Jaksa Telusuri Fee ke DPRD – Ambon Ekspres
Trending

Jaksa Telusuri Fee ke DPRD

Rolobessy: Bank Maluku Cukup Sehat

AMBON,AE— Setelah menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan mark up pembelian tanah untuk pembukaan kantor bank Maluku cabang Surabaya, tim penyidik mulai menelusuri keterlibatan pihak lain, terutama mereka yang kecipratan fee. Termasuk oknum anggota DPRD Maluku.

Tim penyidik akan menelusuri aliran dana Rp7.6 Miliar kepada sejumlah pihak, setelah penyidik mendapatkan keterangan dari Hentje Toisuta. Sebab, Direktur CV. Herves itu dinilai tahu kepada siapa duit tersebut dibagikan.
Informasi yang berhasil dihimpun koran ini menyebutkan, awalnya uang sebesar Rp54 Miliar lebih ditransfer oleh Hanje Toisuta kepada seorang supir yang bernama Sunarko. Selanjutnya, uang itu ditransfer kembali oleh Sunarko ke nomor rekening pemilik gedung.

Namun, menurut sumber terpercaya Ambon Ekspres di ruang penyidik Kejati Maluku menyebutkan, uang Rp 7,6 Miliar dari total jumlah Rp54 Miliar itu telah dicairkan beberapa kali oleh Toisuta dan ditransfer ke rekening orang-orang tertentu. Namun, belum diketahui kepada siapa saja uang itu ditransfer. “Semua tergantung Hence. Kalau dia bernyanyi, semua terbongkar,” beber sumber koran ini.

Sumber juga membeberkan, dalam dokumen pembelian gedung di Surabaya, tidak tertera nomor 51 sebagai alamat objek transaksi tersebut Jaksa tidak menemukan Bank Maluku itu bernomor 51 di jalan Darmo Surabaya. Dalam surat tersebut hanya tertulis jalan Dharmo.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette ketika dikonfirmasi terkait apakah pernah IR maupun PRT menyebutkan ada aliran dana yang ditransfer kepada anggota DPRD, Sapulette tidak mengetahuinya.
“Kalau itu saya tidak tahu. Lagi pula pertanyaan seperti itu sudah masuk dalam pokok materi. Yang pasti penyidik tetap bekerja dan mengusut kasus ini secara intens,” kata Sapulette.

Sementara kapan dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka, Sapulette mengatakan untuk tersangka IR dan PRT akan dilakukan panggilan pada Senin pekan depan. Sedangkan HAT belum diketahui kapan akan dipanggil untuk diperiksa.

Morurits Latumeten, penasehat hukum PRT mengungkapkan, pihaknya telah resmi mengajukan Praperadilan terhadap keputusan tim penyidik Kejati Maluku tentang penetapan kliennya sebagai tersangka. Pihaknya menilai penetapan kliennya sebagai tersangka sarat kepentingan tertentu. Ini diketahui setelah jaksa tidak menunjukan surat penetapan tersangka tersebut.

“Kami melihat ada syarat formil yang tidak terpenuhi. Nanti kita uji di Praperadilan,” katanya tanpa menyebut secara rinci syarat formil tersebut.

Upaya Praperadilan, lanjut Latumeten juga karena pihaknya menilai penyidik tidak terbuka.
“Sampai hari ini ( Kemarin-red) kita tidak mendapatkan data fisik, dia sebagai tersangka. Sudah pernah kita coba untuk minta dari kejakasaan. Saat tanya Aspidsus, jawabannya, itu ( surat) ada di Pa Laedrik, Kasidik. Sampai di Kasidik, jawabannya sederhana bahwa tidak ada kewajiban untuk memberikan kepada kuasa hukum. Ada hal apa, tidak diberikan,” tandasnya.

BANK MALUKU TIDAK TERGANGGU
Sementara itu, Direktur Utama Bank Maluku Idris Rolobessy mengungkapkan, kendati sedang diperhadapkan pada sejumlah masalah hukum, namun manajemen bank Maluku terus berupaya menjaga dan meningkatkan operasional bank pelat merah. Sehingga, kondisinya tidak terganggu secara signifikan.

Rolobessy yang didampingi sejumlah direktur dan Komisaris bank Maluku itu menegaskan, hingga saat ini bank Maluku dalam kategori cukup sehat dengan beberapa indikantor, diantaranya total aset dari tahun 2014 ke 2015 hingga triwulan satu 2016, mengalami peningkatan.

Dimana, pengelolaan aset, hasil audit pada 2014, sebesar Rp4.5 Triliun. Jumlah itu meningkat di tahun 2015 menjadi Rp5.1 Triliun. Dan sampai dengan Maret 2016, bertambah menjadi Rp6.4 Triliun. Indikator lainnya, dana pihak ketiga (Giro, tabungan, dan deposito) juga meningkat dari Rp3.3 Triliun di tahun 2014 menjadi Rp3.7 Trliun di 2015. Dan sampai dengan Maret 2016 bertambanh menjadi Rp5.4 Triliun.

Indikator berikutnya adalah Kredit. Disebutkan Rolobessy, kredit yang diberikan pada akhir 2014 sebesar Rp3. 028 Triliun, menjadi Rp3.2 Triliun diakhir 2015. Sampai dengan Maret 2016 mewnjhadi 3.282 Triliuin.
Menyoal penggeladahan jaksa beberapa hari lalu apakah mengganggu kinerja bank, Rolobessy menegaskan, penggeladahan tidak menganggu aktivitas bank serta kepercayaan masyarakat juga tidak menurun.(MAN/AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!