4 Daerah Ketat, Buru tak Berimbang – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

4 Daerah Ketat, Buru tak Berimbang

AMBON,AE––Pertarungan politik untuk memperebutkan kursi kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam Pilkada 2017 di Maluku, diprekdsi akan berlangsung ketat di Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara Barat dan Kota Ambon. Hal ini disebabkan, munculnya figur-figur kuat sebagai penantang rezim lama atau incumbent.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Johan Tehuayo mengatakan, ketatnya pertarungan Pilkada Maluku Tengah, karena munculnya figur-figur selain incumbent, Abua Tuasikal. Misalnya, ada Jusuf Latuconsina, Hamzah Sangadji, Saadiah Uluputty, Wahab Talaohu, Azis Mahulette dan lain-lain.

Bebarapa bakal calon penantang itu, lanjut dia, memiliki kekuatan dan basis politik yang efektif. Sehingga akan terjadi distribusi suara pemilih, meskipun kekuatan incumbent tetap masih dominan. Ini tyentunya akan mempengaruhi dinamika politik di Malteng.

“Di Malteng, pertarungan politiknya akan semakin ketat dan resistensinya politiknya tinggi. Karena di Malteng selain ada incumbent, juga muncul banyak figur yang merupakan elit politik lokal yang memiliki kompetensi politik dalam memperoleh kekuasaan politik di Malteng. Misalnya, JL, HS, SU dan WT,” kata Tehuayo ketika dihubungi Ambon Ekspres, Kamis (26/5).

Pilkada Seram Bagian Barat (SBB), juga demikian. Konfigurasi politik lokal dan resistensi politik akan semakin tinggi karena munculnya elit politik lokal yang mencalonkan diri sebagai calon bupati dan wakil Bupati. “Daerah ini (SBB), eskalasi politik dan kompetisinya juga ketat, karena semua figur memiliki kekuatan yang sama dan basis politik masing-masing. Tidak ada kekuatan yang dominan,”urainya.

Menurut dia, pertarungan ketat dan penuh resistensi juga akan terjadi di Pilkada Maluku Tenggara Barat (MTB). Ini dipicu oleh munculnya figur-figur yang dinilai cukup kuat. Misalnya, Dharma Oratmangun dari Partai Golkar dan Petrus Fatlolon dari Partai Demokrat.

BACA JUGA:  Puluhan Kapal Dicek Kelaikan

Sehingga, kendati yang berencana maju di Pilkada adalah wakil bupati saat ini, Petrus Werembinan, namun eskalasi politiknya cukup tinggi. Selain itu, pilihan politik pemilih juga bisa tersebar merata.

Bagaimana dengan Pilkada kota Ambon? Tehuayo memprediksi, juga akan berlangsung ketat. Ini terjadi, apabila Golkar dan koalisinya mendukung Richard Louhenapessy, dan PDIP bersama koalisi parpol pengusung lainnya memberikan dukungan kepada Paulus (Poly) Kastanya dan Sam Latuconsina.

“Kalau Golkar dan koalisinya mendukung incumbent dan PDIP dan koalisinya memberikan dukungan pada Poly dan Sam itu berarti pertarungan politiknya semakin ketat, meskipun Richard masih memiliki kekuatan dan basis politik yang dominan, ”jelasnya.

Namun, dia mengakui, pemilih di kota yang tergolong rasional, memiliki pilihan yang berubah-ubah seiring perkembangan dinamika politik. Karena itu, ketat atau tidaknya pilkada di ibukota provinsi Maluku ini akan semakin nampak setelah format pasangan calon terbentuk dan partai politik memastikan rekomendasinya.

“Namun sekarang ini belum ada rekomendasi parpol terhadap figur-figur yang ada sehingga belum dipastikan. Karena, kekuatan setiap calon selain faktor figurnya juga kekuatan parpolnya. semua figur yang masuh dalam tahap wacana dan menunggu dukungan parpol,”pungkasnya.

Pengamat politik Universitas Darussalam Ambon, Ali Roho Talaohu kurang lebih berpendapat sama. Untuk Pilkada Malteng, kata dia, pasti berlangsung ketat jika figure-figur seperti Jusuf Latuconsina, Hamzah Sangadji serta beberapa kandidat lainnya lolos sebagai calon.

BACA JUGA:  PKPI Haris Sudarno Berhak Ikut Pilkada

Karena menurut Ali, figur-figur ini memiliki basis politik yang riil. Disamping itu, punya modal atau finansial serta sosial politik yang kuat.

“Figur-figur yang maju saat ini sama-sama memiliki basis massa yang signifikan. Selain itu, mereka juga punya kesiapan anggaran yang cukup dan kefiguran yang baik. Itu yang membuat Pilkada yang menarik. Karena banyak kandidat yang siap secara finansial maupun sosial politik. Karena itu, Persaingannya akan berlangsung ketat,”jelas Ali.

Sedangkan di Ambon, pecah kongsi antara Richard Louhenapessy dan Sam Latuconsina sangat memengaruhi suhu politik pilwalkot. Akan terjadi persaingan yang ketat dalam hal perebutan basis massa yang dimiliki oleh keduanya pada pilkada sebelumnya.

Ketatnya persaingan, juga disebabkan dukungan parpol dan ketokohan kedua figur ini. Yang paling menarik, adalah pencitraan yang baik oleh Richard maupun Sam dengan klaim, keberhasilan masing-masing dalam membangun kota Ambon. Ditambah, kekuatan politik dan sosial keduanya yang dihampir seimbang.

“Persaingannya ketat, pertama dari basis massa. Kemudian, dukungan partai politik dan kesiapan personal. Selain itu, juga dipengaruhi aktifitas bakal calon dalam rangka mendapatkan simpati dan dukungan politik dari masyarakat pemilih. Kemudian, Richard dan Sam sama-sama mengklaim punya keberhasilan. Ini bisa menjadi bahan kampanye untuk meyakinkan pemilih. Karena itu, bisa meningkatkan eskalasi politik,”papar magister ilmu politik Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu.

Di MTB, kata dia, juga menarik. Ada dua kekuatan politik, yakni Golkar dan PDIP. Golkar mendorong Dharma Oratmangun dengan kekuatannya. Kemudian, wakil Bupati MTB Petrus Werembinan didorong oleh PDIP. Pertarungan kekuatan besar ini, bisa memicu Pilkada berlangsung ketat.

BACA JUGA:  Dua Pelaku Cabul Dibui

Pertarungan ketat juga akan terasa di SBB. Hal ini disebakan, tidak ada calon incumbent dan nyaris semua bakal calon memiliki kekuatan yang seimbang. “Pilkada di SBB juga menarik. Tidak ada lawan tangguh, karena incumbent sudah selesai massa jabatan, sehingga kekuatan semua bakal calon dianggap merata.

Semua figur punya peluang yang sama, sehingga mereka akan berlomba-lomba untuk mencapai kemenangan. Barang tentu akan mempengaruhi suhu politik semakin ketat menjelang dan saat pemilihan nanti,”jelasnya.
Tak Ada Lawan Seimbang

Sementara untuk Pilkada Buru, baik Ali maupun Johan berpendapat, tidak seketat empat daerah lainnya. Ramli Umasugi sebagai calon Bupati incumbent masih terlalu kuat dibandingkan figur-figur yang muncul saat, yakni Bakri Lumbesy, Satrio Bagus Primastih, Sudarmo, Pudji Wahono, Ikram Umasugi dan beberapa kandidat lainnya.

“Kalau di Buru, pertarungan tidak ketat dan eskalasi politiknya biasa saja, karena tidak ada figur yang tingkat popularitasnya bisa mengalahkan Ramli. Sehingga pertarunganya tidak ketat. Incumbent masih sangat kuat,”kata Johan.

Pilkada Buru menjadi menarik, jika ada lawan Ramli yang kurang lebih memiliki modal dari semua aspek, seperti penantang Abua di Malteng.”Pilkada di sana (Buru) akan menjadi menarik, jika ada figur-figur yang kuat sama seperti di Malteng yang melawan Ramli. Kalau tidak ada, maka bisa dipastikan situasi politik di sana adem ayem saja,”tambah Ali.(TAB)

Most Popular

To Top