Dua Jam Kritis “Tak Tertangani” di RS Bhayangkara – Ambon Ekspres
Amboina

Dua Jam Kritis “Tak Tertangani” di RS Bhayangkara

Korban Tewas Tabrakan Beruntun

Ambon, AE.–– Buruknya pelayanan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Ambon kembali jadi sorotan. Pasien kritis korban lakalantas, Kalsum Liem dibiarkan tak “tertangani” selama dua jam hingga menghembuskan nafas terakhir.
Informasi yang diterima Ambon Ekspres dari keluarga korban menyebutkan, pasca peristiwa tabrakan beruntun di depan Kantor Kehutanan, Kebun Cengkeh, Jumat 24 Juni, ada dua korban dilarikan ke RS Bhayangkara Ambon. Salah satunya korban kritis, Kalsum Liem, warga Batu Merah.

Korban mengalami luka robek di atas kening dan beberapa lebam di bagian wajah. Sementara bagian perut korban, terdapat luka robek berdiameter sekira 10 cm dengan kedalaman antara 5-10 cm. Beberapa saksi mata bahkan menyebutkan usus korban keluar.

Yang disayangkan, kata salah seorang keluarga korban, Novan Liem, saat korban berada di Instalasi/Unit Gawat Darurat (UGD) RS Bhayangkara. Pihak RS terkesan menangani korban seadanya. Korban hanya diberikan bantuan infus dan oksigen, serta luka di bagian wajah diberikan obat dan diperbam.

“Sementara luka robek mengangah yang besar di perut sebelah kiri hanya dikasih gumpalan kain khas untuk menutupi agar darah tidak terus keluar. Ironisnya, pihak RS tidak mengambil tindakan bedah secepatnya,” ungkap Novan, Minggu 26 Juni.

BACA JUGA:  Penetapan Tersangka Yang Membingungkan

Menurut Novan, saat itu pihaknya beberapa kali menanyakan ke perawat jaga di UGD, mengapa tidak dibedah atau dijahit luka tersebut, para perawat mengaku pihaknya sudah menghubungi dokter bedah dan akan ke rumah sakit.
Sayangnya, diceritakan legislator DPRD Ambon ini, hingga satu jam kemudian atau dari pukul 16.25 WIT korban masuk ke ruang UGD hingga pukul 17.25 WIT, dokter yang ditunggu tak kunjung hadir.

“Bibi kami yang awalnya dibawa masuk ke RS masih dalam kondisi sadar, dan sesekali mengeluh dadanya sakit akhirnya lemas tak berdaya, karena darah terus keluar dari luka di perutnya,” jelas Novan.

Tidak sampai disitu, keluarga juga berulang kali bertanya terkait kedatangan dokter, perawat jaga UGD selalu memberi harapan bahwa dokternya akan datang. Bahkan, kata salah satu perawat, dokternya akan ikut dalam acara buka puasa yang digelar di RS itu, sehingga dipastikan dokternya akan datang.

“Harapan yang diberikan pihak RS bahwa akan datang dokter bedah, sehingga kami tidak memaksa untuk mengeluarkan korban guna dilarikan ke rumah sakit lain,” terangnya.

BACA JUGA:  Gubernur-Richard Perlu Diperiksa

Tapi sayang, sampai pukul 18.15 WIT, diungkapkan Novan, korban tiba-tiba drop dan tidak bernafas. Keluarga kemudian memanggil perawat dan coba ditangani dengan memompa jantung dan memasang deteksi detak jantung ke tubuh korban.

“Saat itu pihak perawat menyebut korban sudah kritis. Detak nadinya sangat lambat. Tapi kami sayangkan karena dokter bedah juga belum datang. Sebelumnya dokter hanya menelepon agar korban di rontgen, tapi tidak sempat dilakukan,” tambah Novan.

Karena tak kunjung dibedah atau ditangani sebagaimana layaknya korban kritis, akhirnya ibu tiga anak itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 18.32 WIT.

Pelayanan yang buruk tersebut membuat keluarga korban sempat mengamuk di RS. Mereka memprotes langkah pihak rumah sakit yang lamban dalam menangani pasien kritis.

“Kami mempertanyakan bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien kritis di rumah sakit itu? Apa memang pasien kritis harus menunggu dokter bedah sampai dua jam dan tak kunjung ditangani? Apa seperti itu standar sebuah rumah sakit?” tegas Novan, mempertanyakan.

BACA JUGA:  Nilai Jual Tagline Politik

Yang kami sayangkan, tambah Novan, di dalam UGD saat itu terdapat seorang dokter umum. Bahkan, dokter umum itu mengaku kepada pihak keluarga, dia bisa mengambil tindakan, hanya saja prosedurnya harus menunggu dokter bedah.

“Sementara dokter bedah sendiri setelah korban meninggal dunia baru datang. Aneh,” kesalnya.
Informasi yang diterima, sesaat setelah korban meninggal baru dokter bedah tiba di RS. Saat itu, bahkan Kepala RS Bhayangkara Ambon, dr Ridwan ikut memanggil keluarga korban dengan maksud menjelaskan kondisi korban kepada keluarga. Hanya saja, niatnya itu malah berbuah protes dari keluarga korban.

“Dokter apa yang mau dijelaskan? Kita butuh ditangani sebelum jadi mayat, bukannya dijelaskan kondisinya setelah jadi mayat,” teriak salah satu keluarga korban di UGD.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, Kompol dr Irwan sempat menjelaskan kepada keluarga bahwa penanganan awal sudah dilakukan pihaknya. “Dan itu sudah sesuai prosedur,” katanya di depan keluarga korban.
Buntut dari itu, kata Novan, pihaknya sementara menyiapkan laporan untuk malaporkan pihak RS Bhayangkara ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI), DPRD Kota Ambon dan Polda Maluku. (syn-aha)

Most Popular

To Top