Polisi: Penembak Gunakan Senjata Organik – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Polisi: Penembak Gunakan Senjata Organik

AMBON, AE.–– Kesimpulan sementara polisi setelah olah tempat kejadian perkara, penembakan terhadap Kalvin Aunalat dan Wellem Parihala diperbatasan Desa Abubu dan Titawai, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah dilakukan dalam jarak yang sangat dekat. Pelaku menggunakan senjata organi, dan melepaskan tembakan hanya berjarak beberapa meter dari titik berdirinya korban saat itu.

Kasat Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pp.Lease, AKP Baiquni Wibowo mengungkapkan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan sejumlah longsongan peluruh. Temuan itu tidak jauh dari korban. Saat itu, pelaku yang belum teridentifikasi indentitasnya itu melakukan penembakan dengan bersembuyi dibalik pohon.

”Dari oleh TKP itu,jarak penembak dengan korban itu kurang lebih 3 meter. Karena 6 selongsong peluruh yang kita temukan saat olah TKP itu tidak jauh dari korban saat itu. Saat menembak pelaku bersembunyi dibalik pohon kelapa,” tutur Baiquni, Senin (23/5).

Saat pemeriksaan terhadap kurang lebih 16 saksi yang dimintai keterangan, polisi memastikan pelaku menggunakan senjata api organik. Pasalnya, tembakan dilakukan secara rentetan. ”Sebelum kejadian kan ada beberapa temannya juga. Ada tiga sepada motor, saat itu.

BACA JUGA:  Elsye-Azis Sudah Dapat 60 Persen KTP

Dua motor sudah duluan. Kalau keterangan yang kita dapat dari teman korban yang bernama Krisna, duluan korban saat itu, dia melihat api keluar dari laras senjata, dan mendengar rentetan bunyi tembakan. Jadi bisa dipastikan senjata itu organik. Kalau rakitan tidak seperti itu,” ujar Baiquni.

Penembakan terhadap Kevin dan Wellem yang dilakukan OTK itu terjadi Senin (16/5) malam sekitar pukul 19.40. Penembakan itu terjadi di perbatasan Desa Titawai dan Abubu. Sebelum penembakan misterius itu, kedua korban bersama dengan empat orang teman lainya, menggunakan tiga unit sepada motor saling berboncengan pergi ke Negeri Titawai untuk mencari sinyal Telkomsel untuk berkomunikasi. Dua korban saling berboncengan.

Dalam perjalanan, teman mereka yang lainnya sudah duluan sampai di ujung Negeri Titawai. Sedangkan keduanya masih berada di tengah perjalanan tepatnya dekat jembatan antar perbatasan Desa Abubu dan Titawai. Setibanya mereka di perbatasan kedua desa ini, mereka melihat ranting kelapa yang melintang di atas jalan raya. Keduanya kemudian memberhentikan kendaraan dan mengangkat ranting kelapa tersebut dari atas jalan.

BACA JUGA:  Golkar Kantongi Nama Kader Pembangkang

Disaat korban (Kalvin Aunalat) mengangkat ranting kelapa tersebut, dia di tembak dari arah depan. Welem Parihala sempat mendengar satu kali bunyi letusan senjata api. Saat itu Wellem sementara berada di atas sepeda motor. Dia melihat temannya sudah terjatuh bersimbah darah terkena tembakan pelaku misterius Wellem mendengar teriakan temannya itu.

Politis
Aksi teror berupa penembakan di sejumlah wilayah di kabupaten Maluku Tengah memang cenderung berulang. Diduga ada kelompok tertentu yang bergerak di berbagai tempat di sana. Banyak motif bisa menjadi latar aksi tersebut, tidak terkecuali masalah politik jelang Pilkada di Maluku Tengah, 2017 nanti.

Wakil Direktur Institut Tifa Damai Maluku, Hilda Rolobessy mengemukakan, beberapa kali penembakan di sejumlah wilayah di Maluku akhir –akhir ini, dapat disebabkan oleh kepentingan kelompok tertentu untuk memperkeruh suasana di wilayah-wilayah tersebut dengan memprovokasi masyarakat di sana.

Hal itu, lanjut Rolobesy bisa dilatari masalah kepentingan politik menjelang pemilihan kepala daerah kabupaten Maluku Tengah, 2017 nanti.

BACA JUGA:  Pekerja Asing Illegal Serbu Serut

“Catatan konflik kita, menjelang Pilkada, baik gubernur maupun bupati, itu sering terjadi aksi teror. Bisa saja karena perbedaan kepentingan politik dalam Pilkada. Nah, kita kuatir, yang terjadi saat –saat ini juga karena motif yang sama,” katanya via seluler, Senin (23/5).

Dengan melihat dari sisi kepentingan politik maka bisa saja, pelaku penembakan adalah satu kelompok. Mereka memilih tempat berbeda dalam bereaksi, guna memprovokasi masyarakat di daerah- daerah tersebut.

Untuk menghentikan aksi tersebut, tidak bisa dengan mengandalkan aparat keamanan. Semua pihak harus kerja sama untuk membentengi masyarakat dari ulah para provokator tersebut. “Harus ada langkah pencegahan secara baik. Polisi dan masyarakat harus terus bersama dalam memerangi pelaku-pelaku ini. Polmas harus dibentuk lalu diberdayakan, sehingga bila ada kejadian tertentu, bisa terantangani dengan dengan segera,” ujarnya. (MAN/ERM)

Most Popular

To Top