Syarif Ditolak Golkar – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Syarif Ditolak Golkar

PDIP Belum Yakin Richard Gandeng Syarif

Keputusan Richard Louhenapessy menggandeng Syarif Hadler belum berbuah manis. Tak hanya bermasalah di PPP, di Partai Golkar juga demikian. Dari DPP hingga Golkar tingkat kecamatan memprotes keputusan Richard menggandeng Syarif. Mereka menilai keputusan Richard salah, karena menyalahi petunjuk pelaksana di Partai Golkat.

Bagi kami, ini merupakan sesuatu yang salah. Juklak bilang lain, yang terjadi malah lain. Mulai dari pendaftaran sampai uji kelayakan dan kepatutan, pak Syarif Hadler tidak berproses. Tapi dia (Syarif) ditunjuk sebagai wakil Walikota oleh pak Richard Louhenapessy,”ungkap Ketua Golkar kecamatan Nusaniwe, Alfa Somarwane kepada wartawan yang didampingi empat ketua Golkar kecamatan lainnya, yakni Sutan Marsida (Sirimau), Fretz Karlely (Baguala), Ferdinand Maatita (Teluk Ambon), dan Hadi Mairuhu (Leitimur Selatan) di rumah Kopi Mekar, Minggi (24/7).

Dari seluruh tahapan penjaringan, Golkar memutuskan dan mengusulkan lima nama bakal calon wakil Walikota ke DPP, yakni Irma Betaubun, Lutfi Sanaky, M Saleh Wattiheluw, Ridwan Rahman Marasabessy dan Sam Latuconsina. Sedangkan Syarif tidak berproses.

Sebelum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar menetapkan rekomendasi, lanjut Alfa, Golkar lima kecamatan akan menyampaikan pernyataan sikap. Dengan harapan, dapat dipertimbangkan oleh DPP. “Kami akan buat surat pernyataan dan sampaikan ke DPP, yakni ketua umum, sekretaris jenderal, ketua pemenangan dan ketua bidang organisasi. Jadi ini akan menjadi pertimbangan bagi DPP,”katanya.

Karlely mengingatkan DPP dan oknum kader Golkar agar tidak mengintervensi Juklak. “Prinsipnya kami menolak intervensi politik dalam bentuk apapun yang mengkebiri Juklak Pilkada. Baik oknum maupun Golkar secara institusi. Termasuk DPP,”tegasnya.

Kendati demikian, mereka akan mengamankan apa pun keputusan DPP. Termasuk merekomendasi Richard dan Syarif sebagai pasangan calon Walikota dan wakil Walikota.“Kami siap bekerja untuk memenangkan siapa saja, tapi harus mengikuti aturan partai. Harus ditegakkan. Karena kemenangan di kota merupakan tanggung jawab kecamatan, bukan DPD II atau DPD I,”tandas Alva.

Pengurus DPD II Golkar kota Ambon, Max Pattiapon menerangkan, Richard sudah mempertimbangan semua hal baik dan buruk sebelum membuat keputusan. Baik secara konstitusional partai Golkar maupun etika dan moral selaku politisi senior.

“Pak Richard adalah ketua DPD Golkar kota Ambon, senior dan salah satu tokoh Golkar. Ketika mengambil keputusan, itu sudah melalui pertimbangan dan kajian yang matang. Dari sisi konstitusional partai, maupun etika dan moral berpolitik,”kata Pattiapon.

Dia menjelaskan, di dalam Golkar maupun partai politik lainnya dikenal diskresi (kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi). Itu artinya, Richard telah mempertimbangkan kelonggaran dari DPP Golkar, bahwa calon walikota bisa menentukan siapa wakilnya, walaupun yang bersangkutan tidak mendaftar di partai tingkat kabupaten dan provinsi.

“Itu yang di dalam partai politik dinamakan diskresi. DPP punya pertimbangan bahwa demi kepentingan partai yang lebih besar dan dianggap penting dan strategis untuk kemaslahatan partai di tingkat kota, maka DPP bisa ambil siapa saja setelah dikomunikasikan dengan calon walikota atau wakil Walikota,” jelas ketua Fraksi Golkar di DPRD Ambon itu.

Sehingga menurut dia, pernyatan sikap dari Golkar kecamatan tidak terlalu berpengaruh terhadap keputusan DPP nantinya. Dan, apapun keputusan DPP harus ditaati oleh semua kader.

MASIH YAKIN
Sementara itu, sampai kemarin, PDI Perjuangan belum memberikan sinyal dukungan kepada bakal calon Walikota lain setelah Richard Louhenapessy memilih Syarif Hadler sebagai calon wakilnya. Bahkan, PDIP menganggap, Richard-Syarif belum pasti berpasangan, karena tidak ada rekomendasi yang melegitimasi.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan provinsi Maluku, Lucky Wattimury yang dihubungi Ambon Ekspres via seluler, Minggu (23/7), tidak mau berpekulasi soal perubahan dukungan dari Richard ke kandidat lain. Sebab, kata dia, keputusan terakhir ada di DPP PDI Perjuangan.

“Saat ini kita tidak bisa berspekulasi kepada pasangan siapa rekomendasi PDI Perjuangan diberikan. Sebab semua tahapan pada tingkatannya, yakni DPC, DPD sampai DPP telah dilakukan dan sudah selesai dengan mengusulkan pasangan calon ke DPP. Olehnya itu, kita hanya menunggu keputusan terakhir DPP,”kata Wattimury.

Seperti diberitakan sebelumnya, PDI Perjuangan disebut sudah memilih Richard Louhenapessy untuk diusung menjadi calon Walikota Ambon. Pilihan ini dengan syarat, Richard memilih A.E.Rizal Sangadji atau Muhammad Taddy Salampessy sebagai bakal calon wakil walikotanya. Jika Richard memilih calon lain di luar kader PDIP, rekomendasi yang belum dikeluarkan itu, akan dipertimbangkan kembali.

Sebelum Richard menyampaikan sikap politiknya memilih Syarif, Rabu (20/7), komunikasi Richard dan PDIP sudah hampir final. Bahkan, Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PDIP di hotel The Natsepa, dua pekan lalu, dukungan mengalir ke Richard.

Namun, munculnya nama Syarif membuat komunikasi PDIP dengan Richard sedikit terganggu. Padahal, rekomendasi PDIP untuk calon walikota, sudah tertulis nama Richard Louhenapessy. Hanya saja PDIP menginginkan Richard berpasangan dengan kadernya, Rizal Sangadji, atau Muhammad Taddy Salampessy.

Di tengah lobi-lobi tersebut, tawaran PDIP ini ditolak sejumlah kalangan Partai Golkar termasuk sebagian tim Richard. Misalnya saja, Richard Tuapattinaya yang lebih menginginkan Syarif ketimbang, Richard Louhenapessy menggandeng kader PDIP. Selain itu, dukungan PDIP ke Richard juga ditolak kader banteng.

Wattimuri menampik jika Richard dipriotaskan dalam perebutan rekomendasi. Keputusan Rakorwil tersebut, juga mengusulkan bakal calon Walikota Brury Nanulaita dan pasangan Paulus Kastanya-Muhammad Armin Syarif Latuconsina atau Sam.

“Tidak ada percakapan soal siapa diantara ketiganya yang diprirotaskan. Semua punya kesempatan yang sama. Bahwa ada pendekatan-pendekatan dengan DPP, itu urusan lain,”jelasnya.

Hingga kemarin, dia masih beranggapan, Richard dan Syarif belum pasti sebagai pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Ambon periode 2017-2022. Belum ada rekomendasi Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk Richard dan Syarif.

”Siapa yang katakan pak Richard gandeng pak Syarif? sebagai unsur pimpinan partai, kami hanya percaya pada rekomendasi partai. Partai mana saja. Itu berarti keputusan belum final, ”tandasnya. (TAB)

Most Popular

To Top