Kekuatan Husni Grogoti Ramly – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Kekuatan Husni Grogoti Ramly

AMBON,AE.––Peluang Bakri Lumbessy menumbangkan Ramly Umasugi di Pilkada Buru 2017, cukup terbuka. Hal ini dinilai karena masih kuatnya pengaruh Husni Hentihu, mantan bupati dua periode untuk memengaruhi pemilih untuk memilih Bakri. Ramly harus mewaspadai pengaruh Husni tersebut.

Bakri merupakan bakal calon Bupati Buru. Dia berpasangan dengan Amrullah Madani Hentihu. Pasangan dengan akronim BARU (Baki-Rully) itu diusung oleh tiga partai politik, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sementara Ramly Umasugi, calon Bupati petahana berpasangan dengan Amos Mustofa Besan (RAMA) diusung sembilan partai politik, Golkar, PDIP, Hanura, PKPI, Nasdem, Demokrat, PAN, PBB dan Gerindra.

Pengamat politik Universitas Pattimura, Paulus Koritelu mengatakan, dalam teori politik disebutkan, kemenangan kontestasi Pilkada sangat ditentukan oleh ketepatan memilih partai dan figur. Dalam konteks Pilkada Buru, Bakri dinilai tepat memilih wakilnya, Rully yang adalah anak dari Husni Hentihu.

“Dan, saya kira beliau (Bakri Lumbessy) agak tepat untuk memilih pasangan. Karena meskipun pak Husni Hentihu sudah satu periode tidak lagi menjadi bupati, tapi gaung pengaruh beliau harus diperhitungkan dan sesuatu yang harus diwaspadai oleh incumbent,”kata Koritelu kepada Ambon Ekspres, Senin (3/10).

BACA JUGA:  BNN Sisir Bandara Pattimura

Menurut Koritelu, pengaruh Husni terhadap kemenangan Bakri dan Rully, cukup besar. Sebab, selama dua periode memimpin Buru, Husni sudah memiliki political capital (modal politik), social capital (modal social) dan cultural political (budaya politik).

Ketiga faktor ini, lanjut akademisi sosiolog politik itu, kemudian membentuk investasi jasa politik secara luas. Akumulasi dampaknya pada pencitraan yang baik di mata masyarakat.

“Modal politik ini berhubungan dengan investasi jasa. Investasi jasa ini kemudian berhubungan dengan proses pembentukan citra. Investasi politik beliau pada periodisasi kepemimpinannya, tidak begitu mudah dilupakan oleh masyarakat Buru. Sehingga dia punya pengaruh,”jelas dia.

Sementara pengaruh Ramli dalam memengaruhi pemilih, tidak sebesar Husni. Koritelu melihat dari sisi penggunaan anggaran untuk pencitraan di masyarakat, dilakukan dengan leluasa oleh Husni saat menjabat bupati, karena transparansi dan pengawasan terhadap penggunaan anggaran belum seketat sekarang.

Meski begitu, menurut dia, pasangan Bakri-Rully maupun Ramly-Amos, memilik peluang yang sama. Sehingga, kata dia, pasangan yang mampu memanfaatkan aktivitas konsolidasi di waktu-waktu terakhir menjelang pemilihan, kemungkinan mereka yang menang.

BACA JUGA:  Polisi Tutup Kasus Da Costa

“Dalam teori probabilitas (kemungkinan), itu sama saja. Baik A atau B, punya peluang. Tetapi, siapa yang mampu memanfaatkan factor X dalam situasi yang sangat menentukan, terutama memanfaatkan setiap aktivitas politik, itulah yang akan keluar sebagai pemenang,”katanya.

Analisa politik, Almudatsir Sangadji menilai, Bakri yang memiliki peluang mengalahkan Ramly. Gagalnya upaya Ramly mendapatkan rekomendasi semua partai politik, justeru memantik simpati politik masyarakat kepada Bakri-Rully.

“Ramly sadar ketika memilih bukan antara Ikhsan Tinggapi dan Amrullah Hentihu. Makanya dia mendesain mengambil semua partai politik. Namun skema itu tidak rampung, karena situasinya akan berbalik. Bakri punya peluang lebih baik, karena resonansi negatif dari gagalnya konsolidasi Ramly,”papar Almudatsir.

Menguatnya dukungan kepada pasangan Bakri-Rully, kata dia, tidak terlepas dari pengaruh Husni. Husni dikenal sebagai tokoh Golkar. Dia membumikan Golkar dan melahirkan banyak kader potensial di sana, Termasuk Ramly.

Selain itu, sebut Almudatsir, Husni juga adalah tokoh birokrasi di pemerintahan Buru. Ia mampu menjaga konsensus dan keseimbangan politik. “Dia punya loyalitas di Golkar dan Birokrasi. Husni tokoh yang pintar menjaga konsensus dan keseimbangan politik. Husni juga dibantu dengan reintegrasi tokoh politik lain yang mendukung BARU, seperti Mochdar Mukadar dan Etha Hentihu,”sebutnya.

BACA JUGA:  Belajar Debat dari Hillary

Menghadapi Pilkada Buru, Ramly hanya diunggulkan pada posisi dia sebagai incumbent yang akan mengakhiri periodenya pada 2 Februari 2017, serta diusung oleh 9 partai di parlemen. Namun, menurut Almudatsir, pengaruhnya kecil.

Khusus untuk basis pemilih Golkar, dia juga memprediksi, lebih banyak akan melabuhkan pilihan kepada pasangan Bakri-Rully. Ketidakseimbangan kalkulasi politik Ramly, menjadi salah satu faktor penyebabnya. (TAB)

Most Popular

To Top