Nane Berkelit Terima Duit Haram – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Nane Berkelit Terima Duit Haram

AMBON,AE—Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Fransyane Puttileihalat, akhirnya memenuhi panggilan tim penyidik Kejaksaan Tinggi Maluku. Adik kandung mantan Bupati SBB, Jacobus Puttileihalat itu akhirnya diperiksa selama satu setengah jam terkait kasus dugaan korupsi anggaran sosialisasi empat kegiatan kurikulum 2013 (K13) pada Dinas Pendidikan setempat.

Pemeriksaan Fransyane atau yang akrab dipanggil Nane, untuk mengejar adanya dugaan bahwa Kadis Pendidikan SBB itu yang mengelola anggaran sosialisasi K13. Pasalnya, bukti yang dikantongi penyidik sedikitnya empat saksi mengaku Nane mengelola seluruh dana sosialisasi.

Pantauan koran ini, Senin kemarin Nane mendatangi kantor Kejati Maluku sekitar pukul 13.45. Dengan mobil pribadinya, Nane kemudian menghadap petugas piket Kejati.

Selama satu setengah jam diperiksa, Nane dihujani 20 pertanyaan oleh penyidik Ekhart Hayer. Nane yang didampingi pengacara Daniel Nirahua menjawab seluruh pertanyaan itu dengan santai.

Informasi yang dihimpun dari hasil pemeriksaan, jika Nane membantah seluruh keterangan saksi yang menyatakan jika dirinya terlibat dalam pengelolaan anggaran sosialisasi kurikulum 2013 yang bernilai miliaran rupiah. Termasuk, membantah adanya pemotongan pembayaran honor bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Dihadapan penyidik, Nane bantah semua keterangan saksi yang mengarah ke dia. Kalau tidak salah empat saksi saat diperiksa sebelumnya menyatakan kalau Nane kelola dana K13. Dan Nane bantah semua, “beber sumber.

Penasehat hukum Nane, Daniel Nirahua mengatakan, sebagai warga negara yang baik, kliennya wajib memenuhi panggilan kejaksaan untuk diperiksa. Selain itu, Nirahua membantah jika kliennya dikatakan tidak kooperatif terhadap panggilan sebelumnya.“Panggilan pertama dan kedua itu, beliau (Nane, red) sementara ikut sekolah partai di Jakarta, jadi tidak sempat hadir, “jelas Nirahua.

Nirahua menambahkan, secara substansi, kliennya tidak terlibat dalam pengelolaan anggaran. Karena saat kegiatan sosialisasi K13 berlangsung, jabatan Nane selaku salah satu kepala Bidang di Dinas Pendidikan. Secara otomatis, kliennya tidak berhubungan dengan pengelolaan anggaran.“Kan ada stafnya. Jadi Nane tidak tahu-menahu soal anggaran, “tandasnya.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pemeriksaan terhadap Nane dalam kasus K13 sebagai saksi. Yang mana, Nane diperiksa untuk melengkapi berkas tersangka Bonjamina Dorce Puttileihalat alias Lou.“Nane diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas tersangka Lou, “kata Sapulette.

Mantan Kasidik Kejati Maluku itu menambahkan, selanjutnya penyidik akan mengevaluasi hasil pemeriksaan Nane. Dari evaluasi tersebut nantinya akan dilihat langkah selanjutnya yang ditentukan penyidik.

Sekadar tahu saja, berdasarkan fakta berupa pemeriksaan saksi-saksi yang dilakukan penyidik Kejati Maluku, bahwa ada pemotongan honor bagi peserta kegiatan sosialisasi kurikulum 2013 di Dinas Pendidikan SBB. Pemotongan anggaran honor itu tidak sedikit.

Seluruh saksi yang pernah diperiksa, mengakui hanya menerima bayaran berkisar Rp.3 juta hingga Rp.5 Juta. Padahal, dalam Laporan Pertanggujawaban, para saksi menerima bayaran honor yang nilainya diluar wajar. Pasalnya, ada yang menerima Rp.15 juta hingga Rp.30 juta.

Dalam kasus ini, Kejaksaan telah menjerat Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Ledrik Sinanu dan mantan Kadis Bonjamina Dorce Puttileihalat sebagai tersangka. (AFI)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!