Ariate yang belakangan disahkan sebagai kampung oleh bupati pertama Maluku Tengah Abdullah Soulisa, lalu menjadi desa itu.

Namun, bayang-bayang ketakutan belum juga hilang sepenuhnya. Bahkan, masyarakat Kaibobo yang telah mendiami tanah Ariate dicari oleh pasukan TNI juga karena dicurigai sebagai pengikut gerakan separatis RMS. Hari-hari mereka kembali dihantui ketakutan karena menjadi sasaran operasi militer TNI.

Sementara masyarakat Katapang masih menjadi incaran RMS, teror dilancarkan bahwa kampung Katapang miring akan dibakar dan masyarakat akan dibantai, membuat masyarakat Katapang Miring panik tidak sedikit yang keluar, hijrah meninggalkan kampung halamannya.

Melihat situasi keamanan yang tidak menentu, kepala kampung Ariate, Salmon Kuhupurauw dan kepala  kampung Katapang Miring, Taher Bin La Ambo yang telah akrab, melakukan pertemuan empat mata di Piru. Keduanya mencari solusi agar masyarakat Ariate dan masyarakat kampung Katapang Miring dapat hidup aman dan tentram.

Dari pertemuan rahasia itulah, muncul ide untuk mempersaudarakan masyarakat kampung Ariate dan masyarakat kampung Katapang Miring melalui ikatan Pela. Keduanya yakin  bahwa dengan ikatan Pela, masyarakat Ariate dan masyarakat Katapang tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Pela dapat meyakinkan TNI bahwa masyarakat Ariate bukan pengikut RMS, karena telah dipersaudarakan lewat angkat Pela dengan masyarakat Kampung Katapang. Apalagi ini adalah Pela dua komunitas berbeda, Islam dan Kristen.

Sebagai tahap awal mendekatkan msayarakat dua kampung, kedua pemimpin mengawali dengan program di bidang olahraga, yaitu pertandingan sepak bola. Klub  Ariate  dikomandoi  Gasper Puttileihalat. Sementara keseblasan Katapang  dipimpin oleh La Saadia. Rencana angkat Pela pun tersiar di kalangan masyarakat kedua kampung dan mendapat sambutan positif masyarakat.

Tepat hari Sabtu tanggal  25 Februari 1958, prosesi angkat Pela pun dilaksanakan di lapangan Ariate  menggunakan air yang diambil  dari air sumur Esuei, sumur tua di Ariate sebagai perekat mereka. Air itu disakralkan dengan doa menurut ajaran agama Kristen oleh ketua Majelis Ariate, Andanas Riry lalu diserahkan kepada kepala  kampung untuk  diambil sumpah  dengan  bahasa  Kaibobo yang  artinya “ berjalan di hutan kayu roboh, di laut jatuh dari perahu, main di sungai buaya makan”.

Air itu lalu dibagi menjadi dua bagian dan diminum bersama masyarakat Ariate dan beberapa tokoh masyarakat Kampung Katapang Miring yang hadir. Sebagian lagi  dibawa  ke Baileo kampung Katapang untuk disakralkan dengan doa  menurut ajaran agama Islam yaitu pembacaan surat Yasin oleh tokoh agama Katapang, La Gusi dan pembacaaan doa oleh Datok Payapo.

Ikatan Pela antara dua kampung itu adalah jenis Pela keras, Pela sumpahan dengan  empat aturan dasar,  yaitu  masyarakat Ariate dan masyarakat Katapang Miring berkewajiban saling membantu dalam keadaan genting, diantaranya bencana alam dan peperangan.
Terakhir, diminta atau tidak diminta oleh masyarakat Kampung Katapang miring untuk mengerjakan sarana umum seperti Masjid, sekolah, Baileo maka masyarakat Ariate berkewajiban untuk membantu. (***)

Most Popular

To Top