Tanding Ulang PDIP Vs Golkar – Ambon Ekspres
Politik

Tanding Ulang PDIP Vs Golkar

AMBON,AE.—Pemilihan Walikota dan wakil Walikota Ambon 2017, bukan menjadi penentuan kemenangan pasangan calon semata. Lebih jauh dimaknai sebagai upaya dua parpol penentu, PDI Perjuangan dan Golkar merebut kepemimpinan eksekutif dan kekuatan politik, sebab Ambon menjadi arena pertarungan yang sengit.

Perebutan kepemimpinan eksekutif oleh PDI Perjuangan dan Golkar, sudah berlangsung sejak lama. Pada pemilihan Walikota dan wakil Walikota Ambon secara langsung periode 2006-2011, kader PDIP Markus Jacob Papilaja yang berpasangan dengan Olivia Latuconsina, terpilih sebagai pemenang.

Mereka berhasil meraih 52.195 suara atau dengan persentase 36,12 dari total suara sah sebanyak 144.523. Sebelumya, pemilihan lewat DPRD tahun 2001, M.J. Papilja dan Syarif Hadler juga menang.

Sementara kader Golkar, Richard Louhenapessy yang berpasangan dengan Syarif Hadler mendapat 40.167 suara dengan persentase 27,79 suara atau peraih suara terbanyak kedua. Kala itu, Piwakot diikuti lima pasangan calon.

Pada Pilwakot periode 2011-2016, Richard kembali maju. Dia memilih Muhammad Armin Syarif (Sam) Latuconsina sebagai wakilnya. PDIP menjagokan kadernya, Lucky Wattimuri. Tapi, upaya PDIP mempertahankan kekuasaan ekskutif, gagal. Richard-Sam menang.

Kini, PDIP dan Golkar kembali berhadap-hadapan. Golkar tetap mendorong Richard. PDIP justeru mendukung Paulus Kastanya. Kastanya adalah mantan calon Walikota 2011 yang memperoleh suara terbanyak kedua.

PDIP maupun Golkar, sama-sama berkomitmen memenangkan Pilwakot. Tujuan PDIP, untuk mengembalikan tampuk kekuasaan. Sementara Golkar, harus bekerja keras mempertahankannya. “Kita kalau sudah berkomitmen merebut kekuasaan, pasti kita akan rebut, ”tandas ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD PDI Perjuangan Maluku, Tobhyhend J.M. Sahureka, Kamis (29/9).

Sahureka menyatakan, kota Ambon merupakan basis kekuatan PDIP sejak dulu. Infrastruktur PDIP terbentuk dari tingkat kota hingga anak ranting (dusun), dengan jumlah kader sekira 2.000 lebih.

Setelah penetapan rekomendasi untuk pasangan Paulus Kastanya-Muhammad Armin Syarif Latuconsina, semua kader solid dan bergerak menguatkan posisi pasangan dengan akronim PANTAS itu. Ditambah lagi dukungan politik 8 partai lainnya, keinginan untuk merebut kembeli kekuasaan eksekutif, menurut Sahureka, sangat terbuka.

“Apalagi kota Ambon yang merupakan basis PDI Perjuangan di Maluku, maka kita akan rebut kembali kekuasaan yang telah lima tahun kita berikan kepada Golkar. Karena diatas kertas dan tanpa mendahului kehendak Tuhan, PANTAS sudah menang. Indikasi, PANTAS didukung oleh mayoritas parpol dengan 25 kursi DPRD, ”jelas dia.

Sementara itu, Golkar secara internal telah menyiapkan diri melawan kekuatan koalisi pasangan PANTAS yang dipimpinan PDI Perjuangan, guna mempertahankan kekuasaan. Golkar memiliki kepengurusan di 110 Desa/Kelurahan di Kota Ambon. Selain itu, partai dengan lambing pohon beringin itu juga memiliki Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) yang tersebar di seluruh desa/kelurahan.

Jika jumlah pengurus desa/kelurahan (Ranting), AMPG dan KPPDG dikalikan 110 desa, maka jumlah kader (pengurus) Golkar yang tersebar sebanyak 5.500 orang. Ditambah lagi pengurus pada tingkat kecamatan dan kota (DPD).

Selain itu, Golkar akan menyebarkan 10 kader potensi di semua Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggarap suara sebanyak mungkin di TPS tersebut. Golkar juga akan membentuk kelompok kader (Pokar) di 7000 tingkat TPS (Tempat pemungutan Suara).

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Partai Golkar kota Ambon, Zeth Pormes mengaku, kader dan pengurus Golkar mulai dari DPD I Provinsi Maluku, DPD II Kota Ambon, kecamatan dan Ranting, terus bergerak melakukan konsolidasi. Dari kecamatan hingga desa dan dusun.

“Setelah pertemuan dengan ketua DPD Partai Golkar Maluku, Said Asagsaff beberapa hari lalu, konsolidasi digencarkan. Belakangan ini, antusias DPD I Golkar Maluku untuk turut melakukan konsoldiasi ke posko timsus maupun desa dan kelurahan dan relawan sangat gencar, setelah pak Gubernur melakukan rapat konsolidasi internal dengan tim peemebangan. Ini perintah langsng dari ketua DPD I, pak Assagaff,”kata Zeth.

Zeth menandaskan, kemenangan pilwakot menjadi harga mati bagi Golkar. Bukan untuk mempertahankan kekuasaan, namun demi kesejahteraan warga kota Ambon.

Sebab, Golkar menilai, Richard suskes mengemban amanah sebagai kader sekaligus Walikota. “Bukan soal mempertahankan atau merebut kekuasaan. Prespektif politik kami, karena Richard adalah kader terbaik yang kami persembahkan bagi kota ini dan dalam kurang waktu lima tahun menunjukkan prestasi yang luar biasa, maka layak kita majukan kembali untuk dipertanakan demi rakyat kota ini,”tandasnya.

Pengamat politik Universitas Pattimura Ambon, Johan Tehuayo mengatakan, sebagai partai dengan rekam jejak yang baik di kota Ambon, PDIP tentu ingin merebut kekuasaan. Dan, strategi PDIP, berjalan cukup mulus.

Hal ini ditandai dengan terbentuk koalisi Sembilan partai politik pengusung dan pendukung pasangan Paulus Kastanya-Muhammad Armin Syarif Latuconsina (PANTAS), yaitu PDIP, Gerindra, Hanura, PKB, PBB, PKS, PAN, PKPI dan Demokrat. Kemudian, kader PDIP ditunjuk sebagai ketua tim pemenangan.

Menurut Tehuayo, PDIP menyadari bahwa kadernya memang memiliki magnet elektoral yang signifikan. Misalnya, Lucky Wattimuri yang kini menjabat sekretaris DPD PDIP Maluku dan anggota DPRD Provinsi Maluku dua periode.
Hanya saja dari aspek popularitas serta finansial politik belum memadai.

Apalagi PDIP pernah kalah pada pilwakot 2011 dengan mendorong Lucky. Karena itu, PDIP memunculkan figur Paulus alias Poly dan Sam. Ekpektasi publik yang signfikan untuk dua figur ini, membuat PDIP mengusung mereka dengan harapan memenangkan Pilwakot.

Sementara Golkar, lanjut dia, pasti melakukan segala cara agar dapat memenangkan pertarungan Pilwakot guna mempertahankan kekuasaan eksekutif. Namun, Golkar tertatih, karena tidak maksimal mendapatkan dukungan partai politik lain.

Dia menilai, justeru peran yang dominan dimainkan sendiri oleh Richard Louhenapessy. Gaung Golkar sebagai besar nyaris tidak terdengar di Pilwakot kali ini. Mestinya strategi koalisi parpol itu lebih dominan di pihak PAPARISA, karena dalam rangka mempertahankan kekuasaan.

“Memang Golkar secara kelembagaan masih tetap menggunakan berbagai strategi untuk melestarikan atau mempertahankan kekuasaanya di eksekutif kota. Namun, peran yng lebih dominan itu pada figur Richard,”tukas dia.(TAB)

Most Popular

To Top