Pertumbuhan Naik, Ekonomi Melambat – Ambon Ekspres
Ragam

Pertumbuhan Naik, Ekonomi Melambat

AMBON, AE.–– Perekonomian Maluku pada triwulan pertama tahun 2016 tumbuh sebesar 5. 46 persen. Angka ini lebih besar dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan satu 2015 yang menyentuh angka 4.06 persen. Pertumbuhan ekonomi Maluku ini juga melebihi ekonomi nasional yang hanya sebesar 4. 92 persen.

Di satu sisi terjadi pelambatan ekonomi pada triwulan pertama ini dibanding triwulan keempat tahun 2015. Sementara tingkat kemiskinan di Maluku turun 0.17 poin. Pemerintah daerah dinilai kurang kreatif.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2016 itu didorong oleh pertumbuhan perdagangan antara Maluku dengan daerah lain di Indonesia sebesar 21 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 12, 24 persen. Dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang naik sebesar 8, 41 persen.

“Itu adalah tiga sektor yang memberikan kontribusi paling besar dalam pertumbuhan ekonomi Maluku dari sisi permintaan,” kata Kepala Biro Pengembangan Ekonomi dan Investasi Setda Provinsi Maluku, Anton Lailossa kepada Ambon Ekspres di ruang kerjanya, Kamis (28/7).

Sementara dari sisi produksi, prosentase pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan pertama tahun 2016 paling banyak disumbang oleh sektor pertanian, pertambangan, dan industri yang tumbuh sebesar 24.25 persen.
Berikutnya, lanjut Lailossa adalah administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial yang tumbuh sebesar 21 persen. Dan sektor perdagangan yang tumbuh 13. 2 persen.

Ekspor perikanan yang merupakan salah satu unggulan bagi Maluku, mengalami penurunan drastis sejak Kementerian Kelauatan dan Perikanan memberlakukan moratorium penangkapan ikan. Tapi, lanjut Lailosa, penurunan ekspor perikanan itu bisa dimbangi dengan naiknya sektor perdagangan.

“Jika melihat data riil, memang ekspor ke luar negeri bermasalah, karena adanya moratorium di bidang perikanan, tapi perdagangan antar daerah, misalnya Maluku ke Surabaya, meningkat. Jadi, seimbang,” katanya.

Sementara data hasil Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Maluku Triwulan I 2016 Bank Indonesia Perwakilan Maluku disebutkan bahwa, pada Triwulan I 2016, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku mencatat pelambatan yaitu tumbuh 5,46% (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan triwulan terakhir tahun 2015 sebesar 6,49% (yoy). Namun lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 4,92% (yoy).

Dari sisi permintaan, perlambatan didorong oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh terbatas, terutama seiring dengan masih lemahnya ketersediaan lapangan kerja. Pelambatan juga didorong oleh meningkatnya ketergantungan Maluku pada daerah lain seperti tercermin dari meningkatnya net impor antar daerah.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah masih tercatat tumbuh meningkat didorong oleh realisasi APBN yang cukup tinggi di triwulan laporan di saat masih minimnya realisasi APBD Provinsi. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) mencatatkan pertumbuhan yang stabil, didorong realisasi belanja modal APBN di tengah masih lemahnya investasi dunia usaha.

Di sisi penawaran, perlambatan ekonomi didorong oleh melambatnya kategori usaha perdagangan besar dan eceran, seiring dengan penurunan konsumsi barang tahan lama. Usaha konstruksi juga tercatat mengalami pelambatan, seiring dengan masih belum optimalnya anggaran belanja modal APBD.

Kendati demikian, pertumbuhan pada industri pengolahan, administrasi pemerintahan dan pertahanan wajib, serta pertanian, kehutanan dan perikanan masih tercatat meningkat. Pertanian dan perikanan serta industri pengolahan terkena dampak positif dari kondusifnya cuaca, yang mendorong produksi ikan segar dan produk olahan ikan. Sementara itu, administrasi pemerintahan dan pertahanan wajib meningkat terdorong oleh realisasi APBN yang tinggi.

Sesuai data pada website resmi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin (penduduk yang pengeluaran per bulannya berada dibawah garis kemiskinan) di Maluku pada bulan Maret 2016 sebanyak 327,72 ribu jiwa atau 19,18 persen.

Bila dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan September 2015 yang berjumlah 327,77 ribu jiwa atau 19,36 persen maka tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku pada bulan Maret, turun sebanyak 0,17 poin atau penduduk miskin berkurang sebanyak 50 jiwa.

Disebutkan, selama periode September 2015 sampai dengan Maret 2016, penduduk miskin di daerah pedesaan berkurang 530 jiwa, sementara di daerah perkotaan bertambah sebanyak 480 jiwa. Namun, prosentase penduduk miskin di daerah pedesaan masih tinggi, yaitu sebesar 26,82 persen dibandingkan dengan daerah perkotaan yang mencapai 7,66 persen.

Pengamat ekonomi Universitas Pattimura (Unpatti), Teddy Ch. Leasiwal mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang lambat mengindikasi bahwa kinerja pemerintah daerah kurang baik.

Leasiwal mengatakan, perlu diingat bahwa pelambatan ekonomi nasional juga bisa mempengaruhi perlambatan ekonomi daerah, apalagi daerah seperti Maluku yang konsumsi pemerintah daerahnya sangat tergantung dengan dana dari pusat. “Jadi bisa dikatakan bahwa pada triwulan pertama 2016 daya dorong ekonomi kita lemah,” katanya.

Memang, bila dibandingkan dengan triwulan 1 pada tahun 2015, jelas ada peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi Maluku. Namun bila dibandingkan dengan triwulan terkahir tahun 2015, terjadi pelambatan.
“Saya kira pertumbuhan ekonomi Maluku triwulan pertama 2016 bukan naik tapi mengalami pelambatan atau lebih rendah dari triwulan 4 tahun 2015,” kata dia.

Dia mengaskan, perlambatan itu juga bisa mengindikasikan bahwa ketergantungan terhadap daya dorong konsumsi sangat tinggi jika dibandingkan dengan daya dorong produktif, seperti investasi yang masih lemah. Ini bisa terlihat dari pertumbuham ekonomi Maluku yang lebih banyak didorong oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah ini.

“ Jika kita hubungkan ini dengan kinerja pemerintah daerah, jelas bahwa pemerintah Maluku masih kurang dalam menjaga meningkatkan sektor produktif pendorong pertumbuhan. Padahal kita ketahui sektor yang kuat seperti perikanan pertanian priwisata sangat bisa menyerap tenaga kerja,” ungkapnya.
Masalahnya, kata Leasiwal investasi pada sektor-sektor tersebut tidak mengalami peningkatan yang signifikan. (MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!