Koalisi PAPARISA-PANTAS Rentan Pecah – Ambon Ekspres
Politik

Koalisi PAPARISA-PANTAS Rentan Pecah

AMBON,AE.—Perpecahan rentan terjadi pada pasangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler (PAPARISA BARU) dan pasangan Paulus Kastanya-Muhammad Armin Syarif Latuconsina (PANTAS). Kerentanan ini dapat dianalisa dari koalisi partai pengusung masing-masing pasangan calon. Komunikasi dan konsolidasi intensif perlu dilakukan untuk mencegah perpecahan.

Pasangan PAPARISA BARU, diusung tiga parpol, yaitu Golkar, Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai Golkar dan Nasdem, secara kelembagaan terlihat solid. Tidak ada perpecahan.
Hanya PPP yang didera perpecahan. Bukan sebatas isu, tapi beberapa kadernya mulai dideteksi secara internal, tidak mengamankan keputusan partai. Ini diakui pengurus PPP.

Kader-kader termasuk diantaranya elit PPP, terlalu dekat hubungannya dengan Muhammad Armin Syarif Latuconsina alias Sam, bakal calon Walikota Ambon yang berpasangan dengan Paulus Kastanya. Bukan sekadar teman, tapi karena Sam memiliki kontribusi besarkan partai ka’bah ini.

Direktur Eksekutif Research Consulting And Marketing (Resco), M. Jais Patti, mengatakan perpecahan rentan terjadi pada pasangan PAPARISA BARU. Bahkan, kata dia, Sam sudah lama menjadi tumpuan beberapa elit parpol pengusung PAPARISA BARU.

“Kemungkinan besar akan terjadi di partai pengusung PAPARISA BARU. Hal ini disebabkan, ada beberapa yang sudah terlalu dekat dengan Sam. Sam sudah menjadi tempat menggantung untuk beberapa elit partai pengusung PAPARISA,”kata Jais kepada Ambon Ekspres, Rabu (28/9).

Sayangnya, Jais tidak menyebut secara terbuka, partai dan elit-elit tersebut. Tetapi, kondisi ini berpengaruh terhadap konsolidasi partai pengusung. Terutama partai yang kadernya dinilai sulit melepas Sam begitu saja, meski keputusan partai jatuh kepada Richard dan Syarif.

“Tentu saja, sangat berpengaruh terhadap konsolidasi partai dalam rangka memenangkan pasangan PAPARISA, ”terangnya.

Untuk mencegah terjadinya perpecahan secara massif, kata Jais, pasangan PAPARISA harus bisa mengakomodasi kepentingan partai pengusung dan elit-elit tersebut. Komunikasi politik perlu diintensifkan dan konsolidasi ke akar rumput partai ditingkatkan.

“Kalau ini tidak segera dilakukan secara intensif, konsolidasi partai akan jadi terganggu. Intinya, PAPARISA harus membangun lagi komunikasi secara intensif dengan partai-partai pengusungnya. Misalnya, road show bareng partai di tingkat ranting,” tukasnya.

PANTAS Juga Rentan
Pendapat berbeda dikemukakan Pengamat politik Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Josephus Noya. Menurut Josephus, di satu sisi, koalisi Sembilan partai, yaitu PDIP, PKPI, Gerindra, PKB, PBB, PKS, PAN, Hanura, dan Demokrat menguntungkan pasangan PANTAS.

Banyak ide, pikiran dan harapan serta keinginan yang lahir dari masing-masing yang kemudian diformulasikan menjadi konsep dan strategi pemenangan. Jika itu dilakukan dengan baik, peluang menang cukup terbuka.

Tetapi, di sisi lain, ungkap Josephus, partai yang banyak juga bisa menjadi penyebab perpecahan. Apalagi dalam momentum Pilkada, masing-masing partai memiliki kepentingan dan keinginan serta harapan dari perjuangan bersama tersebut.

“Ide, pikiran, keinginan dan harapan itu juga akan menimbulkan perbedaan yang bisa menjadi konflik internal. Apalagi partai politik, tentu punya kepentingan masing-masing. Semakin banyak partai politik, jangn dikira, mereka bersepakat sebagai satu kelompok besar,”kata dia.

Pemicu perpecahan, lanjut dia, ketika keinginan dari satu atau beberapa partai pengusung tidak direstui partai lainnya. Sehingga meski dari luar kelompok (koalisi) itu nampak akur, tapi pecah secara internal. Ia melihat gejala itu ada di koalisi PANTAS.

“Orang menyimpan itu, kalau dia merasa tidak kena dengan keinginannya, secara psikologis bisa terbalik. Wah, bagaiman ini pikiran dan aspirasi saya tidak tertuang,”paparnya.

Dia mencontohkan, koalisi Merah Putih yang terdiri dari Partai Golkar, PKS, Gerindra, PAN dan PPP yang mengusung pasangan mantan calon Presiden dan wakil Presiden Indonesia 2014, Prabowo Subianto. Koalisi pecah, setelah pemerintahan Joko Widoda dan Jusuf Kalla berjalan.

Kemudian, pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Dimana Demokrat dan PKS merencanakan koalisi untuk melawan gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. “Tapi pecah juga jadi dua grup. Itu berarti, kepentinagn setiap kelompok atau setiap partai, ada. Visi dan misinya dibawa ke kelompok itu. Ketika tidak pas dengan kelompk besar itu, maka lambat laun dia akan keluar. Secara psikologis, bukan hanya dirinya tapi kelompoknya sampai ke akar rumput,”jelas dia.

Pada pemilihan Walikota dan wakil Walikota Ambon, dia menilai, perpecahan itu terjadi di PDI Perjuangan, salah satu partai penentu koalisi PANTAS. PDIP, sebut dia, terbagi dalam empat bahkan lebih kelompok atau faksi.
Friksi PDIP yang menurut dia belum diselesaikan tersebut, pasti berpengaruh. Bukan saja pada internal PDIP, tetapi koalisi PANTAS secara keseluruhan, karena PDIP memilik basis massa yang cukup signifikan.

“Kalau masalah internal ini tidak diselesaikan dan menyebarkan luas ke delapan partai lainnya pengusung PANTAS, maka sangat berpengaruh dalam konsolidasi. Pengaruhnya sampai ke akar rumput,”katanya.

Untuk menghindari perpecahan akibat konflik PDIP maupun karena kepentingan masing-masing parpol pengusung, saran akademisi di Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (FISIP) UKIM itu, perlu diterapkan manajemen kolaborasi antar parpol.

“Mereka kan sembilan partai, maka mereka harus konsolidasi perbaikan admnistrasi dalam bentuk kolaborasi kerjasama. Kalau tidak, harapan mereka untuk memenangkan pasangan PANTAS, kenyataannya terbalik,”ungkapnya.

Selain PANTAS, dia menilai, perpecahan juga rentan terjadi pada PAPARISA BARU. Salah satu penyebab, karena internal PPP pecah. Belum ada konsolidasi massif yang dapat menyatukan friksi setiap kader dan pengurus PPP.
“PPP sekarang kan mendukung pasangan PAPARISA BARU, tapi figur di PPP tidak 100 persen mendukung mereka. Masing-masing kelompok punya kepentingan sendiri diluar partai,”jelasnya.

Olehnya itu, menurut dia, peluang kemenangan pasangan PANTAS atau PAPARISA sangat ditentukan oleh kedekatan kedua pasangan calon ini dengan masyarakat. Bukan hanya kekuatan parpol.

“Saya pikir kemenangan tergantung siapa yang dekat dengan rakyat. PANTAS atau PAPARISA BARU. Masyarakat diakar rumput hingga kelas menengah lebih cenderung melihat figur, bukan karena banyak atau sedikitnya partai pengusung,”pungkasnya.(TAB)

Most Popular

To Top