PDIP: Survei Hanya 1 Indikator – Ambon Ekspres
Politik

PDIP: Survei Hanya 1 Indikator

AMBON,AE.—Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Maluku tidak terpengaruh dengan pernyataan tim pemenangan beberapa calon kepala daerah bahwa PDIP kemungkinan mengusung kandidat mereka. PDIP memiliki sejumlah pertimbangan, selain hasil survei yang dikaji untuk penetapan rekomendasi. PDIP juga memastikan, belum menerbitkan rekomendasi.

Sekretaris DPD PDIP Maluku, Lucky Wattimury kepada Ambon Ekpsres di kantor DPD PDIP, Rabu (25/5) mengatakan, tahapan perekrutan calon bupati dan walikota telah sampai pada survei popularitas, elektabilitas dan akseptabilitas. Sehingga, tidak benar jika ada isu PDIP telah memberikan rekomendasi kepada bakal calon tertentu.
“Sehingga, tidak benar jika ada yang bilang rekomendasi sudah ditetapkan. Kita masih dalam tahapan survei. Kalau sudah rekomendasi, pasti kita akan sampaikan kepada publik melalui media massa, baik cetak maupun elektronik,”kata Wattimury.

Informasi yang dihimpun Ambon Ekspres menyebutkan, terdapat sejumlah balon kepala daerah yang akan diusung PDIP, karena memiliki elektabilitas (tingkat keterpilihan) yang signifikan dibandingkan kandidat lainnya. Juga, karena sudah adanya komunikasi intens.

Wattimury menjelaskan, DPD PDIP Maluku tidak mengetahui hasil survei bakal calon bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota. Selain lembaganya ditentukan oleh DPP, juga karena dilakukan secara diam-diam agar tidak diintervensi oleh DPD dan DPC.

“Kapan mereka datang survei dengan responden dan mekanisme yang bagaimana caranya, itu kewenangan mutlak dari DPP. DPD tidak mengintervensi proses dilakukan. Itu kewenangan DPP. Kita hanya menunggu hasil survei tersebut,”jelasnya.

Anggota DPRD Maluku itu memastikan, PDIP sangat terbuka dalam melakukan kerja Pilkada. Karena itu, apabila DPP telah mengeluarkan rekomendasi, akan disampaikan kepada publik.
“Untuk apa kita sembunyikan rekomendasi. Karena rekomendasi itu perlu diketahui oleh publik. Supaya publik pun bisa menilai tentang calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusung oleh PDI Perjuangan,”tandasnya.
Tidak Terganggu

Menurut dia, informasi maupun pernyataan terkait kemungkinan-kemungkinan PDIP memberi rekomendasi pada kandidat tertentu, hanya sebagai upaya untuk mempengaruhi DPP dalam mengambil keputusan. Tetapi, ia menegaskan, upaya itu sama sekali tidak berpengaruh.

“Ada pernyataan dari Pak Max Pattiapon, tentang kemungkinan Richard dapat rekomendasi dari PDI Perjuangan. Tapi, hal yang sama juga dikatakan oleh tim Poly Kastanya, bahwa kemungkinan juga mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan. Bahkan, tim dari Brury Nanulaitta pun menyatakan hal yang sama. Tapi sekali lagi, kalimat-kalimat seperti itu tidak akan mempengaruhi DPP dalam menentukan rekomendasi, ”terangnya.

Sebab, PDIP punya kriteria dan pertimbangan tersendiri yang tidak semuanya diketahui oleh tim maupun kandidat. Hasil survai hanya satu dari sekian banyak pertimbangan tersebut. “Survei itu penting. Tapi, ia merupakan satu saja dari sekian indikator pertimbangan. Itu artinya ada yang lain. Misalnya, komitmen kepada partai. Biarlah siapa pun yang mengatakan seperti itu. kami juga tidak pernah terganggu dengan pernyataan seperti itu,” urainya.

Seperti ditulis Ambon Ekspres, Rabu (25/5), Max Pattiapon mengatakan, ada kemungkinan PDIP mengusung Richard Louhenapessy. Ini setelah dilakukan komunikasi antara Tim, Richard sendiri dengan PDIP. Tetapi, Richard dan Tim menyerahkan sepenuhnya kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP.

“Komunikasi kita dengan partai lain tetap intens. Bahkan untuk PKPI dan juga PDIP masih terus kita bangun komunikasi. Dan kalau tidak ada halangan yang merintang, sangat berpeluang juga PDIP memberikan rekomendasi. Dari bacaan-bacaan yang kami dapat, memberikan gambaran seperti itu. Tetapi sekali lagi keputusan kan ada di DPP PDIP,” kata Max.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Johan Tehuayo saat diwawancarai Ambon Ekspres, Selasa (17/5) lalu menilai, dari lima daerah yang melaksanakan Pilkada, kemungkinan PDIP menang di MTB. Pasalnya, MTB merupakan basis pemilih PDIP, apalagi yang yang bertarung adalah kader sekaligus incumbent.

Sedangkan untuk Pilkada SBB, menurut Johan, peluang menang PDIP juga cukup terbuka. Pasalnya, tidak ada incumbent. Tetapi, PDIP harus mengusung kuat dari sisi figuritas dan dukungan politik serta finansial.
Di Pilkada Malteng, peluang kemenangan PDIP sangat kecil. Ini dikarenakan, kekuatan incumbent Abua Tuasikal masih sangat dominan. Terutama dari aspek finansial dan figuritas.

Kalaupun yang diusung adalah Hamzah Sangadji dan Alexander Robert Tutuhatunewa, maka PDIP perlu berkoalisi dengan Partai Golkar. Jika tidak, PDIP tetap jauh dari bayangan kemenangan. Sebab, kata Johan, baik Hamzah maupun kandidat kuat lainnya, yakni Jusuf Latuconsina pernah dikalahkan trah Tuasikal.

Apalagi di Pilkada Buru, lanjut dia, kekuatan Ramli Umasugi sebagai incumbent ditunjang dukungan Golkar sudah tidak bisa dinafikan. Karena itu, siapapun kader yang diusung PDIP tetap saja kalah. Satu-satunya jalan, adalah PDIP berkoalisi dengan Golkar dan mengusung Ramli.

Di kota Ambon, menurut dia, nyaris sama dengan Buru. Mayoritas masyarakat menilai Richard Louhenapessy berhasil melakukan pembangunan dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir. Pemilih rasional, akan menjadikan keberhasilan pembangunan sebagai referensi dalam memilih. (TAB)

Most Popular

To Top