Atribut Tak Berpengaruh MEDIA LEBIH EFEKTIF – Ambon Ekspres
Politik

Atribut Tak Berpengaruh MEDIA LEBIH EFEKTIF

Terkait Pilihan Politik Pemilih

AMBON,AE.—Belanja kampanye pasangan calon Walikota dan wakil Walikota Ambon berupa atribut spanduk dan baliho dinilai tidak
terlalu efektif memengaruhi sikap politik pemilih. Ini disebabkan, spanduk hanya sebagai sumber informasi awal. Berbeda dengan media massa yang dapat membingkai preferensi politik pemilih.

Belanja kampanye telah dilakukan dua pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Ambon, Paulus Kastanya-Muhamamad Armin Syarif Latuconsina dan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler. Dalam bentuk baliho dan spanduk, sudah mencapai ribuan. Sedangkan media massa, tidak lebih dari sepuluh.

Analis politik Fajrin Rumalutur menilai, baliho dan spanduk merupakan instrument atau alat peraga kampanye yang biasanya dipakai untuk menyampaikan informasi umum. Seperti pengenalan terhadap kandidat calon, tagline kampanye dan program singkat yang diusung kandidat.

Dari aspek publikasi, menurut Fajrin, sangat efektif sebagai sumber referensi. Namun, tidak serta merta dapat membentuk prefrensi pemilih atau mengubah sikap politik pemilih yang sudah ada.

“Pada aspek publikasi, efektif sebagai sumber referensi awal voters mengenali dan mengidentifikasi para calon kandidat, namun tidak serta merta membentuk langsung preferensi pemilih,”jelas Fajrin kepada Ambon Ekspres, Senin (3/10).

Penggunaan instrument kampanye berupa spanduk dan baliho, kata Fajrin, dapat mempengaruhi pilihan politik pemilih tradisional (traditional voters) saja. Sebab, tipe pemilih ini tidak menentukan pilihannya berdasarkan sumber informasi yang utuh dari semua instrumen.

“Tapi kalau pemilih tradisional, ketika spanduk atau baliho dipasang pada berbagai tempat, itu secara tidak langsung membingkai preferensi mereka tentang pasangan calon. Bahkan, dapat memilih pasangan calon itu. Pemilih tradisional ini kan meletakan preferensinya terhadap kandidat, cepat sekali tergantung seberapa besar ekspose sumber informasi tentang pasangan calon,”jelas magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) itu.

BACA JUGA:  Firman Malaka Bantu Ambulance untuk Masyarakat Pulau Buru

Media Massa
Berbeda dengan spanduk dan baliho, media massa, kata peneliti Institute of Democracy And Civil Society ( IDCS) yang berbasis di Jakarta, itu memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan preferensi bahkan sikap politik pemilih. Sebab, media massa menjadi sumber informasi terlengkap mengenai seluk-beluk calon.

“Salah satu instrumen yang bisa membingkai preferensi pemilih dalam pemilu ialah media massa. Itu sebabnya, mengapa banyak kandidat menggunakan media cetak maupun media elektronik untuk menyampaikan informasi kepada konstituen, kepada pemilih tentang program-program yang lebih spesifik yang diusung oleh mereka,”ungkap dia.

Olehnya itu, media massa menjadi referensi bagi pemilih rasional (rational voters). Apalagi di perkotaan seperti Ambon, menurut dia, jumlah pemilih rasional (rational voters) kemungkinan lebih banyak bandingkan dengan pemilih tradisonal.

“Karena Ambon pusat kota, maka banyak birokrat, akademisi, kalangan terdidik secara kritikus dalam menentukan pilihan politik. Kalau hanya baliho dan spanduk, tidak mungkin bisa membentuk preferensi politik pemilih rasional,”paparnya.

Selain itu, lanjut dia, media massa juga dapat membentuk preferensi politik pemilih mengambang (swing voters) yang rata-rata menentukan pilihan mendekati hari pemilihan atau pencoblosan. Nyaris di semua daerah, terbukti demikian.

“Dan tipologi pemilih yang belum menentukan pilihannya jauh-jauh hari dan menentukannya mendekati hari pemilihan, maka referensi yang dipakai adalah media massa. Karena media massa adalah instrument yang paling mungkin menginformasikan tentang semua hal yang terkait dengan kandidat,”ungkapnya.

BACA JUGA:  Nama PANTAS di Tangan Presiden PKS

Namun masalahnya adalah, sebut dia, terletak pada keberpihakan media terhadap pasangan calon tertentu. Pemilih rasional, biasanya telah memiliki referensi tersendiri dan mampu mengidentifikasi rekam jejak pasangan calon, sehingga tidak terbingkai dengan isu dan pemberitaan media mengenai paslon.

“Masalahnya, pemilih rasional ini kadang mendefinisikan peran dan kedudukan media itu berpihak kepada kandidat mana. Biasanya, mereka sudah memilih referensi dan mengidentifikasi media mana yang berpihak kepada kandidat mana,”ulasnya.

Dia justeru menilai, komunikasi politik yang efektif untuk menjaring pemilih, adalah pertemuan langsung (tatap muka) calon dengan konstituen (blusukan). Sebab pemilih akan bisa berdialog dengan kandidat.

“Selain itu pertemuan langsung dengan konstituen memberi kesan adanya kedekatan antara voters dengan kandidat. Kampanye Dialogis adalah metode yang paling efektif untuk membingkai image building kandidat di mata pemilih, terkhusus si kalangan pemilih rasional (rational voters),”pungkasnya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Darussalam, Zulfikar Lestaluhu menilai, pengaruh kampanye melalui media-media tersebut, memang mempengaruhi pemilih. Namun, tidak terlalu efektif untuk Pilwakot Ambon.

“Memang kampanye melalui spanduk, baliho, pamphlet dan punya pengaruh. Tapi, kalau dihitung, mungkin sekira 20 persen saja dari total indikator yang memengaruhi pilihan politik pemilih. Orang lebih melihat pada aspek figur dan kinerja,”ungkap dia.

BACA JUGA:  Menristek Restui Wisuda Unidar

Selain itu, menurut dia, efektifitas belanja kampanye juga sangat ditentukan oleh kondisi suatu daerah. Jika pilkada atau pemilu sedang berlangsung di daerah yang minim akses informasi, kampanye yang disebarkan melalui spanduk, baliho maupun media massa sangat berpengaruh.

“Apalagi kota Ambon yang memiliki wilayah yang tidak luas, sehingga tidak terlalu dibutuhkan kampanye dan sosialisasi diri yang massif. Jadi, pengaruhnya itu pasti ada. Tapi tidak sampai pada tingkat mengubah sikap politik pemilih di kota Ambon saat ini,”jelasnya.

Direktur Eksekutif Research Consulting And Marceting (Resco), M. Jais Patty menilai, efektifitas pengaruh kampenye melalui spanduk, baliho dan media massa sangat tergantung pada isi visi, misi serta program yang ditawarkan pasangan calon. Bukan karena intens dan jumlah instrumen yang dipakai.

“Kalau seberapa besar keefektifannya, mungkin tidak bisa saya sebutkan dengan pasti. Semunya tergantung visi apa yang ingin ditawarkan oleh calon walikota dan wakil walikota tertentu. Kalau bagus, pasti publik tertarik. Disitulah sangat bisa mempengaruhi pemilih,”terang Jais.

Khusus media massa, terutama cetak, lanjut Jais, hanya untuk kalangan tertentu saja. Tetapi, penting sebagai sumber informasi. “Tentu saja berpengaruh, karena atribut-atribut spanduk dan baliho dan media massa menjadi media efektif untuk memperkenalkan public tentang profil atau visi calon walikota dan wakil walikota.

Khusus media, hanya punya kalangan tertentu saja. Tidak semua kalangan membaca Koran. Tapi penting sebagai sumber informasi politik,”tambah dia.(TAB)

Most Popular

To Top