Saling Sikut Berebut Posisi Dirut BM – Ambon Ekspres
Trending

Saling Sikut Berebut Posisi Dirut BM

Pengakuan Soal Fee Dibantah

AMBON,AE— Di saat kasus dugaan mark up anggaran pembelian tanah dan gedung untuk pembukaan kantor bank Maluku di Surabaya telah naik ke tahap penyidikan,  aroma lain menyeruak dari bank pelat merah itu.

Ada kelompok tertentu yang  ingin merebut jabatan Direktur Utama dari Idris Rolobessy dengan mendorong pengusutan kasus ini dipercepat, sebab akan ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada bulan April nanti.

Kendati menduduki jabatan Direktur Utama, Idris Rolobessy seperti tidak berdaya menghadapi ‘serangan’ kelompok besar dalam bank milik pemerintah daerah Maluku dan pemerintah daerah Maluku Utara itu. Mereka tidak rela, Idris Rolobessy terlalu lama menjadi orang nomor satu di bank Maluku, sebab dia tidak sejalan dengan mereka.

Upaya kelompok ini semakin intensif menjelang akhir bulan Maret. Ini dilakukan menyongsong RUPS yang direncanakan digelar pada bulan April. Bila  jaksa lebih cepat menetapkan tersangka, apalagi bila yang menjadi tersangka adalah Idris Rolobessy, maka jalan bagi mereka merebut kursi Dirut terbuka lebar.

Sebab, bila penetapan tersangka sebelum RUPS digelar dan bila Rolobessy ikut menjadi tersangka maka Rolobessy akan dibebas-tugaskan. Sehingga, pengisian  jabatan Dirut juga akan dibicarakan dalam RUPS tahunan itu nanti.

“RUPS tahunan itu untuk membahas laporan tahunan, perkembangan bank dalam satu tahun terakhir, serta membicarakan manajemen dan struktur. Sekarang Komisaris dan dan Direksi  belum lengkap, itu akan dibicarakan juga. Kalau jabatan Dirut juga akan kosong, pasti dibicarakan juga. Saya yakin, bukan Plt yang diangkat tapi Dirut defentif yang baru,” kata sumber terpercaya Ambon Ekspres dari bank Maluku, Senin (28/3).

Siapa yang dipersiapkan untuk menggantikan Idris Rolobessy?, sumber yang mewanti-wanti namanya tidak ditulis ini menyebut nama Aletha da Costa.  Direktur Pemasaran bank Maluku itu  didukung sejumlah petinggi lain untuk menjalankan  misi tersebut.

“Itu kelompok besar di bank Maluku. Makanya, coba perhatikan, kenapa progres  kasus gedung  di Surabaya  berjalan cepat, tapi kasus Repo terkesan lamban. Karena ada dorongan kuat dari dalam bank. Ya, kelompok itu,” beber sumber itu.

Dugaan adanya dorongan kepada jaksa untuk mempercepat pengusutan kasus tersebut  semakin terlihat dengan adanya pengakuan beberapa petinggi bank Maluku tentang aliran dana fee kepada mereka.

Direktur Kepatuhan  bank Maluku, Izaak Thenu misalnya. Dia disebut-sebut mengaku dihadapan penyidik bahwa sempat diberikan uang Rp250 juta oleh rekanan bank Maluku,  Hentje Abraham Toisuta, sebagai fee dari hasil pembelian  gedung itu, namun dia menolaknya.

Padahal, kata sumber, pengakuan Izaak Thenu tersebut tidak mendasar. Hentje Abraham Toisuta pun telah mengkonfirmasi  hal itu  kepada Izaak Thenu. “Dan dia ( Izaak Tehenu) bilang, tidak pernah bilang seperti itu. Ada rekamannya itu,” ungkap sumber ini.

Hentje Abraham Toisuta yang dikonfirmasi, tidak ingin berpolemik tentang masalah tersebut, kendati hasil konfirmasinya  dengan Izaak Tehenu benar adanya.

Saat ini, dia sedang fokus pada laporannya di Polisi tentang dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan mantan Kepala Devisi Umum dan Hukum, Eddy Sanaky yang menyebut menerima Rp250 juta  dari  dirinya.

“Nanti saja. Pokoknya sudah ada laporan ke Polisi, di Polres Ambon,” katanya  ketika ingin  dikonfirmasi lebih jauh tentang masalah tersebut.

Sementara itu, Kuasa Hukum Serikat Pekerja Bank Maluku, Mourits Latumeten menegaskan, sejak awal, pihaknya sudah menduga laporan tentang kasus  pembelian tanah dan gedung di Surabaya itu  sarat kepentingan kelompok tertentu.

Proses transaksi, termasuk jumlah uang yang harus dibayarkan oleh bank Maluku  kepada pemilik tanah dan gedung sudah sesuai hasil appraisal  Kantor Jasa Penilai Publik  (KJPP) Toha, yaitu Rp54 miliar. KJJP  ini  ditunjuk berdasarkan kesepakatan RUPS.

Sehingga, bila dalam mengusut kasus ini, penyidik menggunakan hasil appraisal KJJP lain, yaitu KJJP Fast maka tentu tidak sesuai, karena bisa diduga harga tanah dan gedung di dikurangi dalam hasil KJJP Fats.

“Jadi kami melihat proses hukum ini seperti dipaksakan saja. Saran kami, kalau tidak ada bukti yang kuat, lebih baik kasusnya dihentikan. Jangan biarkan menjadi polemik terus. Lalu usut kasus Repo, karena  ada kerugian keuangan bank akibat transaksi tersebut dan itu jelas,” kata Latumeten.

Gagalnya pemegang saham mendapat dividen tahun 2014 adalah bukti kerugian bank Maluku akibat transaksi bernilai ratusan miliar itu.  “Ini yang seharusnya diusut. Jaksa jangan buang-buang waktu dan energi  untuk hal-hal yang  kalau boleh dibilang, tidak ada masalah,” ujar Latumeten.

Hingga kemarin jaksa belum memastikan kapan mengumumkan nama tersangka. Sebab, masih harus  memperkuat temuan mereka dengan data dan keterangan lagi dari pihak lain. Dalam waktu dekat, penyidik   berangkat ke Surabaya untuk meminta keterangan dari pemilik tanah dan gedung itu serta  melihat secara langsung kondisi fisik objek transaksi tersebut.

“Tunggu saja, itu (penetapan tersangka) pasti dilakukan. Semua tergantung penyidik, karena kami untuk menetapkan seseorang jadi tersangka, butuh bukti yang kuat. Jangan sampai, terjadi masalah ketika sampai pada tahap penuntutan di pengadilan,” kata Kasi Penerangan hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Sammy Sapulette di ruang kerjanya, Senin( 28/3).

Menyoal informasi  adanya penjelasan beberapa petinggi bank Maluku yang mengaku kecipratan fee dari hasil pembelian gedung itu, Sapulette menolak memberikan penjelasan. Itu sudah masuk ranah materi penyidikan.

“Tunggu saja. Nanti pada waktunya, penyidik akan sampaikan, siapa tersangkanya,bagaimana perannya dalam kasus ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Kasi Penyidikan Kejati Maluku itu berharap, publik bersabar menanti tim penyidik menuntaskan kerja mereka. Sebab, kasus tersebut dinaikkan ke tahap penyidik pada tanggal 15 Februari lalu. Belum sampai satu bulan tim penyidik bekerja aktif.

“Hari kerja efektif belum satu bulan, bila dikurangi hari libur. Jadi, kita berikan waktu kepada penyidik untuk bekerja lebih maksimal. Jangan kita tergesa-gesa, tapi hasilnya tidak maksimal, kan percuma,” serunya.(MAN)

Most Popular

To Top