Dirut BM Dibui – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Dirut BM Dibui

Ketegangan Terjadi di Kejati

AMBON,AE––Dua mobil Sedan meluncur mulus masuk halaman parkir, kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, sekira pukul 10.25. Turun dari dua mobil berbeda itu, Direktur Utama Bank Maluku, Idris Rolobessy, dan bawahannya Pedro Ridolf Tentua.

Setelah masuk kantor korps Adhyaksa itu, Rolobessy tampak gelisah. Dia resah. Mulutnya terus mengucapkan sesuatu. Beberapa jam kemudian, keduanya dieksekusi ke Rumah tahanan Waiheru.

Setelah melapor, bersama tim penasehat hukum masing-masing, keduanya bertemu Kepala Seksi Penyidikan Kejati Maluku, Ledrik Takandengan. Rolobessy didampingi Munir Kairoti, sementara Pedro Ridolf Tentua didampingi Mourits Latumeten. Sambil menunggu diperiksa, Rolobessy tampak gelisah. Dia keluar masuk ruang tunggu pemeriksaan.

Sempat, Munir Kairoti menanyakan keadaan Rolobessy yang terlihat gelisah. Namun, jawaban yang keluar dari mulut Rolobessy menandakan jika dirinya kacau menghadapi proses pemeriksaan. “Rasa-rasa mau makan orang saja, “kata Rolobessy yang sempat didengar wartawan koran ini.

Sementara tersangka Pedro Ridolf Tentua lebih terlihat tenang. Namun murung. Entah apa yang ada dalam pikiran kedua tersangka itu. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan mark up pembelian kantor Bank Maluku di Surabaya, Jawa Timur. Atas status itu, mereka mengajukan praperadilan. Namun upaya hukum itu ditolak majelis hakim.Kemarin, keduanya diperiksa sebagai tersangka untuk pertamakalinya.

Sekira pukul 11.00 Wit, kedua tersangka yang masih pejabat aktif pada PT Bank Maluku-Malut itu langsung masuk ke ruang pemeriksaan I. Di ruang pemeriksaan, ada beberapa tim penyidik yang memeriksa dua tersangka. Diantaranya, Adam Saimima, Ramadhani, Adam Saimima, Ledrik Takadengan dan beberapa penyidik lain.

BACA JUGA:  FATWA Optimis Lulus Tes Kesehatan

Mereka dihujani puluhan pertanyaan yang dilontarkan oleh penyidik. Pertanyaan masih seputar peran kedua tersangka dalam proses pembelian lahan dan gedung di Surabaya. Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, awalnya kegiatan di Surabaya itu bukanlah pengadaan/pembelian, namun hanya sewa. Dalam dokumen, anggaran yang disepakati untuk sewa gedung di Surabaya yakni senilai Rp 4 Miliar.

Namun, atas kerjasama antara Tentua dan Rolobessy, akhirnya kegiatan sewa-menyewa itu dirubah menjadi pengadaan/pembelian. Harga yang dianggarkan yaitu sebesar Rp 46 Miliar. Anehnya, sebelum dilakukan transaksi, atau lebih tepatnya detik-detik akhir menjelang transaksi, harga Rp.46 Miliar, berubah menjadi Rp 54 Miliar. Harga itu, diketahui oleh kedua tersangka.

“Jadi awalnya dalam dokumen sewa. Trus berubah lagi menjadi pembelian. Eh, taunya detik-detik akhir sebelum transaksi harganya dinaikan jadi Rp 54 Miliar. Apa tidak mark up namanya?”beber sumber koran ini.
Sementara proses pemeriksaan berlangsung, sekitar pukul 14.00, belasan aparat kepolisian disiagakan untuk mengamankan proses penahanan tersangka Idris Rolobessy.

Aparat disiagakan karena informasi yang diterima oleh kejaksaan, keluarga salah satu tersangka sudah berkumpul untuk melakukan aksi agar tersangka tidak jadi ditahan.

Ternyata benar. Di luar kantor Kejati, terlihat beberapa pemuda dan tokoh masyarakat yang tidak lain adalah keluarga dari salah satu tersangka. Namun, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena dijaga oleh polisi.
Sekira pukul 15.30 Wit, jaksa lalu menyodorkan Berita acara pemeriksaan kepada kedua tersangka untuk ditandatangani.

BACA JUGA:  Masyarakat Romang dan PT.GBU Siap Berdebat

Tidak hanya itu, jaksa juga menunjukan surat perintah penahanan bernomor 02/S.1/Fd.1/06/2016 tanggal 1 Juni 2016 atas nama tersangka Idris Rolobessy. Dan surat perintah penahanan nomor 01/S.2/Fd.2/06/2016 tanggal 1 Juni 2016 untuk tersangka Pedro R Tentua.

Tentua, digiring terlebih dahulu oleh jaksa. Dikawal oleh polisi dan jaksa, perlahan kepala Devisi Restra dan Korsec PT Bank Maluku itu menuju mobil tahanan operasional Kejati Maluku bernomor polisi B 7125 SPA.
Selanjutnya, sekitar pukul 16.00, Dirut PT Bank Maluku-Malut, Idris Rolobessy digiring keluar ruang pemeriksaan menuju mobil tahanan. Dia dikawal ketat baik oleh polisi, jaksa maupun bodyguard berkacamata hitam.

Dengan wajah tertunduk, Rolobessy yang dikerumuni wartawan berjalan perlahan menuju mobil tahanan. Tidak ada sata kata pun yang keluar dari mulutnya. Penasehat hukumnyapun tidak mau berkomentar. Kedua tersangka lalu dibawa menuju Rumah Tahanan Klas IIA Ambon.

Koordinator Kejati Maluku, yang juga termasuk tim penyidik kasus Pembelian gedung di Surabaya, Ramadhani dan Fahrizal kepada awak media mengatakan, penahanan sesuai mekanisme hukum. Yang mana, penahanan itu bertujuan untuk menghindari agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti, tersangka tidak melarikan diri dan tidak mengulangi perbuatannya.

BACA JUGA:  DPRD Merasa Dihakimi

“Kami melaksanakan surat perintah Penahanan dari Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku. Dan kami melaksanakan perintah KUHAP, penahanan yaitu agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti, melarikan diri atau tidak mengulangi perbuatannya, “kata Ramadhani. Keduanya akan menjalani penahanan selama 20 hari kedepan.

Terpisah, Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Kejati Maluku, Ledrik Takandengan ketika dikopnfirmasi apakah dalam kasus ini pemilik gedung sudah diperiksa oleh jaksa, Takandengan mengiyakan hal itu. Disinggung apakah pemilik gedung menerima Rp 54 Miliar, Takadengan enggan mengungkapnya.

“Yang pasti dalam kasus ini, jaksa kantongi ada kerugian Rp 7,6 Miliar. kalau pemilik gedung atau siapapun, nanti tahulah di Sidang saja, “tegasnya.

Menyoal apakah saat pemeriksaan Dirut PT Bank Maluku Idris Rolobessy, buka-bukaan soal campur tangan pemegang saham, Takandengan secara singkat mengatakan tidak ada hal itu.

“Tidak ada. Selama ini Rolobessy tidak singgung soal itu. Kalaupun pemegang saham kena, kecuali mereka terima fee dari aliran uang itu. Tetapi sampai sekarang Rolobessy tidak singgung soal itu,”terangnya.

Sementara untuk agenda pemeriksaan tersangka lain, Henjte Abraham Toisuta, direncakana berlangsung Kamis hari ini. Karena, lewat penasehat hukumnya, Toisuta mengatakan akan memenuhi panggilan jaksa Kamis 2 Juni.
“Dia bilang akan hadir besok. Karena dia lagi di Surabaya. Jadi, kita tunggu aja besok, “terangnya.(AFI)

Most Popular

To Top