Romang Dirusaki, Pemerintah Diam – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Romang Dirusaki, Pemerintah Diam

AMBON, AE.–– Pemerintah provinsi Maluku maupun kabupaten Maluku Barat Daya dituding melakukan pembiaran terhadap aktivitas penambangan PT. Gemala Borneo Utama (GBU) yang berdampak pada pengrusakan lingkungan. Sampai kemarin, aktivitas penambangan emas masih terus berlangsung.

Ini disampaikan dalam demonstrasi koalisi Save Romang yang terdiri dari puluhan mahasiswa dan pelajar dari berbagai organisasi kepemudaan (OKP), LSM yang berlangsung kemarin. Aksi dilakukan bertepatan dengan hari Lingkungan sedunia. Aksi tersebut diawali dari depan Gereja Maranatha, kemudian berakhir di depan Gong Perdamaian.

Dalam aksi itu, Koordinator Koalisi Save Romang, Collin Leppuy mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup di Maluku. Khususnya menjaga kelestarian ekosistem di Pulau Romang dan kaitannya dengan aktivitas pertambangan di daerah yang hanya seluas 17.500 Hektar itu.

Dia menuding, pemerintah berada dibalik aktivitas pertambangan dan kejahatan lingkungan yang terus berlanjut di Pulau Romang. Baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi hingga pemerintah kabupaten.

“Mereka semua adalah aktor intelektual dibalik pengrusakan lingkungan di Pulau Romang. Dan mereka harus bertanggungjawab,” kata dia.

Mereka menyesalkan sikap diam Gubernur Maluku, Said Assagaff terkait masalah Pulau Romang. Padahal, pihaknya telah melayangkan surat kepada gubernur untuk bertemu sekitar dua minggu lalu. Sayangnya, hingga kini belum ada respon pemerintah.

Ketua Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku, Costansius Colatfeka menghimbau seluruh masyarakat Maluku dapat bersama membangun gerakan menyelamatkan lingkungan, khususnya Pulau Romang.

“Yang terjadi di Pulau Romang, kini telah menjadi isu Sentral dalam gerakan ini. Karena yang terjadi di Pulau Romang saat ini, akttifitas PT.GBU sudah menimbulkan kerusakan lingkungan hidup yang cukup serius, ” katanya.

Baik itu pembuangan limbah yang tidak beraturan, lanjutnya dia, maupun penebangan terhadap tanaman umur panjang milik masyarakat setempat. Hal itu dilakukan semata-mata demi kelancaran aktivitas pertambangan di Pulau Romang.

Lebih parahnya lagi dan kini menjadi perhatian serius, aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh PT.GBU berlangsung di wilayah pegunungan Pulau Romang. Sementara, sumber air atau mata air yang sehari-harinya dikonsumsi oleh masyarakat setempat, berasal dari gunung.

“Jika hal ini terus berlanjut, maka pertambangan yang dilakukan oleh PT.GBU, dikhawatirkan sumber atau debit air akan berkurang. Yang lebih ditakutkan, bisa saja sumber air itu tercemar oleh limbah-limbah dari aktivitas tambang, “terangnya.

Saat ini, tambah Collin Leppuy, tim sementara melakukan investigasi pengumpulan data-data sampel tanah untuk dilakukan pengujian laboratorium. Setelah seluruh data sudah terkumpul dan diuji, dan ditemukan kerusakan lingkungan, akan dilaporkan kepada penegak hukum.

“Kalau sudah ada data investigasi kemudian diuji dan hasilnya positif terjadi kerusakan lingkungan, maka kita akan lapor pidana pihak-pihak yang bertangungjawab sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan, “pungkasnya.(AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!