Gubernur: Kita Kehilangan – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Gubernur: Kita Kehilangan

Dulu dia seorang birokrat. Dulu dia seorang gubernur. Lalu pensiun. Kini dia meninggal dunia. Muhammad Saleh Latuconsina, sudah dipanggil sang Khalik. Dia pergi di hari besar. Jumat yang Mubarok. Masyarakat Maluku merasa kehilangan. Kehilangan seorang pemikir. Kehilangan innovator dalam pembangunan Maluku. Semua pun berduka di saat langit Kota Ambon gelap.

Lahir 15 Juli 1948, dari keluarga sederhana. Kombinasi Pelauw di Pulau Haruku, dan Desa Asilulu, Maluku Tengah. Saleh kecil punya keilmuan yang baik. Meski dari keluarga sederhana, dia mampu menyelesaikan S1 di Institut Teknologi Bandung. Kemudian melanjutkan S2 dan S3 di Perancis.

Kariernya dimulai di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi sejak tahun 1973. Tahun 1989-1992 menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi kemudian tahun 1992-1997 menjadi Ketua Bappeda Provinsi Maluku. Tahun 1997, almarhum terpilih menjadi Gubernur Maluku periode 1997-2002, menggantikan M. Akib Latuconsina.

Baru satu tahun lebih memimpin daerah ini, almarhum harus menghadapi kondisi berat. Daerah ini dilanda konflik hebat. Kehidupan sosial di hampir semua daerah, berikut infrastruktur, porak-poranda. Kedamaian seakan menjadi barang mahal saat itu, sulit diwujudkan.

Sebagai pemimpin di Maluku, almarhum juga sangat tidak ingin daerah terus dilanda konflik. Berbagai upaya pun dilakukan guna membawa daerah ini keluar dari keterpurukan.

Tidak mudah mendamaikan masyarakat yang sudah terlanjur terprovokasi hingga terlibat pertikaian saat itu. Menyudahi kerusuhaan saat itu adalah menyelesaikan masalah yang kompleks.

Saat itu, almarhum yang merupakan Penguasa Darurat Sipil (PDS) Daerah Maluku pun memberlakukan pelarangan pendatang baru dari luar Maluku. Ini untuk menghindari provokasi yang lebih parah di masyarakat.

Setelah kondisi mulai membaik, almarhum sadar, ada pekerjaan besar yang masih dilakukan yaitu mengembalikan Maluku pada kondisi sebelum kerusuhaan. Saat itu, membangun infrastruktur yang telah rusak adalah hal yang mudah, dibandingkan membangun kembali tatanan sosial yang juga hancur akibat konflik yang terjadi selama hampir empat tahun itu.

“Beliau memimpin Maluku itu di saat yang sulit, di saat kita ribut,” ungkap gubernur Maluku, Said Assagaff via seluler, Jumat (15/7). Sebagai pemimpin saat itu alamarhum juga menunjukkan peran penting dalam mengusir para provokator dari daerah ini dengan terus membangun kerja sama yang baik dengan pihak yang berkepentingan mendamaikan Maluku.

“Beliau punya andil besar dalam proses perdamaian di Maluku. Kita merasa kehilangan sosok yang mempunyai visi membangun yang baik,” kata Assagaff.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap alamarhum, sejumlah pejabat daerah Maluku pun bertolak ke Jakarta. “ Kita semua turut berduka cita. Beliau itu orang yang baik, beliau punya visi-misi untuk bangun Maluku itu baik sekali. Membangun Maluku dari laut, itu kan di era beliau itu. Hari ini (kemarin) juga saya akan ke Jakarta untuk menyampaikan ucapan duka atas nama kita semua yang di Maluku,” jelasnya.

Kabar meninggalnya Saleh Latuconsina juga mengagetkan sejumlah warga Belanda asal Maluku. Mereka menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya mantan Gubernur Maluku itu.

Vicktor Joseph, aktivis media dari Belanda, masih ingat pada waktu Februari 1999. Saat itu dia di Belanda dalam panitia (di bentuk mendadak) Satu Tagalaya. Di dalam panitia itu ada Robert Hallatu, Erms Suripatty dan dia sendiri.

“Ini untuk bangun satu event Satu Tagalaya untuk Islam dan Kristen di Belanda, supaya jangan ada kekisruhan. Malam event itu dikemas dengan artis dan tari tarian,” kata dia.

Siang itu, dia dan sejumlah rekannya di Belanda melakukan press conference yang melibatkan, TV,r adio nasional dan media disana. “Samua hadir untuk dengar berita langsung dari Maluku. Beta urus melalui telpon dan speakers pak Saleh Latuconsina bicara langsung ke wartawan.

Katong translet untuk wartawan-wartawan bule yang hadir. Media dengar antua pun suara untuk tetap tenang dan menahan diri dan terus menjalin hubungan Islam dan Kristen,” tutur Vicktor.(***)

Most Popular

To Top