Kisah Mengharukan Safrina, Penderita Cerebral Palsy, Kuliah Hingga S-2 – Ambon Ekspres
Ragam

Kisah Mengharukan Safrina, Penderita Cerebral Palsy, Kuliah Hingga S-2

SECARA fisik, Safrina Rovasita menderita cerebral palsy (CP) alias kelainan gerak dan postur tubuh akibat kerusakan otak.  Namun, dengan keterbatasan fisiknya itu, dia mampu kuliah hingga S-2 dan menjadi dosen tamu di UGM.

Mata Safrina Rovasita lurus tertuju ke monitor notebook pink miliknya. Jarinya menari di atas keyboard dengan lincah. Bukan dengan 10 jari lho, melainkan hanya satu jari. Yakni, jari telunjuk kanannya.
Namun, jangan ditanya soal kecepatan dan akurasi ketikan tangan Safrina. Satu jarinya itu tidak kalah dengan 10 jari orang normal.

Hasil ketikannya pun rapi. Belum lagi, berbicara soal tulisannya: bahasanya menarik dan gampang dicerna.
Tidak mengherankan apabila perempuan 31 tahun tersebut kini dikenal sebagai penulis yang tergabung di komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) Jogjakarta.

Sebenarnya, Nina –panggilan Safrina–ingin bisa mengetik dengan 10 jari. Sayang, kondisinya tidak memungkinkan.
Sebelum usianya genap setahun, Nina divonis menderita CP. Artinya, dia mengalami kerusakan otak pada masa tumbuh kembangnya.

Kerusakan tersebut mengakibatkan kelainan pada saraf motorik. Dia pun terancam tidak bisa bergerak, berbicara, dan bahkan berjalan.

’’Begitu orang tua saya tahu, saya langsung diterapikan. Terapi berbicara dan berjalan. Semakin dini ditangani, semakin baik,’’ ungkap Nina dengan terbata-bata ketika ditemui di tempatnya mengajar, SLB Yapenas Jogjakarta, pertengahan September lalu.

Penanganan orang tuanya sejak dini tersebut membuat Nina akhirnya bisa berjalan dan berbicara. Namun, dengan kondisi tidak normal seperti halnya orang kebanyakan.

Dia berjalan dengan tertatih-tatih. Begitu juga ketika berbicara. Selain pelafalannya kurang jelas, dia kadang sulit mengucapkan kata-kata tertentu.

Tidak jarang, Nina harus mengulang perkataannya agar lawan bicaranya paham dengan apa yang dia ucapkan.
Kondisi tidak normal itu juga dialaminya pada jari-jemari. Dia tidak bisa memegang pensil atau bolpoin dengan kuat sehingga tidak bisa menulis manual dengan baik.

Karena itu, Nina yang menyukai dunia tulis-menulis mengaku sangat tertolong dengan adanya notebook. Dia menjadi lebih leluasa menulis apa pun yang diinginkan tanpa harus bersusah payah melakukannya.

Beberapa karya Nina pun sudah dipublikasikan di beberapa media cetak dan online. Dia juga pernah menjuarai lomba menulis kisah nyata yang diadakan Koran Merapi dan lomba menulis pengalaman guru SLB se-DIJ. Karya cerpennya juga menghiasi majalah Difa, media komunitas kaum difabel.

“Saya memang sangat suka menulis. Di mana pun, kalau bisa saya menulis, termasuk di Facebook. Begitu saya terkesan akan sesuatu, saya pasti akan menulisnya,’’ kata Nina dengan mata berbinar.

Tidak hanya piawai menulis, dia juga pandai memotivasi orang lain dengan semangatnya. Beberapa penghargaan seperti SCTV Award 2015 kategori sosok pantang menyerah dan penghargaan wanita inspiratif, Tupperware She CAN, diterimanya tahun lalu.

Penghargaan-penghargaan tersebut sesuai dengan sosoknya yang memang pantang menyerah pada nasib. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Nina mampu bersekolah di sekolah umum bahkan hingga perguruan tinggi.

Nina adalah alumnus jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pendidikan S-1 tersebut ditempuh hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK yang cukup membanggakan: 3,36.

Tidak sampai di situ. Nina kemudian melanjutkan kuliah S-2 dengan konsentrasi bimbingan dan konseling Islam di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. ’’Kuliahnya sudah selesai. Tinggal wisuda November nanti,’’ ujarnya semringah.

Namun, perjuangan Nina untuk mendapatkan pendidikan yang layak sangat berliku. Sebagai penderita CP, dia sudah terbiasa mengalami segala bentuk diskriminasi sejak kecil. ’’Waktu belum bisa berjalan, saya ke mana-mana digendong ibu. Jadi, ke mana pun ibu pergi, termasuk ke arisan, saya selalu dibawa. Saya sering jadi pusat perhatian,’’ kenangnya.

Hal itu ternyata memacu rasa percaya diri Nina. Meski, awalnya, dia harus menerima kenyataan bersekolah di SLB (sekolah luar biasa). Di SLB, dia dikelompokkan dengan murid tunagrahita. Namun, lama-kelamaan dia merasa jenuh.

Apalagi, nilainya jauh di atas teman sekelas. Akhirnya, Nina memberanikan diri meminta gurunya memberikan buku pelajaran untuk anak SD. “Awalnya, orang tua maupun guru saya ragu-ragu mau ngasih saya buku SD. Tapi, saya ngotot karena saya benar-benar sudah bosan belajar di sana (SLB),’’ katanya.

Pihak sekolah dan orang tua akhirnya menuruti kemauan Nina. Sejak itu, selama tiga tahun, Nina boleh belajar dengan buku-buku paket SD. Dia bahkan boleh mengikuti ujian paket A agar bisa mendaftar di SMP umum.

Hebatnya, Nina lulus dengan NEM 44 dengan rata-rata 8,8 untuk lima mata pelajaran yang diujikan. Dengan NEM tersebut, dia pun bisa dengan mudah mencari sekolah negeri di kota kelahirannya. ’’Tapi, dengan kondisi saya seperti ini, tidak semua sekolah negeri mau menerima,’’ tuturnya.

Untung, ada sekolah negeri yang bersedia menerima Nina dengan segala keterbatasan. Dia diterima di SMP Negeri 2 Depok, Sleman. Betapa senangnya dia.

Menurut bungsu empat bersaudara itu, pengalaman bersekolah di SMP Negeri 2 Depok tersebut sangat berkesan. “Awalnya, Pak Kepala Sekolah ragu. Dia sempat nanya, nanti kalau kamu dihina sama murid-murid lain, gimana? Saya bilang, itu sudah jadi makanan sehari-hari, Pak,’’ cerita dia.

Mendengar jawaban Nina, sang Kasek langsung yakin bahwa Nina bisa mengikuti pelajaran di SMP umum. Bahkan, pada hari pertama, ketika upacara bendera, Nina diperkenalkan secara khusus oleh Kasek. “Beliau bilang begini, ’Ini namanya Nina, dia penderita cerebral palsy. Kalau ada yang mau menghina dia, silakan. Dia sudah biasa’,’’ ujar Nina.

“Ternyata, dengan cara seperti itu, malah nggak ada yang berani menghina saya,’’ imbuhnya. Selama di SMP, Nina membuktikan kapasitas dirinya sebagai murid istimewa. Dia hampir selalu masuk tiga besar di kelas. Tidak jarang teman-temannya meminta sontekan ketika ulangan. Namun, dia enggan memberikan.

’’Bukan apa-apa. Kalau saya kasih contekan dan nilai mereka lebih bagus, pasti yang dikira nyontek saya karena saya dari SLB,’’ ujar perempuan berjilbab itu.

Nina menambahkan, sebenarnya tanpa perlu memberikan sontekan, teman-teman di kanan kirinya bisa melihat langsung jawaban di kertas ulangan miliknya.

Sebab, Nina selalu kesulitan ketika menulis dengan pensil maupun bolpoin sehingga tulisannya besar-besar. ’’Jadi, sebenarnya ngelirik dikit saja sudah bisa kelihatan kok isi jawaban saya. Karena tulisan saya besar-besar.’’
Meski begitu, Nina tidak pernah diasingkan teman-temannya. Baru, saat tahun terakhir, dia mengetahui mengapa teman-temannya selalu mendekati dirinya.

Kedekatan itu ternyata terjadi karena instruksi kepala sekolah. Para murid harus dekat dengan Nina. Yang mengucilkan akan diberi sanksi.

Mengetahui hal itu, putri pasangan Suprapto dan Masriyah tersebut sempat kecewa kepada sang Kasek. Dia menilai kepala sekolah terlalu campur tangan dalam hubungan antarsiswa.

Namun, sikap kepala sekolah tersebut di kemudian hari memberikan pelajaran berarti bagi Nina. Setelah lulus SMP dengan nilai cukup baik, Nina mendaftar di sekolah negeri. Tapi, tidak ada sekolah negeri yang mau menerima. Akhirnya, Nina diterima di SMA Gama Sleman.

Prestasi belajar Nina tidak menurun. Dia masih selalu tiga besar di kelas. Namun, keengganan memberikan sontekan membuat dia dikucilkan teman-temannya. Seluruh teman sekelasnya tidak mau mengajaknya berbicara. Bahkan, ketika Nina sulit membuka botol minum, mereka bergeming.

Begitu pula saat dia harus berganti baju seragam dengan baju olahraga, tidak ada yang mau membantunya. Nina tidak lantas bersedih atau putus asa atas kondisi tersebut. Dia mencari akal untuk mengatasi persoalannya. Meski begitu, cobaan yang dihadapi Nina belum berakhir.

Saat ujian nasional (unas), dia harus mengisi lembar jawaban dengan cara menghitamkan lembar jawaban komputer (LJK). Padahal, dia tidak bisa memegang pensil dengan benar.

’’Saya lalu minta relawan pendamping untuk membantu saya mengisikan jawaban. Tapi tidak diperbolehkan oleh sekolah,’’ katanya.

Akibatnya, tahun itu Nina dinyatakan tidak lulus. Tapi, dia tidak patah arang. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi cukup besar. Dia pun menempuh program paket C dan lulus.
Karena itu, begitu pendaftaran mahasiswa baru dibuka, dia bisa mendaftar dan bahkan diterima di jurusan PLB Universitas Negeri Yogyakarta.

Selama kuliah, Nina amat fokus. Tak heran bila dia kemudian lulus dalam waktu cepat: 3,5 tahun. Yang menggembirakan, begitu lulus kuliah, Nina langsung diterima kerja di SLB Yapenas Jogjakarta.
Sembari mengajar, dia menyempatkan untuk melanjutkan kuliah S-2 dengan menempuh program master di UIN Sunan Kalijaga.

Di SLB Yapenas, Nina mengajar anak-anak penderita CP seperti dirinya. Selain itu, ada satu murid tunagrahita yang tak lain teman sekelasnya dulu ketika Nina masih bersekolah di SLB.

’’Ya, rasanya agak aneh saja mengajar teman sendiri. Badannya lebih besar dari saya. Saya sudah S-2, dia masih SD,’’ ujarnya, lantas tersenyum.

Nina mengakui, tidak mudah menyandang gelar guru SLB yang juga penderita CP. Banyak yang meragukan dirinya mampu mengajar. Bukan hanya lingkungan sekitar, bahkan anak didiknya pernah mempertanyakan apakah dirinya bisa menjadi guru bagi mereka.

’’Tapi, saya nggak mau menyerah. Saya memang senang mengajar. Saya ingin membuktikan bahwa tidak semua anak CP itu bodoh. Saya ingin menggali potensi anak-anak CP. Buktinya, secara akademis saya tidak mengalami masalah,’’ tandas dia. (JPNN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!