Rp7,6 M Hingga Rumah Mewah – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Rp7,6 M Hingga Rumah Mewah

AMBON,AE––Misteri terkait aliran dana Rp.7,6 Miliar fee dari dugaan mark up pembelian lahan dan gedung Bank Maluku di Surabaya belum juga terungkap. Tersangka Hentje Abraham Toisuta dihadapan penyidik mengaku jika uang Rp.54 miliar diserahkan seluruhnya kepada pemilik gedung.

Pekan kemarin, penyidik Kejaksaan Tinggi Maluku melakukan pemeriksaan terhadap Bos CV Harves itu selama dua hari. Materi pemeriksaan masih seputar TPPU untuk melengkapi berkas tiga tersangka. Diantaranya, Hentje, Idris Rolobessy dan Pedro Tentua.

Meski ditanyai puluhan pertanyaan dari tim penyidik, tapi dalam pemeriksaan selama dua hari baik sebagai saksi maupun tersangka, Heintje bersikap tertutup.

Informasi yang dihimpun koran ini jika dihadapan penyidik Hentje membantah keterangan sejumlah saksi dan mengatakan tidak mengenal supir taksi, Sunarko yang rekeningnya digunakan untuk menerima dana Rp 54 M dari Idris Rolobesssy.

Keterangan lain yang semakin membuat bingung yaitu Hentje membantah telah membagi-bagi uang kepada sejumlah pihak. Termasuk tersangka lainnya yaitu mantan Dirut PT Bank Maluku-Malut Idris Rolobessy dan mantan Kadiv Renstra dan Corsek, Pedro Tentua. Sama halnya dengan uang yang diterima Ishack Thenu dan Ketua Panitia Pengadaan Lahan dan kantor Bank Maluku, Fredy Donald Sanaky sebesar Rp 250 juta.

Bahkan, Hentje juga mengaku jika Rp7,6 miliar itu merupakan uang bisnis, tidak ada sangkut pautnya dengan uang Rp.54 Miliar yang merupakan anggaran pembelian lahan dan gedung di Suarabaya.

Penasehat hukum Hentje, Firel Sahetapy tidak banyak berkomentar. Sahetapy hanya menginginkan agar pemilik lahan juga harus bertanggungjawab. Pasalnya, Rp.7,6 Miliar diberikan oleh pemilik lahan kepada Hentje.

HENTJE DAN ROLLAND BERBEDA
Terkait aset rumah milik Heintje yang terletak di Desa Amahusu, juga semakin kontradiktif. Pasalnya Hentje juga menyatakan tanah tersebut adalah miliknya. Hanya saja, rumah berlantai dua itu telah dibangun tahun 2015, dengan menggunakan uang milik Roland Matrutty dan Istrinya Mita.

Sementara pemeriksaan terhadap Rolland dan Mitha sebelumnya, mengaku rumah mewah itu dibangun setelah dibeli dari Heintje dengan cara mencicil. Anehnya lagi, setelah diperiksa lanjutan yang didampingi Mourits Latumeten, keterangan Rolland dan Mitha kembali berubah.

Pasalnya, pasangan suami istri itu mengaku rumah senilai Rp 1 miliar itu, merupakan hasil tukar guling dengan tanah Heintje Toisuta yang berada di kawasan Desa Halong. Karena Rolland dan Mitha akui jika mereka sudah membeli rumah dari Hentje di Halong.

Hanya saja, karena terlanjur membayar namun rumah di Halong tersebut tidak juga dibangun. Alhasil, mereka memutuskan untuk membuat kesepakatan tukar guling dengan Hentje.

Keterangan Notaris Juliana M Tahalele ketika diperiksa tim penyidik, mengatakan jika pembuatan akta jual beli tanah dan rumah di Desa Amahusu, antara Hantje dan Rolland diproses tahun 2016.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette mengatakan, nantinya hasil pemeriksaan terhadap Hentje, akan dievaluasi lebih lanjut. Menyoal keterangan Hentje, Rolland dan Notaris yang berbeda-beda, Sapulette enggan berkomentar.

“Kalau itu sudah masuk materi. Tetapi nanti penyidik evaluasi. Karena pemeriksaan yang dilakukan baik terhadap Hentje maupun saksi-saksi lain,ini untuk melengkapi berkas tiga tersangka terkait TPPU, “pungkasnya. (AFI)

Most Popular

To Top