Pemerintahan Richard-Sam Berakhir – Ambon Ekspres
Amboina

Pemerintahan Richard-Sam Berakhir

Ambon, AE.–– Lima tahun sudah memimpin kota Ambon. Tidak sedikit masalah yang ditemui, tapi mereka miskin prestasi. Richard Louhenapessy – Muhammad Armyn Syarif Latuconisina, Walikota dan –Wakil Walikota Ambon ini mengakhiri masa bhakti mereka dengan meninggalkan kesan damai di kota yang pernah identik dengan masalah gangguan keamanan ini.

Kamis (4/8), hari ini masa jabatan Richard Louhenapessy dan M.A.S Latuconsina sebagai Wali Kota dan Wakil Walikota Ambon berakhir, setelah memimpin kota ini sejak 4 Agustus 2011 lalu. Selama memimpin, pasangan dengan akronim Paparissa ( Papa Ris dan Sam) tidak sepi tantangan. Namun, dengan visi yang diusung, mewujudkan Kota Ambon yang maju, mandiri, religius, lestari dan harmonis berbasis masyarakat, Richard dan Sam dinilai sangat menahkodai kota ini dengan baik hingga di penghujung masa bhakti mereka.

Memang, memimpin kota Ambon bukan pekerjaan mudah. Apalagi kota ini pernah dilanda konflik sosial. Hampir semua sendi kehidupan di kota ini porak-poranda akibat konflik yang pecah tahun 1999 lalu itu. Tapi, Richard dan Sam punya semangat serta pengalaman yang mumpuni. Mereka dipercayakan oleh mayoritas warga (pemilih) saat itu untuk memegang tampuk kepemimpinan yang baru saja ditinggalkan oleh Marcus Jacob Papilaja dan Olivia Latuconsina itu.

Setelah dilantik Gubernur Maluku saat itu, Karel Albert Ralahalu, Richard dan Sam langung tancap gas, bekerja, mewujudkan impian besar, sebagaimana ‘diramu’ dalam visi serta misi mereka.

Salah satu obsesi Pemerintah Kota Ambon di bawah kendali Richard dan Sam adalah menekan tingkat kemiskinan. Di awal kepemipinan mereka, prosentase kemiskinan di kota Ambon mencapai 11 persen. Namun, dengan berbagai upaya, diantaranya mendorong sektor informal agar terbuka lapangan pekejaan yang luas, memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pasar tradisional serta kesempatan bagi masyarakat untuk membuka usaha, Richard dan Sam pun menyudahi masa kemimpinan mereka selama lima tahun dengan menyisahkan kemiskinan sebesar 4.7 persen.

BACA JUGA:  7 Jam Kadishub Diinterogasi

Di lain sisi, kota Ambon yang merupakan ibu kota provinsi Maluku dan pusat aktivitas perdagangan di Maluku ini menjadi daya tarik bagi pencari kerja dari daerah lain. Akibatnya, tingkat pengangguran sulit ditekan. Porsentasinya telah mencapai 30 persen dari 400 ribu jumlah penduduk kota Ambon.

Dengan program “Ambon Bersih di Siang hari, Terang di Malam Hari” yang dicananangkan Richard dan Sam, kota Ambon berhasil menyabet pengharagaan di bidang lingkungan, antara lain penghargaan dalam bentuk Sertifikat pada 2012, Trophy Adipura pada tahun 2013 dan tahun 2015. Terakhir, penghargaan Adipura Buana 2016 dan sederet penghargaan di bidang lainnya yaitu penghargaan Pariwisata terbaik, pelayanan publik terbaik, pemberdayaan masyarakat terbaik, dan penghargaan di bidang Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

(LAKIP).
Hanya saja, kepemimpinan Richard dan Sam tidak selalu berjalan mulus. Gangguan keamanan berupa bentrokan antar kelompok kecil hingga konflik antar kelompok besar, turut mewarnai masa pemerintahan keduanya.

Bahkan, masalah gangguan keamanan yang seharusnya sudah menjadi cerita kelam masa lalu, paska konflik sosial pada tahun 1999, justeru menjadi salah satu tantangan berat di bulan-bulan pertama kepemimpinan Richrad-Sam.

BACA JUGA:  Paparisa Baru “Keok” di PBB

Baru kurang lebih dua bulan memimpin kota Ambon, keduanya diperhadapkan pada kondisi keamanan Kota Ambon yang nyaris kembali keruh akibat tragedi pohon Pule pada tanggal 20 Oktober 2011. Beruntung, konflik tidak melebar dan tidak bertahan lama. Sikap tanggap pemerintah kota Ambon bersama aparat keamanan serta stakeholder lainnya, konflik pun bisa cepat diredam.

Paska kejadian itu, upaya mempersempit eskalasi konflik pun diseriusi pemerintah, aparat keamanan serta semua elemen masyarakat di kota Ambon. “Kita,di awal-awal pemerintahan dikejutkan dengan warna konflik dan kalau waktu itu kita membuat kebijakan yang salah maka saya kira hari ini Ambon tidak sebaik ini,” kata Wakil Walikota Ambon, Sam Latunconsina, Rabu (3/8).

Kawasan Arbes-STAIN, Batu Gantung, dan kawasan Kopertis merupakan bagian dari kawasan yang juga tidak luput dari aksi kekerasan dalam bentuk bentrokan antar kelompok yang bila tidak ditangani dengan serius, berpotensi meluas dan mengganggu keamanan di kota ini. Bila itu terjadi, sangat mungkin, proses pembangunan menjadi terganggu.

“Sejumlah event nasional yang diselenggarakan di Kota Ambon, merupakan salah satu indikator keberhasilan pemerintahan pak Ris dan pak Sam dalam hal keamanan di kota Ambon. Artinya, Kota Ambon sudah aman dan damai,” kata Wakil Direktur Institut Tifa Damai Maluku, Hilda Rolobessy.

Sebagai wujud tangggung jawab menciptakan rasa aman dan damai bagi warga kota, pemerintah, bekerja sama dengan aparat keamanan membangun pos-pos keamanan di sejumlah titik yang dinilai rawan. Lalu pemerintah melakukan survey tentang manfaat pos tersebut. Berdasarkan hasil survey, diketahui bahwa sekitar 94% warga menyatakan kota Ambon telah aman.

BACA JUGA:  Walikota Tual Wafat

Awal tahun 2016, pemerintah kota Ambon serta jajaran hingga tingkat Rukun Tentangga (RT), bekerja sama dengan TNI dan Polri juga melakukan evaluasi serius terhadap hasil dari upaya membangun kedamaian di kota ini, Hasilnya, diketahui bahwa, kota Ambon selama tahun 2015, semakin damai dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kita apresiasi pemerintahan pak Ris dan pak Sam. Masalah keamanan, saya berpendapat, ini karena masyarakat sudah semakin sadar tentang pentingnya kedamaian, pentingnya menjaga keamanan,” kata Direktur Lembaga Antar Iman Maluku, Jacky Manuputty.

Hari ini, Richard dan Sam lepas jabatan. Berbagai prestasi yang telah dicapai selama ini, membuat pasangan ini sebenarnya diharapkan masih akan bersanding di Pilkada serentak, Februari 2017 nanti. Namun, mereka memilih cara lain untuk meneruskan karya bagi kota Ambon. Pecah kongsi, berpisah, lalu mencari pendamping yang lain untuk maju dalam pilwalkot nanti.

Untuk mengisi kekosongan jabatan Walikota Ambon, di hari ini juga, gubernur Maluku, Said Assagaff melantik Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi Maluku, Frangky Papilaja sebagai penjabat Walikota Ambon hingga dilantiknya Walikota dan Wakil Walikota Ambon periode 2011-2022.

“Bapak gubernur Maluku akan melantik penjabat Walikota Ambon di Ibu Kota provinsi Maluku pada hari Kamis, 4 Agustus 2016,” ungkap pelaksana harian Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Maluku, Jasmono, kemarin.(***)

Most Popular

To Top