Usung Richard, PDIP Taruhan Kepercayaan – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Usung Richard, PDIP Taruhan Kepercayaan

AMBON,AE––PDI Perjuangan diprediksi bisa kehilangan kepercayaan dari konstituen jika mengusung Richard Louhenapessy sebagai calon Walikota Ambon periode 2017-2022 yang merupakan kader Golkar. PDIP akan dianggap sebagai pembeli kandidat, bukan penyedia kandidat. Karena itu,
PDIP disarankan agar objektif dan rasional.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Mohtar Nepa-Nepa mengatakan, jika ditelaah, ada dampak negatif PDIP memilih Richard Louhenapessy. Dampak negatifnya, menurunkan tingkat kepercayaan konstituen terhadap PDIP.

“Sebab, PDIP mempratikkan fenomen pembeli kandidat akibat stok partai dianggap tidak mampu menyaingi popularitas RL (Richard Louhenapessy). Padahal sebetulnya PDIP masih memiliki kader partai yang laku dijual,”kata Mohtar kepada Ambon Ekspres melalui pesan pendek atau sms, Senin (6/6).

Yang lebih berbahaya, kata dia, perlahan perolehan suara PDIP bisa tergerus dan menjadi partai kalah di pemilihan umum nanti. “Disamping itu, PDIP akan kehilangan momentum politik sebagai partai yang berkuasa di negeri ini. Akibatnya, PDIP dianggap tidak mampu merebut Ambon 1 yang berasal dari kader PDIP,”katanya.

Juga akan berdampak pada penyelenggaraan pemerintahan manakala Richard memenangkan pertarungan pemilihan Walikota dan wakil Walikota.”Disamping itu, jika kemudian RL berhasil merebut Ambon 1 tahun 2017, maka bisa dipastikan model penyelenggaraan pemerintahan terbelah antara kepentingan politik Golkar dan PDIP dalam setiap pola pengambilan kebijakan politik. Suatu saat mereka akan memiliki pandangan berbeda. Di sinilah saya sebut pemerintahan terbelah, ” paparnya.

BACA JUGA:  PPATK akan Telusuri Aliran Dana

Bahkan, akan menjadi preseden buruk bagi PDIP di mata konstituen. Sebagai partai yang memiliki banyak stok kader, didorong untuk bertarung demi mempertahankan gengsi kepartaian. “PDIP harus memiliki otonomi politik dalam menentukan masa depan partai dan konstituen. Tentunya, dengan mencalonkan kadernya atau kandidat lain bukan kader Golkar,”jelasnya.

Sementara dari sisi positif, jika PDIP mengusung Richard, maka menjadi koalisi yang kuat untuk mengalahkan lawan politiknya. Dengan demikian, tercipta koalisi yang kuat antara Golkar dan PDIP serta partai pengusung lainnya.

Pengamat Unpatti lainnya, Johan Tehuayo mengatakan, jika PDIP mengusung Richard, akan terjadi konflik internal di kalangan elit PDIP. Hal ini terjadi karena perbedaan kepentingan politik kuat. “Dampak negatif terhadap PDIP adalah, akan terjadi konflik internal di kalangan elit parpol dan politik karena keputusan parpol tidak mempertimbangkan aspirasi politik dari kalangan struktur PDIP di tingkat cabang dan ranting serta basis,” katanya.

Ini akan mengakibatkan distorsi peran dan fungsi PDIP. Kemudian, menyebabkan penurunan dukungan publik terhadap partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu.

BACA JUGA:  Kapolri Belum Dipastikan Datang

“Akibatnya pada konteks kota Ambon, PDIP akan mengalami distorsi peran dan fungsi yang akan berpengaruh terhadap penurunan dukungan publik pada saat pemilu lokal dan pemilu nasional,”paparnya. Namun, lanjut dia, realitas politik saat ini tidak memungkinkan PDIP dan Golkar bisa berkoalisi.

Selain itu, secara historis, sisologis dan politik dalam menghadapi proses politik di tingkat lokal, baik di Ambon maupun di Maluku telah terfragmentasi menjadi dua kekuatan politik yang dominan, yakni kekuatan Golkar dan PDIP.

“Jadi, kemungkinan rekomendasi politik PDIP kepada Poly dan Sam akan menjadi realitas politik yang tidak bisa dihindari. Sedangkan Golkar kepada Richard dan Lutfi Sanaky,”pungkasnya.

Seperti diketahui, sebanyak empat bakal calon Walikota Ambon yang mendaftar di PDIP Kota Ambon. Mereka adalah Walikota incumbent Richard Louhenapessy, kepala dinas sosial Provinsi Maluku Paulus Kastanya, kader PDIP John Jokohael dan kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Ambon Brury Nanulaitta. Mereka sudah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan. Kini, menanti keputusan rekomendasi dari DPP PDIP.

Masih Dianalisis
Sementar itu, PDIP belum ingin mempublikasikan hasil survei dan menetapkan calon yang akan diusung nanti untuk lima daerah, yakni kota Ambon, kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Buru dan Maluku Tenggara Barat. Pasalnya, hasil survei masih dianalisis.”Masih dianalisis,”kata ketua Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PDIP Kota Ambon, Janes Riruma.

BACA JUGA:  Kejati-Kejari Rebutan Kasus

Wakil ketua DPD PDIP Maluku Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) Hendrik Sahureka, juga mengaku, pihaknya belum mengetahui hasil survei untuk Pilkada SBB. “Memang sudah selesai dilakukan survei, tapi kita belum tahu hasilnya seperti apa. Karena belum dipresentasikan ke DPD dan DPC-DPC. Termasuk untuk SBB. Kalau ada yang bilang sudah, itu informasi dari mana,”kata Sahureka.

Sesuai mekanisme, lanjut dia, setelah selesai survei, hasilnya harus dipresentasikan kepada pengurus di tingkat kabupaten/kota atau Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan provinsi atau Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Hasilnya, baru bisa ditetapkan siapa yang akan diusung.

Dikatakan, PDIP tetap mengutamakan rekomendasi untuk kader yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah maupun wakil kepala daerah. Namun, berpatokan pada hasil survei. “Di SBB pak Evert Kermite maju sebagai bakal calon Bupati. Kader diprioritaskan. Tapi harus disesuaikan dengan hasil survei,”katanya.(TAB)

Most Popular

To Top