Kematian Yanes Dibawa ke Amnesti Internasional – Ambon Ekspres
Ragam

Kematian Yanes Dibawa ke Amnesti Internasional

Ambon, AE.–– Tim advokasi Sahabat Yanes Balubun yang terus melakukan investigasi kematian Yanes Balubun, telah melakukan kajian mendalam dan menemukan sejumlah fakta yuridis yang menjadi titik awal kelanjutan advokasi, meski hasil autopsi pihak kepolisian menyimpulkan sementara, aktivis masyarakat adat itu meninggal dunia karena kecelakaan tunggal. Mereka siap melanjutkan kasus ini ke Mabes Polri dan Amnesti Internasional.

Sebelumnya, dalam Laporan Hasil Penyelidikan (LHP) yang disampaikan oleh kepala Subdiv III selaku ketua tim penyelidik Direktorat reserse kriminal umum, disampaikan bahwa penyelidik telah mlaksanakan setidaknya 6 langkah penyelidikan yaitu pemeriksaan pelapor, pemeriksaan saksi, sejumlah cctv, pengambilan visum, otopsi dan olah TKP.

Terkait LHP, Tim Advokasi Sahabat Yanes Balubun, yang diwakili ketuanya Yohanes Lexy Hahury menilai saksi-Saksi yang diambil keterangannya, tidak memenuhi kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 KUHAP jo. Pasal 160 ayat (3) KUHAP, jo. Pasal 185 ayat (7) KUHAP, dan Pasal 1 butir 27 KUHAP jo. Pasal 1 butir 26 KUHAP jo. Pasal 185 ayat 1 KUHAP.

“Sesuai Visum Et Repertum yang diungkapkan oleh pihak kepolisian saat gelar perkara, tidak dijelaskan secara rinci pada bagian tubuh mana saja yang mengalami luka karena benturan benda tumpul. Sesuai kesimpulan autopsi yang dibacakan Polda Maluku saat gelar perkara, ditemukan kekerasan dengan menggunakan benda tumpul pada kepala bagian kiri depan yang menyebabkan patahnya atau fraktur pada tulang tengkorak,” terang Hahury.

Patah tulang atau fraktur lineal, lanjut dia, pada tengkorak bagian kiri belakang. Patah atau fraktur pada tulang iga keempat, kelima dan keenam depan yang disebabkan oleh kekerasan tumpul. “Tetapi tidak ada “Keterangan Ahli” yang menjelaskan hubungan antara patahnya atau fraktur pada tulang tengkorak kiri bagian depan, dan Patah tulang atau fraktur lineal pada tengkorak bagian kiri belakang, serta patah atau fraktur pada tulang iga keempat, kelima dan keenam depan yang disebabkan oleh kekerasan tumpul, jika dihubungkan dengan posisi korban yang saat ditemukan sementara tertelungkup di atas sepeda motornya dan saat dibawah ke rumah sakit tidak ada luka atau lebam di bagian dadanya,” rinci Hahury.

Dia menambahkan, penyelidik juga belum mengkaji korelasi antara kondisi faktur yang terjadi di kepala dan dada korban dengan kondisi sepeda motor pasca kejadian. Kata dia, kajian ini tentu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki keahlian di bidangnya, namun belum dilakukan penyelidik.

“Beberapa keterangan dalam tahapan pemeriksaan saksi, sesungguhnya memiliki peluang untuk dikembangkan lebih dalam dan luas, namun tidak dilakukan oleh penyelidik. Padahal dari keterangan-keterangan itu sangat potensial menjadi petunjuk untuk menemukan motif dan pelaku,” tandas Hahury.

Terkait dengan saksi, kata dia, beberapa orang yang sesungguhnya berpotensi menjadi saksi kunci justru diabaikan oleh penyelidik. Tidak ada penjelasan sama sekali mengenai langkah Olah TKP yang sudah 2 kali dilakukan. “Justru, apabila penyelidik telah melakukan Olah TKP, penyelidik seharusnya menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa yang menyebabkan kematian almarhum Yanes Balubun,” kata Hahury.

Tim advokasi menilai ada sejumlah celah yang ditemukan dari hasil penyelidikan. Ini dapat dilihat juga sejak awal kejadian, kematian Yanes ini terjadi di tempat umum dan bukanlah sebuah kasus delik aduan, karena itu kepolisian semestinya sigap dan responsif mengambil insiatif untuk melakukan penyelidikan, tanpa menunggu laporan.

“Yang terjadi, keterlambatan keluarga (dan Tim Advokasi) membuat laporan justru dianggap sebagai hambatan dalam penyelidikan, Sebagaimana disampaikan oleh ketua tim penyelidik dalam gelar perkara kamis 26 Mei 2016 lalu,” kata Hahury.

Bagi Tim Advokasi, Laporan Hasil Penyelidikan yang telah disampaikan sifatnya masih sangat dangkal dan bersifat preliminary. Terlalu dini jika penyelidik langsung datang kepada kesimpulan bahwa almarhum Yanes Balubun meninggal disebabkan oleh kecelakan lalu lintas tunggal.

“Tim Advokasi akan menempuh jalur penegakan hukum dan penegakan HAM yang lain. Untuk itu kajian-kajian yuridisnya terus dilakukan, dan telah terlihat peluang untuk memperluas jangkauan advokasi lebih jauh dari pada POLDA Maluku, yaitu ke MABES POLRI dan Amnesti Internasional,” pungkas Hahury.

Sebelumnya Gelar perkara dilakukan antara pihak penyidik dengan menghadirkan keluarga korban dan tim advokasi guna menyampaikan hasil forensik Polri terkait autopsi jasad Balubun. Gelar perkara tersebut berlangsung sekitar satu jam, mulai dari pukul 10.00 WIT hingga pukul 11.00 WIT, dan dilakukan secara tertutup di ruangan Direktur Reskrimum.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku, Ajun Komisaris Besar Polisi Gupuh Setiyono, usai gelar perkara mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi maupun hasil autopsi atas jasad almarhum Yohanes Balubun itu, penyidik menyimpulkan Balubun meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

“Berdasarkan hasil autopsi yang kita lakukan kemudian dengan keterangan dari sejumlah saksi yang telah kami periksa dan hasil gelar perkara, kami menyimpulkan sementara bahwa kematian dari almarhum Yanes Balubun ini akibat lakalantas, bukan seperti yang dilaporkan oleh tim advokasi itu,”kata mantan Wadir Reskrimsus Polda Jawa Barat ini, kepada Ambon Ekspres Kamis (26/5).

Menurut Gupuh, berdasarkan keterangan dari dokter forensik maupun keterangan dan hasil olah tempat kejadian perkara, maka tidak sedikipun penyidik menemukan adanya tanda kekerasan, dari benda lain yang berakibatkan pada tewasnya Balubun itu. “Kalaupun ada saksi tambahan yang kita periksa itu, hanya untuk memperkuat bahwa kasus kematian Balubun itu karena lakalantas, ”terangnya.(AHA)

Most Popular

To Top