1000 Lilin buat Romang – Ambon Ekspres
Ragam

1000 Lilin buat Romang

AMBON,AE.––Keadilan! Itulah yang masih dicari oleh warga Pulau Romang kabupaten Maluku Barat Daya. Terus berjuang untuk mempertahankan tanah mereka, mempertahankan kekayaan alam yang terus digarap pemilik modal atas restu pemerintah. Diprotes, pemerintah memilih diam.

Rakyat akan kembali bergerak, meminta dukungan dari semua pihak yang peduli dengan nasib mereka, peduli dengan masalah lingkungan di sana dengan melakukan pembakaran 1000 lilin.

Koordinator masyarakat Romang di kota Ambon, Alex Ismail mengatakan, minimnya perhatian pemerintah terhadap masalah yang terjadi di pulau Romang, menyusul beroperasinya PT. Gemala Borneo Utama (GBU) di sana, tidak lantas menyurutkan semangat warga untuk terus berjuang. “Kami akan terus berjuang hingga ada keadilan,” kata Alex Ismail kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya sedang mempersiapkan segala hal untuk menggelar kegiatan pembakaran 1000 lilin di Kota Ambon, sebagai bentuk renungan dan ajakan bagi semua pihak untuk menaruh perhatian pada nasib masyarakat Romang.

BACA JUGA:  Intimidasi-Teror Ramai di Buru

“Masalah lingkungan, tanah-tanah milik masyarakat, kekerasan terhadap warga adalah masalah-masalah yang tidak dapat dilihat sebelah mata. Melalui malam 1000 lilin, kami ingin ajak semua orang untuk berjuang bersama kami,” tegasnya.

Pihaknya juga berharap, dengan adanya kegiatan itu nanti, pemerintah juga dapat lebih terbuka bagi masyarakat, mau mendengarkan apa yang menjadi keluhan masyarakat, lalu membuat keputusan yang berpihak pada masyarakat.

Tokoh masyarakat kabupaten MBD menyatakan dukungannya terhadap rencana malam 1000 lilin. Ini menjadi kreasi dalam berjuang. Sebab, masalah yang terjadi di Romanng harus dilihat dari sisi kemanusiaan. “Lingkungan rusak, manusia yang korban, apalagi kekerasan yang dilakukan terhadap warga. Ini persoalan yang mesti jadi keresahan bersama,” katanya.

Sebelumnya, rakyat yang tergabung dalam Koalisi Save Romang Island berupaya, agar pemerintah menghentikan aktivitas PT. GBU karena dinilai telah menimbulkan banyak masalah di Romang. Masalah lingkungan, sosial, hingga kekerasan yang diduga dilakukan aparat keamana terhadap warga.

BACA JUGA:  Richard-Sam pun Pulang ke Rumah Pribadi

Tidak hanya di ruang diskusi, koalisi ini juga sudah beberapa kali mencoba menyuarakan aspirasi tersebut kepada pemerintah daerah melalui demonstrasi, namun dua kali demonstrasi mereka digagalkan polisi dengan alasan keamanan. Padahal, aksi mereka, murni aksi damai, sebagai wujud kebebasan sebagai warga negara dalam menyampaikan pendapatan di muka umum, sebagaimana diamanatkan Undang-undang nomor 9 tahun 1998.

Orlandoz menegaskan, apa yang telah dilakukan oleh Koalisi Save Romang Island selama ini, akan semakin baik bila ada dukungan dari banyak orang lagi, baik individu maupun organisasi.

Sementara, hingga kemarin sidang atas klaim kepemilikan tanah di Romang Barat, termasuk tanah yang digunakan oleh PT. GBU, belum tuntas. Majelis hakim masih memediasi berbagai pihak terkait untuk membuat putusan akhir, siapa yang berhak atas tanah tersebut.

“Kita berharap, sidang bisa berjalan dengan cepat, agar ada kepastian hukum. Dengan begitu, masalah ini tidak berlanjut,” ungkap salah satu warga Romang, Charlez, via seluler, kemarin.(MAN)

Most Popular

To Top