Syarif: Saya Siap Maju Dampingi Richard – Ambon Ekspres
Politik

Syarif: Saya Siap Maju Dampingi Richard

Richard: PDIP Sangat Tidak Menguntungkan

AMBON, AE—Syarif Hadler telah menyatakan sikap maju sebagai bakal calon Walikota Ambon. Dorongan kuat dari tokoh agama, tokoh masyarakat, kader dan tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) serta niatnya menjaga partai, menjadi alasan utama. Richard Louhenapessy pun membuka peluang menggandeng Syarif.

Kepada Ambon Ekspres di kediamannya, Galunggung, Kamis (14/7) tadi malam, ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) mengungkapkan, dorongan datang dari sejumlah tokoh Muslim dan Kristen. Lalu, ditambah akar rumput masyarakat dan kader PPP hasil Muktamar Jakarta dan Muktamar Pondok Gede,serta tokoh PPP.

Hal ini, yang kemudian membuat mantan Wakil Walikota Ambon ini berijtihat (berusaha bersungguh-sungguh) dan mengambil keputusan untuk maju. Dengan demikian, ia merasa tidak terbebani sama sekali.

“Tentunya kepentingan partai dan kepentingan umat kan dan seluruh masyarakat kota ini. Saya kira kalau ada dorongan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akar rumput, bukan sebatas kader partai, dan setelah saya berijtihad, ini merupakan panggilan dan tentu harus direspon dengan baik. Ya dengan segala kerendahan hati, saya menyatakan siap maju mendampingi pak Richard,”kata Syarif.

Di sisi lain, Syarif juga sudah punya perhitungan politik. Terutama soal rekomendasi PPP. Sebab, ia sadar, jika pada akhirnya PPP tidak mengusungnya, kemungkinan untuk digandeng oleh Richard sangat tipis.

Olehnya itu, kendati Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP telah mengusulkan pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota, Paulus Kastanya dan Muhammad Armin Syarif (Sam) Latuconsina, namun ia tetap yakin, peluang direkomendasi PPP tetap terbuka.

Keyakinan ini disandarkan pada keputusan rekomendasi ini, diatur Surat Keputusan DPP PPP Nomor: 005/KPTS/DPP/VI/2016 tentang Petunjuk Pelaksana Pencalonan Dan Penetapan Bakal Calon Kepala Daerah Dan Wakil Kepala, pasal 9 ayat 3 huruf f. Pasal ini menjelaskan, DPP dapat menganulir keputusan Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab) dengan memberi rekomendasi kepada pasangan calon lain atas pertimbangan strategis.

“Tetapi, itu bukan harga mati. Kalau kemudian ada pertimbangan lain yang oleh DPP merasa bahwa secara strategis bisa menguntungkan partai, maka DPP sesuai dengan Juklak itu akan mengeluarkan keputusan dan merekomendasikan pasangan calon lain, yang berbeda dengan hasil Rapimcab,”tandasnya.

Syarif menyadari bahwa Golkar dan PPP sudah melakukan pentahapan penjaringan bakal calon Walikota dan wakil Walikota. Namun, dia tetap membangun komunikasi dengan Richard. Lintas partai juga telah dijalin.

Akan tetapi, Syarif istiqomah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Richard dalam menentukan wakilnya. “Saya kira berbagai kalangan mendatangi saya untuk maju mendampingi pak Richard. Oleh karena itu, komunikasi mulai dibangun. Bahwa kemudian jadi tidaknya dengan pak Richard, itu menjadi kewenangan dari pak Richard,”ujarnya.
Ia juga optimis, semua kubu di PPP akan bersatu mengamankan keputusan DPP.

Baik kepada dia maupun calon lain yang mendapatkan rekomendasi PPP. “Semua elemen PPP pasti bersatu. Bahkan, dalam proses kesiapan saya untuk maju ini, justru menyatukan dua kubu. Baik PPP hasil Muktamar Jakarta maupun PPP hasil Muktamar Pondok Gede, Asrama Haji. Yang kubu Jakarta saja bisa merapat apalagi kader partai yang masuk dalam kepengurusan hasil Muktamar Pondok Gede,”tukasnya.

Sementara itu, sekretaris wilayah DPW PPP Maluku versi Muktamar Jakarta, Sabar Ramelan mengaku, Syarif didorong secara resmi oleh tokoh-tokoh PPP seperti Hasan Laitupa, Hasbollah Selang (mantan ketua DPW), Amir Tuasamu (mantan wakil ketua DPRD Ambon), dan Imam Besar Masjid Alfatah. Beberapa tokoh Kristen juga memberikan dukungan langsung.

Pertimbangannya, Syarif adalah tokoh yang dinilai bisa membawa kepentingan umat Muslim dalam pemerintahan lima tahun ke depan. Sementara itu, secara politis, PPP akan berkembang jika kadernya sendiri yang memimpin pemerintahan.

Di era Syarif menjabat wakil Walikota Ambon, PPP mendapatkan 5 kursi di DPRD kota. Kala itu, memang pemilihannya lewat DPRD. Jumlah ini berkurang menjadi 3 kursi. Kendati demikian, Syarif dianggap sebagai kader dan tokoh yang berkontribusi secara total kepada PPP.

Peluang Terbuka
Sementara itu, Richard Louhenapessy mulai tergoda dengan sikap Syarif ini. Peluang untuk menggandeng Syarif cukup terbuka. Hal ini tergambar dari komunikasi serius yang terus dilakukan oleh keduanya.

“Peluang itu sangat terbuka dan sangat kuat, karena tidak ada pilihan lain,”ungkap Mantan ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kota Ambon dan Kader partai Golkar yang juga tim, Richard Tuapatinaya via seluler.

Beberapa pertimbangan yang mendasari peluang itu. Diantaranya, soal peluang Syarif diusung PPP, melalui pasal 9 ayat 3 huruf f tersebut. “PPP kan punya Juklak bahwa ada kewenangan DPP untuk mengeluarkan rekomendasi di luar yang diputuskan dalam hasil Rapimcab. Ini menjadi harapan bagi pak Richard untuk menggandeng pak Syarif,”jelasnya.

Dari aspek politik dan strategi kemenangan, Syarif dinilai sebagai tokoh muslim bisa mengimbangi figur Sam Latuconsina. Kemudian, Syarif punya massa. Ini dibuktikan dengan dua kali ia terpilih menjadi anggota DPRD Maluku dari daerah pemilihan kota Ambon dengan jumlah suara mendekati 10 ribu.

Jika kekuatan ini digabungkan dengan kekuatan Richard, dimana saat ini sebagai walikota dan pernah mendapatkan suara sebanyak 20 ribu atau melebihi bilangan pembagi, maka peluang kemenangan sangat terbuka.

“Dari sisi strategi politik, pak Syarif pantas, karena sudah teruji dua periode terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku. Jadi, dari semua segi, pak Syarif layak untuk menopang Richard dalam penyelenggaraan pemerintahan ke depan,”katanya.

Lantas, bagaimana dengan PDIP dan kandidat mereka dorong? Tuapattinaja menjelaskan, sangat tidak menguntungkan jika Richard berpasangan dengan A.E. Rizal Sangadji dengan garansi rekomendasi PDIP. Dari sisi figuritas, Rizal belum punya pengaruh dan pengalaman dibandingkan Syarif.

Sedangkan PDIP, kata dia, secara nyata telah terbelah menjadi beberapa kubu. Mulai dari lima Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang menyatakan sikap menolak Richard, hingga permainan sejumlah elit dengan kandidat lain.
“PDIP sangat tidak menguntungkan dalam hal strategi menenangkan Pilkada.

Sudah nyata-nyata bahwa lima PAC itu sudah deklarasi menantang. Itu resmi. Nah, apa gunanya sebuah rekomendasi yang berdasarkan kepentingan DPP untuk mengorban RL sendiri. Rekomendasi itu hanya sebatas sebuah kertas kosong,”urainya.

PDIP memang partai besar dan pemenang pemilu secara nasional dan Maluku serta Kota Ambon. Tetapi, secara idiologi, partai berlambang banteng moncong putih ini berbeda dengan Golkar.

Sehingga, lanjut dia, sangat tidak mungkin PDIP mau bekerja memenangkan Richard yang notabanenya adalah kader Golkar. ”PDIP memang partai besar, partai pemenang. Tapi dalam persoalan ini, idiologi Golkar dan PDIP jelas berbeda. Apakah mugkin kader PDIP bekerja untuk kemengan Richard yang notabanenya adalah Golkar?,”terangnya.(TAB)

Most Popular

To Top