Polisi: Kematian Balubun, Murni Kecelakaan – Ambon Ekspres
Metro Manise

Polisi: Kematian Balubun, Murni Kecelakaan

AMBON,AE.–– Silang pendapat antara penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, dan tim kuasa hukum Balubun atas motif utama dibalik tewasnya, ketua Aliansi Anak Adat Nusantara (AMAN), terjadi usai pelaksanaan gelar perkara atas hasil otopsi kematian Balubun di Polda Maluku, Kamis kemarin.

Gelar perkara dilakukan antara pihak penyidik dengan menghadirkan keluarga korban dan tim advokasi guna menyampaikan hasil forensik Polri terkait otopsi jasad Balubun. Gelar perkara tersebut berlangsung sekitar satu jam, mulai dari pukul 10.00 WIT hingga pukul 11.00 WIT, dan dilakukan secara tertutup di ruangan Direktur Reskrimum.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, Ajun Komisaris Besar Polisi Gupuh Setiyono, usai gelar perkara mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi maupun hasil otopsi atas jasad almarhum Yohanes Balubun itu, penyidik menyimpulkan Balubun meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

“Berdasarkan hasil otopsi yang kita lakukan kemudian dengan keterangan dari sejumlah saksi yang telah kami periksa dan hasil gelar perkara, kami menyimpulkan sementara bahwa kematian dari almarhum Yanes Balubun ini akibat lakalantas, bukan seperti yang dilaporkan oleh tim advokasi itu,”kata mantan Wadir Reskrimsus Polda Jawa Barat ini, kepada Ambon Ekspres Kamis (26/5).

Menurut Gupuh, berdasarkan keterangan dari dokter forensik maupun keterangan dan hasil olah tempat kejadian perkara, maka tidak sedikipun penyidik menemukan adanya tanda kekerasan, dari benda lain yang berakibatkan pada tewasnya Balubun itu. “Kalaupun ada saksi tambahan yang kita periksa itu, hanya untuk memperkuat bahwa kasus kematian Balubun itu karena lakalantas,”terangnya.

Pria berkulit sawo matang ini menegaskan, proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihaknya sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Kita melakukan penyelidikan ini secara professional, proporsional, menggunakan ilmu pengetahuan, menggunakan Crime and Investigation, berdasarkan keterangan saksi dan alat bukti yang ditemukan, ini disebabkan karena kecelakaan bukan karena tindakan lain,”tegasnya.

Sementara itu, tim advokasi tidak sependapat dengan kesimpulan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim khusus dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, sebagaimana telah disampaikan dalam Gelar.
Menurut tim, dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik tersebut, ternyata tidak sesuai dengan fakta-fakta yang telah ditemukan oleh tim advokasi maupun tim KontraS sendiri.

“Penyidik baru melaksanakan 6 langkah dalam penyelidikan termasuk gelar perkara tadi yaitu pemeriksaan pelapor, pemeriksaan saksi, meminta verifikasi, otopsi dan olah Tempat Kejadian Perkara. Namun sudah menyimpulkan hasil sementara. Kemudian saksi yang diperiksa, jika merujuk pada KUHAP, maka mereka yang telah diperiksa oleh penyelidik Polda, tidak memenuhi persyaratan sebagai saksi sesuai pasal 185 KUHAP.

Dimana penyelidik mestinya dalam penyelidikan mencari saksi kunci. Ini kekeliruan bagi penyidik sendiri, ”kata Yonahes Lexi Hahury, kepada Ambon Ekspres, dalam rilisnya, yang diterima korasn ini, Kamis sore kemarin.
Dikatakan, dari saksi yang diperiksa penyidik, hingga penyidik melahirkan kesimpulan tersebut, pihaknya melihat ada proses yang tidak professional sengaja dilakukan oleh tim khusus itu.

“Tidak ada pendalaman dan perluasan dalam penyelidikan sesuai petunjuk KUHAP dan Peraturan Kapolri 14 tahun 2012. Kami telah menyerahkan sejumlah bukti kepada penyelidik. Namun dari hasil penyelidikan sementara yang telah dipaparkan dalam gelar perkara tadi, nampaknya penyelidik belum mengembangkan penyelidikannya kesana. Dan juga tidak ada penjelasan sama sekali mengenai langkah Olah TKP. Justru, apabila penyelidik telah melakukan Olah TKP, penyelidik seharusnya menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa yang menyebabkan kematian almarhum,”paparnya.

Kejanggalan itu lanjut dia, ada pada barang bukti kendaraan milik korban yang tidak mengalami kerusakan saat insiden yang diduga kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Balubun sendiri.

“Inilah yang sama sekali belum diperiksa dan diselidiki oleh penyidik. Mestinya bila kondisi fisik sepeda motor telah diperiksa, terus disandingkan dengan fakta rekam medis dan hasil otopsi, penyelidik mestinya menemukan kejanggalan di sana. Bukan langsung mengambil kesimpulan seperti ini,”herannya.

Lebih lanjut kata dia, mengenai mekanisme pelaksanaan gelar Perkara sendiri, pihaknya menilai proses yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala Bareskrim Polri nomor 4 tahun 2014.

“Gelar perkara seperti yang dilakukan tadi, mesti dilakukan dalam semangat transparansi untuk mendapatkan jalan terang dalam proses penyelidikan sendiri. Dan dilakukan dalam bentuk diskusi yang kondusif. Bukan kami diundang hanya untuk duduk dan mendengarkan paparan tim khusus yang melakukan penyelidikan, setelah itu selesai,”katanya.

Dia menegaskan, berdasarkan fakta-fakta di atas, pihaknya menilai hasil penyelidikan yang telah disampaikan masih sangat premature sehingga tim penyelidik sesungguhnya belum bisa sampai pada tahapan menetapkan status perkara itu sendiri.

“ Kami tidak akan berhenti bekerja sampai di sini. Justru, ini merupakan awal dari upaya pengungkapan fakta dibalik kematian Balubun. Secara teknis, bukan tidak mungkin juga kami akan menaikan status perkara yang dilaporkan ini sebagai perkara yang sulit, sesuai peraturan Kapolri 14 tahun 2012, yang dengan demikian penangannya akan diserahkan ke Mabes POLRI,”kuncinya.(AHA)

Most Popular

To Top