Gegana akan Sisir Beberapa Lokasi – Ambon Ekspres
Amboina

Gegana akan Sisir Beberapa Lokasi

AMBON,AE.––Diduga benda-benda berbahaya sisa peninggalan konflik 1999 seperti bom dan senjata api, masih banyak terkubur di Beberapa wilayah Kota Ambon. Kini benda-benda itu perlahan-lahan mulai terungkap seiring situasi dan kondisi Maluku yang semakin kondusif. Ahuru, termasuk daerah yang diduga masih banyak tersimpan benda berbahaya itu.

Berdasarkan data yang diperoleh Ambon Ekspres, penemuan puluhan bom rakitan yang diduga merupakan sisa konflik sosial itu, mulai dari Tahun 2009, yang mana sebanyak 57 buah bom rakitan ditemukan warga dikawasan Ahuru, tepatnya di depan gereja ST Yakobus, kemudian diserahkan ke anggota TNI.

Selang beberapa tahun kemudian tepatnya di akhir 2013, warga kembali dikejutkan dengan penemuan puluhan bom, saat pengerukan sungai untuk pembangunan talud dikawasan kampung kolam itu.

Tak hanya di kawasan Ahuru, pada April 2015 lalu, juga warga yang mendiami kawasan RT 002 RW 03 Desa Batu Merah, dikejutkan dengan penemuan 11 bom yang dikemas dalam kaleng cat metrolite, yang terkubur didalam tanah kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Louhenapessy tak Lagi Lepas Sanaky

Sabtu akhir pekan kemarin, sebanyak 22 bom kembali ditemukan di kawasan Kampung Kolam Ahuru. Sampai saat ini pihak kepolisian dari polres Pulau Ambon masih terus melakukan penyelidikan terkait dengan temuan puluhan bom yang diduga merupakan sisa peninggalan konflik tersebut.

“Barang bukti sudah diamankan di Gegana Polda Maluku, nanti tunggu diuraikan terkait zat-zat atau kandungan yang ada di dalam bom itu. Zat-zatnya apa? Itu nanti tunggu hasil dari Gegana. Barang bukti itu ada 22 buah bom rakitan dan satu buah amunisi kaliber 3,38,”jelas KBO Satuan Reskrim polres Pulau Ambon dan Pp Lease Ipda Semi Leimena, kepada wartawan di mapolres Ambon, Senin kemarin.

Terpisah Kasat Brimob Polda Maluku, Komisaris Besar Polisi Herman Sikumbang mengatakan, pihaknya masih terus melakukan penguraian terhadap isi dari puluhan bom tersebut. Puluhan bom tersebut diduga merupakan bom rakitan sisa peninggalaN konflik.

“Anggota kami (Gegana red), masih melakukan penyelidikan terkait isi dari bom itu. Dan hasilnya seperti apa, nanti akan kita sampaikan ke Polres. Karena itu kewenangan dari Polres untuk menyampaikan kepada publik atas penemuan kemarin (bom red), “kata dia, kepada koran ini di ruang kerjannya siang kemarin.

BACA JUGA:  Gubernur: Kita Kehilangan

Orang nomor satu dijajaran Brimob Polda Maluku ini mengaku, jika sisa peninggalan konflik kemanusiaan beberapa tahun silam itu masih banyak berada di tangan masyarakat, maupun yang dikuburkan.

Namun ketika ditanya benda-benda itu berada dikawasan mana, pria dengan tiga melati dipundaknya itu, belum bersedia membukanya lebih jauh. Dia mengaku, jika data jelasnya ada di Polres Ambon.

“Yang pasti dari penemuan di kawasan Ahuru kemarin, memang masih ada benda-benda itu yang disimpan maupun dikuburkan. Untuk dimana saja? Data jelasnya ada di Polres, belum bisa kita sampaikan karena masih kita dalami lebih jauh lagi,”jelasnya.

Dengan dugaan masih banyak benda-benda tersebut yang ditanam, lanjut Herman, pihaknya berencana akan melakukan penyisiran baik di kawasan Ahuru, maupun disejumlah tempat yang dicurigai itu. Namun demikian pihaknya masih harus berkoordinasi dengan Polres maupun Kodim.

“Mengantisipasi masih banyak bom rakitan yang dimiliki masyarakat, kita akan kerja sama dengan polres dan Kodim Ambon, untuk kita melakukan penyisiran di lokasi-lokasi yang memang kita curigai. Terlebih Ahuru itu, “paparnya.

BACA JUGA:  Polisi Vs Satpol PP

Sementara itu, Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease Ajun Komisaris Besar polisi Harold Wilson Huwae, yang dikonfirmasi terkait rencana penyisiran di lokasi penemuan bom tersebut, belum memberikan keterangannnya.

Untuk diketahui puluhan bom yang diduga sebagian masih aktif kembali ditemukan warga di kawasan Ahuru, Kampung Kolam, Kecamatan Sirimau. Belum diketahui siapa pemilik barang berbahaya itu. Polisi masih menyelidiki. Namun bom tersebut diperkirakan sisa-sisa konflik yang ditanam.(ERM/AHA)

Most Popular

To Top