Oknum Danramil Catut Nama Pangdam – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Oknum Danramil Catut Nama Pangdam

AMBON,AE.–– Belum tuntas masalah dugaan penganiayaan Babinsa terhadap Marjan Jabir (18), warga Tanah Goyang, Desa Loky, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, kemarin, datang Oknum Komandan Koramil, berinisial Lettu AL, ke daerah tersebut. Tujuannya meminta warga menandatangani petisi, dengan alasan permintaan Pangdam XVI/Pattimura.

AL mendatangi dusun Tanah Goyang pada Selasa (30/8) pagi. Dia kemudian menggelar pertemuan dengan warga. Rencananya membahas situasi keamanan pasca terjadinya dugaan penganiyaan terhadap Marjan. Dalam pertemuan itu terjadi saling protes antara warga dengan Danramil maupun kepala dusun.

Hal itu terjadi ketika Danramil diduga meminta warga untuk menandatangani petisi persetujuan agar Sersan RB yang kini dalam status terperiksa akibat tindakan penganiayaan itu, agar kembali menjadi babinsa di dusun tersebut.

“Awalnya pak kepala Dusun menyampaikan jika pertemuan dengan Pak Danramil itu, terkait masalah Kamtibmas di dusun Tanah Goyang. Tetapi dalam pertemuan, malah pak Danramil meminta warga untuk menyetujui Sersan RB tetap jadi Babinsa disini (Tanah Goyang red),” kata Yamin, salah satu kerabat dekat korban Marjan, kepada koran ini, Selesa siang kemarin.

BACA JUGA:  Tersangka Baru Dari BM

Menurut dia, permintaan Danramil kepada warga untuk mendatangani petisi itu sontak membuat keluarga korban heran, apalagi dia mengaku diperintahkan oleh pangdam. Sementara oknum Babinsa itu, dalam proses akibat tindakan penganiyaan Marjan.

“Dari jumlah masyarakat Tanah Goyang 400 Kk, dengan jumlah pemilih 1.600 sekian tetapi yang hadir 70 orang, dan itu mayoritas keluarga Sersan RB. Jadi jika ada yang menandatangani petisi bahwa RB tetap jadi Babinsa itu adalah keluarga RB sendiri, bukan masyarakat secara keseluruhan,”tegasnya.

Diakui, sebagian besar warga yang tidak menghadiri pertemuan dengan oknum Danramil itu, disebabkan karena warga merasa kecewa dengan tindakan kepala Dusun. Pasalnya tindakan kepala dusun itu, terlihat tidak ada adil dalam memperjuangkan kasus Marjan Jabir ini.

“Yang menggagas pertemuan antara pak Danramil dengan masyarakat adalah kepala Dusun. Kemudian kepala dusun itu adalah ipar dari babinsa yang merupakan terduga pelaku penganiyaan Marjan ini. Sudah pasti kepala dusun akan membela oknum babinsa,” terangnya.

Tak hanya itu Yamin menambahkan, kehadiran Danramil itu, bukan mencairkan suasana warga di dusun tersebut, tetapi malah memperkeruh suasana. “Bagi masyarakat yang setuju tandatangan dan pisah dari tempat duduk. Kemudian bagi yang tidak setuju juga pisah. Ini seperti pemilihan kepada dusun saja,”herannya.

BACA JUGA:  2 Polisi Masih Digarap Propam

Sementara itu Risan Waliulu mengatakan, sejak awal pertemuan itu di mulai, warga tidak mendengar kata maaf dari Danramil kepada pihak keluarga korban. Padahal kasus yang menyeret oknum Babinsa Sersan RB itu, kini tengah ditangani oleh pihak Detasemen PomDam.

“Keluarga kami dianiaya layaknya bukan manusia, dan itu dilakukan oleh oknum Babinsa dan warga masyarakat lain. Tapi kemudian pertemuan pak Danramil tidak pernah mengeluarkan kata maaf kepada kami. Kemudian juga pak Danramil menyampaikan hal-hal yang kami anggap itu sangat tidak perlu disampaikan,”protes dia.

Baginya, pihak Kodam XVI/Pattimura, harus adil dan profesional dalam mengusut kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum babinsa terhadap Marjan itu. “Negara ini negara hukum, siapapun yang bersalah harus dihukum. Jangan yang bersalah dilindungi, sementara yang korban disalahkan. Ibu kandung TNI adalah masyarakat, kami minta Pak Pangdam tunjukan dan buktikan hal itu,”pintahnya.

Lain hal dengan dengan Jabir ayah korban. Dia mendesak, pihak Detasement Pomdam maupun Polres Seram Bagian Barat, untuk segera menetapkan oknum sersan RB dan tujuh warga lainnya sebagai tersangka penganiya anaknya.

BACA JUGA:  Dipanggil Pansus, Louhenapessy Ogah

“Saya minta ketegasan dari pak Pangdam, kemudian pak Kapolres agar segera orang-orang yang diduga menganiaya anak saya ini, untuk dijadikan tersangka dan diproses sesuai hukum yang berlaku,”singkatnya.
Untuk diketahui, insiden penganiayaan itu terjadi Selasa (16/8) Pukul 03.14 dipicu persoalan kesalahpahaman.

Awalnya korban diduga hendak mencuri di Toko Murni Abadi milik Usman Mansur (45),  tempat korban  bekerja sebagai kenek mobil. Tuduhan itu tidak terbukti, karena korban tidak membawa barang bukti pencurian.

Sehari setelah itu, pihak Kodam melalui, Kepala Penerangan kodam XVI/Pattimura kolonel Arh Hasyim Lalhakim mengatakan pihak Kodam telah mengambil tindakan tegas terhadap terduga oknum babinsa. oknum Babinsa itu langsung diamankan oleh pihak Dempomdam, untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.(AHA)

Most Popular

To Top