Remy Solisa Tetap Dihukum Mati – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Remy Solisa Tetap Dihukum Mati

Upaya Kasasi Ditolak MA

AMBON,AE––Upaya hukum yang ditempuh Remy Solissa, terdakwa kasus pembunuhan berantai di Desa Siwatlahi, Kabupaten Buru Selatan (Bursel) sia-sia. Hakim Mahkamah Agung (MA) RI menolak kasasi yang diajukan kuasa hukum terdakwa.

Dalam petikan putusan MA sebagai mana diterima pihak Pengadilan Negeri (PN) Ambon serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan, menolak upaya hukum yang ditempuh kuasa hukum terdakwa. Tidak hanya itu, MA juga menguatkan putusan hakim PT Ambon, yang menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa.

“Putusannya kita sudah terima dari pihak pengadilan berupa pemberitahuan, jika MA menolak upaya hukum kasasi yang diajukan penasehat hukum terdakwa,” ungkap Kasi Pidum Kejari Namlea, Karel Sampe kepada koran ini, kemarin.

Untuk soal eksekusi, bukan wewenang dari Kejari Namlea. “Kalau soal eksekusi kan belum. Karena masih ada upaya hukum luar biasa yaitu Peninjauan Kembali (PK) dari pihak terdakwa. Tetapi yang pasti putusan hakim MA tolak kasasi. Otomatis putusan yang berlaku itu putusan terakhir dari Pengadilan Tinggi (PT) Ambon berupa hukuman mati,” ujarnya.

Untuk diketahui, Remy Solissa pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, dituntut oleh JPU agar divonis hukuman mati. Namun majelis hakim PN Ambon, menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada terdakwa.
JPU kemudian menempuh upaya banding ke PT Ambon. Upaya JPU tidak sia-sia. Hakim PT Ambon menerima banding jaksa dan menjatuhkan hukuman mati kepada Solissa.

KRONOLOGI PEMBANTAIAN REMY SOLISSA
Kejadian pembunuhan sadis yang dilakukan Remy terhadap satu keluarga itu, lantaran pelaku sudah termakan api cemburu. Kejadian tanggal 17 Februari 2015 lalu.

Saat itu, terdakwa sedang duduk dirumahnya sambil minum kopi ditemani istrinya, Yoneng Nurlatu Solissa di Desa Siwatlahi. Beberapa saat kemudian terdakwa berkunjung ke rumah ayahnya, Nataner Solissa, dan baru kembali pada pukul 20.00 WIT.

Setelah kembali, terdakwa langsung menuju kamar tidur dan mengajak istrinya berhubungan badan. Ketika mau berhubungan badan, istri terdakwa, Yoneng (korban, red) mengatakan bahwa kemaluan terdakwa tidak berfungsi. Perkataan korban memicu emosi terdakwa dan kemudian mengambil parang yang telah disiapkan terdakwa disamping tempat tidur.

Tanpa basa basi, Remy yang biasa dengan panggilan gaul Kabit, langsung menebas istrinya pada bagian kepala. Tidak sampai disitu, terdakwa kemudian menusuk kemaluan korban, yang saat itu sudah tidak berdaya dengan parang.

Kabit lalu mengambil 4 tombak dan 1 parang lainnya. Dia keluar dan mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, terdakwa mengintip rumah Herman Solissa yang saat itu sementara mendengar lagu bersama-sama dengan Wellem Solissa dan Agus Nacikit.

Terdakwa masuk kembali kerumahnya dan keluar lewat pintu belakang dan menuju ke rumah Herman. Terdakwa kemudian berhenti di rumah Viktor Solissa yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Herman. Terdakwa masuk ke dalam rumah Herman langsung menebas Herman dengan parang, mengenai leher sebelah kiri.

Herman langsung terkapar seketika. Terdakwa kemudian melanjutkan aksinya, dengan membabibuta menebas Wellem Solissa dan Agus Nacikit. Keduanya menangkis, sehingga mengakibatkan lengan bagian kiri serta jari hampir putus. Agus kemudian berlari ke rumah saudaranya, Yones Nacikit.

Terdakwa mengejar Agus dan melemparinya dengan tombak namun tidak kena sasaran. Terdakwa masuk ke rumah Yones Nacikit. Sesampainya di rumah Yones, terdakwa melihat Yati Nacikit, anak Yones Nacikit. Terdakwa menusuk Yati yang baru berusia 14 tahun dari pinggulnya. Korbanpun berteriak, dan didengar oleh ayahnya, Yones.

Setelah mendengar teriakan anaknya, Yones berlari dari arah dapur dan menengok anaknya namun sudah tak bernyawa. Yones pun keluar untuk mengejar siapa pelaku yang menikam anaknya. Sadar diikuti, terdakwa langsung melempar tombak ke arah Yones namun tidak mengenainya.

Terdakwa berlari ke SD Siwatlahin. Sesampainya disana, terdakwa melihat Minggas Solissa beserta kedua anaknya, yakni Yoknan Solissa dan Devi Solissa dan adiknya Elyfas Saleky. Terdakwa kembali mengejar mereka dan memotong Minggas Solissa.

Melihat perbuatan terdakwa, Yoknan Solissa lari, namun dikejar terdakwa dan ditebas dengan parang dari bahu bagian kiri. Sementara Devi, bersembunyi di balik semak-semak.

Akibat tindakan terdakwa, Yoneng Solissa, Herman Solissa, Yoknan Solissa dan Yati Solissa meninggal dunia. Selain itu, Wellem Solissa, Agus Nacikit dan Minggas Solissa, mengalami luka berat serta cacat sehingga tidak dapat melakukan aktivitas sebagai petani. Korban lain, yakni Onyong dan Elifas, hingga kini masih dalam perawatan medis, karena mengalami luka-luka akibat tebasan parang terdakwa.(AFI)

Most Popular

To Top