Mamala dan Morela Mengikat Perdamaian – Ambon Ekspres
Trending

Mamala dan Morela Mengikat Perdamaian

Mamala dan Morela, dua negeri bertetangga di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Maluku, tak luput dari perkelahian. Banyak nyawa jadi korban. Pun harta benda. Namun, perbuatan merusak tatanana sosial itu  perlahan diputuskan. Kini, berganti sebuah ikatan perdamaian yang melingkari rasa persaudaraan dan kemanusiaan sejati.

Matahari muncul perlahan dari punggung gunung Salahutu, menyinari dua negeri itu dengan cahaya yang cerah, Sabtu(23/4) pukul 07.30 wit. Beberapa perempuan asal Morela dan Mamala nampak menenteng dan mengeku makanan dalam baskom menuju meja yang disediakan di pinggir tenda di perbatasan kedua negeri. Sebelumnya, telah dilakukan tahlilan selepas sholat Subuh.

Memasuki pintu tenda dari arah negeri Mamala, dua potongan kain putih seukuran 10 meter dibentangkan oleh ibu-ibu di sisi kiri dan kanan jalan. Tak hanya sebatas prosesi menyambut rombongan Muspida Provinsi Maluku dan Maluku Tengah, tapi sebagai perlambang perdamaian.

Di dalam tenda berukuran panjang sekitar 100 meter dan lebar 6 meter, berjejar kursi-kursi yang diatur sedemikian rapih. Sebuah spanduk dipasang melintang diatas podium dengan kalimat”damailah negeriku Mamala-Morela untuk masa depan yang lebih baik, aman dan sejahtera”. Diatas podium itulah, kesepakatan damai dibacakan.

Setelah semua tamu undangan dan rombongan Muspida provinsi Maluku dan Maluku Tengah memasuki tenda, sektar pukul 08.40, acara bersejarah itu pun dilangsungkan. Ribuan orang dari kedua negeri telah memadati sisi kanan dan kiri tenda.

Lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan Hadits tentang persaudaraan, silaturahmi dan perdamaian oleh tiga lelaki berpakaian putih, mengawali acara tersebut. Setelah itu, diisi dengan sambutan-sambutan.

Gubernur Said Assagaff yang hadir dalam acara itu, mengatakan hubungan negeri-negeri di wilayah Leihitu tidak hanya bersaudara karena berada dalam satu teritori. Namun, punya kesatuan geneologis dan historis. Ada pertalian darah satu dengan yanhg lain dari nenek moyang yang sama, serta adanya kawin mawin.“Kita harus renungi ini dengan benar,”kata dia.

Assagaff mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi bertahun-tahun.”Dalam hidup adik dan kakak, tidak mungkin tanpa masalah. Pasti ada masalah, dan ini sudah lumrah. Tapi, bagi orang basudara jangan biarkan konflik dan masalah-masalah itu berlarut-larut,”ucap dia.

Setelah gubernur, Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal, perwakilan dari Polres dan Pangdam Edy Sutrisno serta Raja dan Mamala dan Morela menyampaikan sambutan, dilangsungkan dengan pembacaan kesepakatan perdamaian. Ini menjadi inti dari seluruh kegiatan tersebut.

Dalam ikrar yang ditanda tangani Raja kedua negeri, ketua Latupati Leihitu Sulhana Pelu, Dandim 1504 Pulau Ambon dan Lease Slamet Riyanto, Kapolres P Ambon dan Lease Komaruz Zaman, warga Mamala dan Morela bersumpah, tidak akan mengulangi konflik.

Mereka juga berjanji, tidak akan menyimpan, mengedar, serta menggunakan minuman keras dan narkoba. Apabila ditemukan ada warga yang menyimpang dari janji itu, akan ditindak tegas dan secara hukum adat maupun hukum positif. Bahkan, dalam butir 5 kesepakatan disebutkan, apabila pelaku penganiayaan melarikan diri, salah satu pihak keluarganya dijadikan jaminan. Para pelaku penganiayaan juga dikenai denda Rp5 juta (penganiyaan ringan), Rp10 juta (penganiayaan sedang) dan Rp25 juta (penganiyaan berat).

Apabila denda tersebut tidak dipenuhi, maka harta benda tidak bergerak dijadikan jaminan. Tanaman umur panjang dengan dengan Rp500.000 per pohon.
Ide Rekonsiliasi

Konflik Mamala dan Morelah sudah terjadi sejak lama. Bahkan, nyaris setiap tahun. Seorang polisi tewas dalam peristiwa. Terkadang, pemicunya karena mabuk lalu memantik perkelahian. Ada juga akibat perbuatan asusila.
Pada tahun 2008, upaya rekonsiliasi dilakukan. Bahkan, dibangun sebuah prasasti di perbatasan antara Mamala dan Morela. Namun, niat mulia itu tidak bertahan lama. Pertikaian kembali terjadi. Terakhir, pada Juli 2015. Sekitar 9 rumah warga di Morela dan 2 rumah di Mamala rusak.

Menyadari pentingnya perdamaian, dilakukan pertemuan antara Raja Mamala Muhammad Ramli Malawat dengan Raja Morela Yunan Sialana, dan beberapa tokoh dari kedua negeri. Pertemuan itu juga melibatkan Danramil dan Polsek Leihitu yang berlangsung sekitar lima bulan lalu yang dimediasi oleh Raja Hitu Lama, Salhana Pelu.

Untuk menghindari adanya kecurigaan, pertemuan para tokoh itu dirahasiakan. Bahkan, tidak diketahui oleh keluarga mereka masing-masing. ”Keberadaan raja dan beberapa tokoh kedua negeri untuk membicarakan rekonsiliasi, pun tidak diketahui oleh keluarga. Memang, ini sengaja kami lakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat, terutama pihak korban bahwa kami sedang mengatur rencana rekonsiliasi ini,”kata Salhana.

Salhana sempat pesimis, upaya memediasi kedua belah pihak tidak bisa terlaksana. Tetapi, keterbukaan diri dari para tokoh kedua negeri, membuat dia yakin dan memutuskan untuk melangsungkan prposes mediasi.
Terhitung, mereka telah melakukan pertemuan sebanyak lima belas kali sebelum mencapai kata sepakat untuk menggelar acara rekonsiliasi. Tidak ada hambatan selama proses itu berlangsung di tengah kondisi masyarakat kedua negeri yang masih bermusuhan kala itu.

“Alhamdulillah, upaya ini berjalan lancar, karena nawaitu (niat) kami hanya agar kedua negeri berdamai. Tidak ada kepentingan apa-apa dalam proses ini,”tutur dia.
Aturan Yang Mengikat

Upaya mendamaikan masyarakat Mamala dan Morela, dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ini dibuktikan dengan adanya Peraturan Negeri (Perneg) yang dibuat oleh masing-masing negeri, selain 10 butir kesepakatan.
Perneg Mamala nomor 01/PN/M/I/2016 tentang ketertiban masyarakat, misalnya, terdiri dari IV bab. Pada bagian perjudian disebutkan, pasal 14 ayat 2 disebutkan, barang siapa melakukan perjudian berupa Togel (Toto Gelap), taruhan, domino dan lain-lain, dikenakan hukum cambuk sebanyak 15 kali oleh Kewang adat.

Sementara ayat 3 dijelaskan, apabila pelaku melanggar ketentuan ayat 2, akan dikeluarkan dari Negeri Mamala selama satu tahun dan dicambuk sebanyak 15 kali. Tetapi,apabila selama 6 bulan pengusiran, pelaku menyesali perbuatannya, maka diampuni oleh pemerintahan Negeri dan Saniri.

Raja Muhammad Ramli Malawat dan seluruh komponen Negeri Mamala tidak main-main. Bahkan, terhadap keluarga maupun teman sekalipun. Sejak ditetapkan, tiga orang sudah menjadi korban Perneg tersebut.

“Tiga orang sudah mendapatkan hukuman ini. Satu orang karena minuman keras dan lainnya melakukan perbuatan asusila. Jadi, kami tidak pandang bulu. Yang minum itu termasuk keluarga dengan saya. Selama 3 tahun itu, dia tidak bisa menginjak kakinya di kampung. Kalau yang melakukan perbuatan asusila, adalah teman saya sejak kecil. Tapi, kami tetap usir,”kata Malawat.

Peraturan ini dibuat dengan tujuan mencegah tingkat kejahatan, dan terciptanya kenyamanan serta keamanan dalam kehidupan bermasyarakat Mamala. Sehingga masyarakat bisa tenang dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Sebab, Malawat sendiri sudah bosan dengan dentuman bom maupun bunyi tembakan yang kerap terjadi di negerinya. Rumah-rumah dirusaki, dan harmonisasi warga dua negeri tetangga menjadi remuk. Di sisi lain, pembangunan justru tidak berjalan maksimal.

“Saya sudah bosan mendengarkan dentuman bom nyaris setiap saat waktu kejadian terakhir. Karena itu, saya minta kalau damai itu harus hakiki. Sudahi konflik, agar pembangunan di daerah kita juga berjalan dengan baik,”ajak dia.

Raja Morela Yunan Silana mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan rancangan Perneg. Perneg dibuat untuk menguatakan kesepakatan yang telah ditandatangani bersama.

Sebagai pemimpin di Morela, Silana memastikan, warganya telah sadar dan tidak mau konflik kembali terjadi. Sebab, konflik telah membawa kerugian yang tidak sedikit. Baik fisik, maupun non fisik. “Contohnya, karena harus lewat laut, ada peserta ujian dari Morela terlambat mengikiti ujian nasional di Hitu. Dengan adanya kejadian ini, orang tua mereka mulai sadar betapa pentingnya perdamaian agar mereka bisa melewati Mamala dengan aman,”akui dia.

Salahudin Sasole, juga mengaku telah memasrakan seluruh beban yang ditanggungnya akibat konflik kepada Allah. Warga Morela yang rumahnya terbakar saat pertikaian Juli 2015, kini mulai membersihkan puing-puing rumahnya yang berada persis di perbatasan Mamala dan Morela, untuk kembali dibangun dan ditempati seperti sedia kala.
“Kita sudah ikhlaskan apa yang telah terjadi.

Kita mesti membuka lembaran baru. Tidak ada lagi dendam. Sekarang kami sedang bangun rumah. Mudah-mudahan tidak terjadi konflik lagi agar kita bisa merehab rumah kita ini, sehingga anak-anak bisa melanjutkan sekolah,”ungkap Sasole yang terpaksa mengungsi ke Hila bersama salah satu anaknya sambil melanjutkan pekerjaannya.(**)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!