PDIP Sudah Kehilangan Momentum – Ambon Ekspres
Politik

PDIP Sudah Kehilangan Momentum

AMBON, AE.— Skenario PDI-Perjuangan membangun koalisi bersama PKB atau PKS, dengan membentuk pasangan bakal calon baru, dinilai sia-sia. Selain PKS sudah menolak pinangan PDI-Perjuangan, mereka akan kesulitan melakukan penetrasi disaat pasangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler, Paulus Kastanya-Sam Latuconsina sudah membentuk presepsi pemilih.

Pengamat politik asal Unpatti lainnya, Johan Tehuayo mengatakan, presepsi politik di kalangan pemilih ini, sudah membentuk segregasi berdasarkan pilihan. “Jadi sikap politik masyarakat sudah cenderung memilih Paparisa dan PANTAS. Secara kuantitaf, prosentasi dukungan politik dapat diasumsikan masing-masing 40 persen. Sedangkan pemilih mengambang bisa diprosentasikan 20 persen, ”kata Johan.

Di tengah sikap politik masyarakat yang sudah terbentuk, PDIP akan sulit untuk melakukan penetrasi. Sebab, PDIP sudah kehilangan momentum pembentukan opini format pasangan calon.

PDIP lebih banyak diopinikan mengusung calon yang sudah ada. Apalagi, sejak awal kader berpotensi macam Lucky Wattimury menyatakan sikap tidak ikut kompetisi Pilwalkot. Pada titik ini, PDIP kehilangan momentum konsolidasi kader atau non kader dengan asumsi lebih dari dua paslon.

“Itu menunjukkan PDIP mengalami distorsi pembentukan opini publik dan akan berpengaruh terhadap prilaku politik masyarakat. Maksudnya, figur yang baru tidak memiliki popularitas dan akseptabilitas yang memadai sehingga sangat sulit untuk bisa menang,”papar Johan.

BACA JUGA:  Siapa Penerima Duit 6 M

Maka, lanjut dia, tidak ada pilihan bagi PDIP. PDIP harus memutuskan untuk bergabung dengan koalisi yang sudah terbentuk. Itu lebih strategis, dibanding mengusung calon baru dengan potensi memang kecil, dan resiko berada di luar pemerintahan.

“Karena representasi politik dalam birokrasi pemerintah daerah (kota Ambon) sangat dipengaruhi juga oleh dukungan politik kepada figur incumbent, Richard atau Sam. PDIP sudah menguasai lembaga legislatif lokal, jadi memperkuat posisi pada lembaga eksekutifnya. Dan peluang menang ada pada kedua figur yang ada,”sarannya.

Hal berbeda disampaikan pengamat politik dari Universitas yang sama, Mohtar Nepa-Nepa menilai, memang sulit PDIP dan Golkar menyatu dalam kepentingan yang sama. PDIP akan merasa sulit berkonsolidasi, jika menempel dengan pemerintahan yang dikepalai oleh kadernya.

“Sejak awal memang saya prediksi bahwa, secara institusionalisasi politik, sulit untuk menyatukan Golkar dan PDIP di Pilkada kota Ambon 2017. Karena pertarungan Ambon 1 merupakan miniatur kemenangan partai pada pileg maupun pilpres 2019 nanti,”papar Mohtar.

BACA JUGA:  Pekan Ini, BAP Remon Disimpulkan

Memunculkan pasangan baru dan bertarung melawan dua paslon yang sudah terbentuk, kata Mohtar sangat mungkin dilakukan oleh PDIP. PDIP pasti punya alasan, yakni memiliki basis yang cukup besar di kota Ambon.
“Perlu diingat, jika PDIP membentuk paslon, maka peta politik akan berubah. Karena PDIP merupakan partai terkuat di kota Ambon. Konstituennya sangat loyal, jika dibandingkan dengan partai lainnya,”terangnya.

Namun, PDIP terkendala figur kader internal yang selama ini belum tampil di publik. Berikut, figur muslim yang nantinya menjadi calon wakil Walikota. Kemudian, partai-partai berbasis Islam, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memberikan rekomendasi kepada pasangan Poly-Sam dan Richard-Syarif.

“Ini kendala utama. Sebab basis pemilih muslim sudah dikantongi oleh PPP maupun PKS. Sementara PPP dan PKS, keduanya sudah memberikan rekomendasi untuk dua pasangan yang telah terbentuk,”urainya.

Sehingga, menurut dia, sikap atau skenario PDIP mengusung calon baru di Pilwakot, hanya sekadar mencari posisi tawar pada pasangan PANTAS atau Paparisa Baru.”Bisa jadi pembntukan opini publik lewat figur yang diwacanakan hanya bagian dari bargaining position (posisi tawar) pada pasangan yang sudah terbentuk,”simpulnya.

BACA JUGA:  CRISTIANO RONALDO PEMAIN TERBAIK DUNIA 2016

Wakil Ketua DPD PDIP Maluku Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) Tobhyhend J.M. Sahureka mengatakan, DPP belum memberi sinyal rekomendasi untuk para pasangan calon Walikota dan wakil Walikota Ambon. Olehnya itu, undangan untuk mengikit sekolah partai gelombang pertama pertama 3 September, belum diserahkan.

Sedangkan rekomendasi pasangan Abua Tuasikal-Marlatu Leleury di Pilkada Maluku Tengah dan Ramli Ibrahim Umasugi-Amustafa Besan untuk Pilkada Buru, sudah bisa dipastikan. Pasalnya, kedua pasangan ini sudah diudang untuk mengikuti sekolah partai.

“Tanggal 6 untuk gelombang kedua. Keputusannya mungkin hari Kamis besok atau tanggal 3 September,”kata Sahureka. Direncanakan sekolah partai berlangsung hingga 11 September mendatang.

Disinggung soal kemungkinan PDIP mengusung kader sendiri, dengan penunjukkan ketua umum, Sahureka menyatakan, itu menjadi kewenangan DPP. DPD PDIP Maluku hanya menunggu keputusan dan melaksanakannya. “Itu urusan DPP. Jadi, kita tunggu keputusan DPP saja,”tambah dia. (TAB)

Most Popular

To Top