Mengamen untuk Bahagiakan Anak Yatim – Ambon Ekspres
Ragam

Mengamen untuk Bahagiakan Anak Yatim

SELAIN Berawal dari rasa kepedulian terhadap nasib anak yatim dan kaum dhuafa, sejumlah anak muda dalam komunitas kreatif di Kota Ambon berupaya mencari dana untuk membantu. Mulai dengan cara membuka donasi terbuka, hingga mengamen dari café ke café.

“Apa yang teman-teman sumbangkan malam ini, sangat bermanfaat bagi anak-anak yatim. Jangan merasa rugi atau terbebani,” ucap Willy Waas, seusai melantunkan sebuah lagu dalam kegiatan bertajuk ‘Ngamen Ramadan, Ramadan Berbagi’ di Wokrshop Coffe, Sabtu (26/6).

Willy yang adalah salah satu penyanyi muda Ambon itu, menyanyikan tiga lagu. Ada juga Petra Ayowenbun, Michael Pelupessy dan sejumlah penyanyi lokal Ambon lainnya. Selain itu, juga ada pembacaan puisi oleh Rudi Fofid, David Yonry dan Helena Fofid.
Malam itu, suasana Wokrshop Coffee tidak sama seperti malam-malam lainnya. Jika para penyanyi lokal Ambon mengisi di café itu sekadar menghibur pengunjung, malam itu, mereka bernyanyi untuk mengumpulkan rupiah yang diinfakkan untuk anak-anak yatim pada tiga yayasan dan panti asuhan di Kota Ambon.

Pemandangan yang sama juga terlihat di The Pansiona Café yang terletak di jalan A.M. Sangadji. Mereka mulai bernyanyi sejak jam 9 hingga jam 1 malam. Tak sedikit pengunjung di kedua café itu mendonasikan uang secara sukarela.

Kegiatan amal dengan nama Ramadhan Berbagi ini mulai dilaksanakan 2010 lalu. Terinisiasi dari gerakan anak muda kreatif Maluku di Kota Ambon pada saat itu, yang terkenal dengan tagline Ambon Bergerak, ide ini cetuskan.

“Tahun 2010 itu kan ada kampanye Ambon Bergerak. Semacam kampanye dari anak-anak muda komunitas kreatif Ambon. Nah, dari situ, lalu diiniasasi kegiatan Ramadhan Berbagi, ”ungkap Djuliyati Toisuta di depan The Pansion Café.

Ada dua tujuan besar dari kegiatan Ramadhan Berbagi, yaitu berbagi untuk anak yatim dan kaum dhuafa serta sebagai ajang silaturahmi antar komunitas-komumitas orang muda kreatif di kota ini. Para insiator sadar, dampak konflik komunal 1999 silam masih terasa. Sehingga ruang-ruang perjumpaan harus dibuka.

“Jadi, memang tujuan awalnya untuk menyatukan komunitas-komunitas ini. Karena ada komunitas kreatif dari anak muda Muslim dan juga Kristen. Misalnya, komunitas Blogger Maluku yang mayoritas Muslim. Atau ada komintas Ambon Band yang personilnya berasal dari komunitas Muslim dan Kristen,” jelas perempuan yang biasa disapa Julia itu.

Atas dasar itulah, gagasan ini disambut positif oleh semua komunitas kreatif yang tergabung dalam komunitas besar, Ambon Bergerak. Karena terdapat banyak komunitas, koordinator atau pelaksana Ramadhan Berbagai pun digilir.
Penggalangan dana untuk tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni mengamen, sumbangan sukarela melalui rekening dan pengajuan proposal kepada beberapa perusahaan dan bank swasta. Kemudian, sumbangan makanan dan minuman dari Workshop Coffee dan The Pansiona Café.

“Ada sumbangan selain uang. Misalnya pihak Workshop Coffee menyumbang makanan berbuka dan 100 gelas minuman dan teh dari The Pansion Café, Sriwijaya Air menyumbang sembako, Telkomsel 1,5 juta,” ungkap Julia yang adalah merupakan salah satu inisiator kegiatan tersebut.

Tahun ke-7
Kini, Ramadhan Berbagi sudah memasuki tahun ke-7. Ambon Band Community, adalah komunitas yang menjadi pelaksana pertama di tahun 2010. Kala itu, pemberian bantuan dipusatkan di Gong Perdamaian.

Kemudian, Blogger Maluku yang menjadi penanggung jawab Ramadhan Berbagi 2011 yang dilaksanakan di Aula Bank Indonesia. Tahun 2012, berbagi untuk anak yatim ditangguhkan. Hasil penggalangan dana didonasikan untuk korban banjir yang melanda beberapa lokasi di Kota Ambon.

Setelah itu, tiga komunitas sebagai pelaksana pada tiga tahun berikutnya, yaitu Komunitas Seni Embun (2013), Maluku Baronda (2014) dan Penyala Ambon (2015). Di tahun ini, Milanisti Indonesia Sezione Ambon didapuk sebagai penanggung jawab.

Pembagian ini, memang dirancang agar semua komunitas dapat berpartisipasi. Tentu, tidak terlepas dari tujuan utama, yakni menghapus sekat antara orang muda Kristen dan Muslim tergabung dalam komunitas-komunitas kreatif.

“Sesuai dengan taglinenya, peduli sama dengan kreatif, kami tidak ingin sekadar melakukan hal-hal kreatif demi eksisten komunitas. Tapi, harus punya nilai kepedulian terhadap anak-anak yatim. Supaya rasa peduli terhadap sesama dapat dimiliki setiap individu yang tergabung dalam komunitas-komuitas ini,”terang Julia yang berkecimpung di komuits Maluku Baronda.

Menariknya, mayoritas orang yang bergerak dalam untuk kegiatan Islami ini yang beragama Kristen. Mulai dari membuat konsep kegiatan, menyebarkan informasi di media sosial hingga mengamen dari café ke café.

Potret ini yang membuat komunitas-komunitas kreatif di Ambon tetap eksis sampai saat ini. Sekat agama, sudah tidak lagi dipermasalahkan. Semuanya berbaur, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi anak yatim atas nama kemanusiaan dan kepedulian sosial.

“Yang punya sumbangsih untuk ide kegiatan, donasi, ngamen, turun ke jalan membagikan liflet dan sebagainya justru mayoritas teman-teman Kristen. Ini menjadi daya tarik Ramadhan Berbagi,” tutur dia.

Grace Huwae Tomahua, mengaku bahagia bisa menyumbangkan beberapa lagu di The Pansion Café malam itu. Menurut dia, semua manusia adalah bersaudara. “Namanya kita sesama saudara, kita saling membantu. Saya bahagia bisa membantu anak-anak yatim. Sudah dua tahun saya berpartisipasi dalam kegiatan Ramadhan Berbagi ini,”kata Grace.

100 Anak Yatim
Donasi uang yang dikumpulkan untuk kegiatan tahun ini sekitar Rp20 juta. Donaturnya tak hanya dari Maluku, tapi juga dari daerah-daerah lainnya. Uang ini dipakai untuk membeli mukena dan kain sarung, paket buka puasa dan infaq senilai Rp50.000 bagi tiap anak yatim.

Sebanyak 100 anak yatim penerima bantuan. Mereka berasal yayasan Almadinah (Air Besar), Ittaqullah (Kebun Cengkeh) dan Nurul Ikhlas (Air Besar) serta Al-Anshor. Penyerahan bantuan berlangsung di Aula IAIN Ambon, Selasa (28/6). Hingga tahun ke-7 ini, komunitas kreatif atas bantuan berbagai pihak, telah berbagi untuk lima yayasan dan panti di kota Ambon.

Pengurus Yayasan Al-Anshor, Ahmad Nurdin mengaku, bantuan yang diberikan oleh komunitas kreatif di kota Ambon. Bukan karena materi, namun kehadiran mereka menjadi motivasi bagi anak-anak yatim untuk belar. Juga membuat anak yatim merasa ada, tak sendiri meski telah ditinggalkan oleh orang tua.

“Karena sesungguhnya, mereka merasakan penderitaan anak-anak yatim di panti. Anak-anak yatim pun merasa punya banyajk teman dan tidak sendiri. Masih ada orang-orang yang melihat mereka. Kami kembalikan kepada Tuhan yang maha kuasa bisa membalas kebaikan yang mereka lakukan terhadap kami,”ungkap Ahmad.

Berbagi Sarung
Kepedulian terhadap sesama yang selama ini dilakukan oleh komunitas-komunitas orang muda, menyebar ke semua fragmen masyarakat. Salah satunya, dengan kegiatan sharing sarung (berbagi sarung) lebaran kepada pengayuh becak, tuna wisma, serta orang-orang pinggiran menjelang hari Raya Idul Fitri.

Uang untuk membelanjakan sarung, berasal dari sisa donasi. Ada juga dari uang terlambat dikrimkan oleh donatur kepada penanggung jawab.

“Pada tahun-tahun sebelumnya, selalu ada uang tersisah dari donasi yang terkumpul. Karena biasanya teman-teman memasukan harinya pas hari H, sementara kami sudah menyiapkan semuanya untuk diberikan kepada anak-anak yatim. Uang yang pakai untuk membeli kain sarung dan membagikannya kepada penyayuh becak. Kami juga membagikan kain kepada tuna wisma dan orang-orang yang tinggal di bawa kolom jembatan dan emperan Amplaz, ”kenang Julia.

Selain itu, pada 2015 Julia dan teman-temannya bekerja sama dengan salah satu pekerja sosial di Jakarta, Ahmad Alkatiri. Kala itu, Ahmad membuat gerakan belanja lebaran. Ia menghimpun para pengusaha di Jakarta memiliki rasa peduli untuk menggalang dana secara bersama.

Kerja sama ini menghasilkan donasi uang sekitar Rp20 juta yang pakai untuk belanja pakaian lebaran anak-anak yatim dari Panti Asuhan Al-Madinah. Setiap anak yatim dijatahi Rp300,000 untuk belanja di ACC.

Sebagai sebuah gerakan sosial, para orang muda yang tersebar pada sekitar 44 komunitas kretaif di Maluku, berharap agar semua pihak dapat melihat lebih dekat nasib anak yatim dan kaum dhuafa. Sebab, menurut Julia, membantu anak yatim, bukan sebatas memberi fasilitas. Namun, yang jauh lebih penting adalah membina mereka agar bisa bersaing dengan anak-anak lainnya yang masih mendapatkan kasih sayang dari orang tua.

“Sebenarnya, ini merupakan kritik secara tidak langsung terhadap pemerintah kota Ambon maupun provinsi Maluku untuk peduli kepada anak yatim. Bukan hanya menyediakan fasilitas. Tetapi juga menyediakan sarana, ruang bagi mereka untuk menuangkan minat dna bakat,”tukas fasilitator di Paparisa Ambon Bergerak (PAB), ini.

Most Popular

To Top