PANTAS Gencar, Paparisa Menunggu – Ambon Ekspres
Politik

PANTAS Gencar, Paparisa Menunggu

Pasangan Paulus Kastanya-Muhamamd Armin Syarif Latuconsina selesai mendeklarasikan diri untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Walikota-Wakil Walikota Ambon. Sabtu (17/9) deklarasi begitu megah dilakukan. Sementara lawannya,  Richard Louhenapessy-Syarif Hadler, belum keluar kandang. Pasangangan bertitel Paparisa Baru ini justeru sedikit melakukan sosialisasi.

Deklarasi dilakukan di gedung Sport Hall, Karang Panjang, dihadiri pengurus delapan partai pengusung yaitu PDIP (5 kursi), Gerindrda (4 kursi), Demokrat (4 kursi) Hanura (3 kursi), PKS (2 kursi), PKPI (2 kursi), PBB (2 kursi) dan PAN (1 kursi). Karena itu, nama ketua dan sekretaris PKB kota Ambon yang sebelumnya telah dicantumkan dalam naskah deklarasi, dicoret.

Meski begitu, Sekretaris Tim Pemenangan Koalisi PANTAS, Phill Latumaerissa mengklaim, PKB telah membuat keputusan untuk mendukung pasangan PANTAS. Namun, fisik rekomendasi belum diserahkan kepada pasangan tersebut.

Bakal calon Wakil Walikota Ambon Sam Latuconsina mengatakan, ketidakhadiran PKB dalam deklarasi koalisi PANTAS karena faktor teknis. “Ini soal teknis saja. Secara fisik itu belum ada. Kita tidak bisa kalau orangnya tidak ada. PKB sudah dukung kita. Kita kan harus jujur, jika rekomendasi sudah secara fisik maka kita akui. Tapi rekomendasi fisik itu belum,” terangnya.

Pantauan Ambon Ekspres, sebelum dilakukan deklarasi, kedua pasangan calon Poly-Sam ini terlebih dahulu mendatangi Sekretariat DPC PDI Perjuangan kota Ambon untuk menerima rekomendasi fisik. Setelah itu, mereka diantar menuju Karang Panjang, dengan iring-iringan ribuan pendukung dari 8 partai politik.

Sekira pukul 15.00, deklarasi dimulai. Setelah itu dilakukan deklarasi dan penandatanganan naskah deklarasi koalisi PANTAS oleh masing-masing perwakilan partai. Sangat meriah. Dan disambut dengan begitu optimis pendukungan PANTAS.

Berbeda dengan Paparisa Baru yang memilih menunggu. Pengamat menilai, Ricard-Syarif sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan keadaan.

Catatan Ambon Ekspres, sosialisasi diri secara individu telah dilakukan oleh pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota, Paulus Kastanya-M.A.S (Sam) Latuconsina diawal tahun. Terutama melalui stiker, spanduk dan medium pencitraan lainnya.

Ketika keduanya sepakat untuk berpasangan, intensitas sosialisasi meningkat. Media publik, baik koran dan oline serta media sosial dimanfaatkan. Sementara Richard Louhenapessy masih dalam proses penentuan wakilnya.
Setelah dia memilih Syarif Hadler sebagai wakilnya, sosialisasi terutama melalui spanduk dan baliho, mulai dilakukan. Namun, dalam satu bulan terakhir, pasca penetapan rekomendasi, PANTAS benar-benar memanfaatkan media publik.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Johan Tehuayo menilai, pasangan PANTAS sedang menggunakan metode kampanye atau sosialisasi modern guna meningkat polularitas dan mempengaruhi pilihan politik pemilih. Media cetak maupun online dan media sosial sebagai medium.

“Ini soal metode sosialisasi diri dan kampanye. Ada metode yang digunakan secara modern dengan menggunakan media publik. (cetak dan elektronik),”kata Johan saat dimintai pendapat via seluler, Minggu (18/9) soal kontelasi Pilwakot Ambon saat ini.

Meningkatnya intensitas sosialisasi dengan pendekatan modern oleh pasangan PANTAS, menurut Johan, karena pasangan ini diperhadapkan dengan fakta bahwa mayoritas masyarakat mempresepsikan Richard sebagai figur yang positif. Artinya, keberhasilan Richard sebagai Walikota Ambon dalam lima tahun lalu, secara tidak langsung telah membentuk pilihan politik masyarakat saat ini.

Disinggung soal mobilisasi massa oleh partai politik dalam kegiatan politik pasangan PANTAS, baik penyerahan rekomendasi parpol maupun deklarasi, Sabtu (17/9), kata Johan, menunjukkan bahwa pasangan ini cukup diapresiasi. Ini juga sangat berpengaruh dalam bentuk presepsi publik dan pilihan politik pemilih.

Di lain sisi, ungkap Johan, Richard dan Syarif menggunakan metode tardisional untuk meyakinkan pemilih. Dimana, pasangan yang diusung partai Golkar, Nasdem dan PPP itu mencoba membangun jaringan sosial yang rapih hingga ke tingkat dusun, selain pembagian stiker dan atribut lainnya.

Namun, pembentukkan jaringan politik yang kuat di akar rumput dan presepsi positif dari publik, tidak menjadi jaminan kemenangan. Peningkatan sosialisasi diri dengan metode modern, dengan memanfaatkan media publik harus dilakukan oleh pasangan ini.”Sosialisasi Paparisa juga harus ditingatkan. Sebab, belum tentu ada presepsi positif lalu mereka dipilih,”pungkasnya.

Waktu Yang Tepat
Sementara itu, akademisi Unpatti lainnya, Paulus Koritelu menilai, Richard sedang berhitung dengan matang sebelum membuat perintah kepada timnya. Sebab Richard, kata dia, menyadari bahwa Pilwalkot Ambon kali ini hanya ada dua pasangan, dan PANTAS adalah lawan berat dibandingkan periode sebelumnya.

“Dia (Richard) sadar persis, kekuatan penuh yang memenangkan dia lima tahun lalu, bukan dia seorang diri. Tapi ditentukan oleh sang wakil, yaitu pak Sam. Hari ini pak Sam mencabut dirinya. Lalu memilih berpasangan dengan pak Poly Kastanya,”kata Koritelu.

Dalam konteks sosialisasi dan konsolidasi, menurut Koritelu, Richard dan Syarif sudah bergerak. Namun, belum semaksimal pasangan Poly-Sam. Sebab, mereka menunggu saat yang tepat untuk bekerja secara maksimal dengan memanfaatkan kelemahan pasangan lawan.

“Karena secara kalkulasi ekonomi, kan amunisi PANTAS ini kan terus digembar-gemborkan. Tinggal dia (Richard) melihat, dimana ada celah, dia akan memanfaat dan kekuatannya digembor-gemborkan. Ini kepiawaian dan strategi politik dia untuk memenangkan pertarungan,”jelas alumni doktor sosilogi Universitas Indonesia (UI) itu.

Sementara itu, Ketua Harian DPD Partai Golkar kota Ambon, Max Pattiapon mengatakan, pasangan Paparisa Baru dan tim aktif melakukan konsolidasi di masyarakat, tanpa terpublikasi di media massa. Meski begitu, ia optimis metode tersebut sangat berpengaruh.

“Benar. Paparisa Baru lebih memilih melakukan aktivitas konsolidasi penggalangan suara langsung di masyarakat. Tapi kami optimis, gerakan-gerakan seperti ini punya pengaruh,”kata Max.

Disinggung soal deklarasi, dia menyatakan, direncanakan pada 23 September. Lokasinya antara Pattimura Park, lapangan Upacara Polda atau Pasar Higienis, Tantui. “Rencana tanggal 23. Besok (hari ini) akan dipastikan waktu dan tempat. Karena ada tiga lokasi yang direncanakan,”ungkap dia.(TAB)

Most Popular

To Top