Kembali Jadi Tukang Ojek Usai Meraih Emas Terakhir di PON Jabar – Ambon Ekspres
Olahraga

Kembali Jadi Tukang Ojek Usai Meraih Emas Terakhir di PON Jabar

Mohammad Yamin Rahayaan, Atlet Shorinji Kempo Maluku

Senyum sumringah tampak dari atlet kempo andalan Maluku, Mohammad Yamin Rahayaan usai pengalungan medali pada pertandingan hari terakhir cabang kempo di PON XIX yang berlangsung di GOR Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Kota Bandung, beberapa hari lalu. Dia menjadi pahlawan terakhir Maluku yang menyumbang medali emas di multievent empat tahunan itu.

ria kelahiran Maluku Tenggara (Malra) 25 Maret 1989 ini memastikan diri sebagai penyumbang medali emas di kelas 70 kg pada ajang PON yang digelar mulai dari 17-29 September 2016 tersebut. Raihan satu medali emas pada pertandingan hari terakhir menambah koleksi sumbangan medali Maluku menjadi 7 emas, 3 perak dan 9 perunggu.

Namun Rahayaan mengaku kebingungan saat ditanya tentang masa depannya setelah usai Pekan Olahraga Nasional XIX/2016 Jabar. Nasibnya tak semoncer prestasinya. Wakil Maluku itu kini hanya menjadi seorang tukang ojek di seputaran pantai Pos Bula.

Padahal, anak pertama dari lima bersaudara ini telah menorehkan prestasi yang luar biasa bagi daerah ini. Pada ajang Pra PON dan PON Riau 2012 silam, ia berhasil menyumbang medali emas dan tahun ini, prestasi serupa berhasil ia torehkan.

Rahayaan mengaku, prestasi yang ia raih di pelbagai level kompetisi olahraga karena rasa cinta terhadap tanah kelahirannya, Maluku. Sayang, perhatian dari pemerintah sangat minim.” Banyak mantan atlet yang hingga kini hidup terlunta-lunta. Mereka yang berprestasi belum punya pekerjaan. Kami tidak ingin cerita ini menimpa atlet yang meraih prestasi di PON yang beru berakhir beberapa hari lalu,” tandas Rahayaan kepada penulis di Ambon, kemarin.

BACA JUGA:  Orang Asia Pertama Raih Penghargaan di Italia

Anak tertua dari pasangan Sarafudin Ulima (Alm) dan Asiyah mengaku tidak tahu harus kemana setelah PON tuntas.” Saya ini cuma tukang ojek. Setelah berhasil meraih emas di PON, saya akan kembali ojek lagi karena tak tahu harus kemana. Jujur, saya sangat bingung dengan nasib yang saya alami saat ini,” beber dia.

Atlet yang kini bermukim di Kota Bula, Seram Bagian Timur ini berharap agar pemerintah bisa membantu dirinya dan teman-teman seperjuangan (atlet yang lain) untuk bekerja.” Saya berharap agar nanti ada kejelasan bagi masa depannya.

Maklum, saya anak yang tertua, jadi harus menjadi tumpuan keluarganya. Sekarang masih bisa bagi-bagi rejeki buat keluarga (dari prestasi di kempo). Setelah itu, saya tidak tahu lagi mau berbuat apa. Yang jelas, untuk kebutuhan sehari-hari, saya harus ojek,” ungkap alumni SD Negeri 2 Bula ini.

Jebolan SMP 1 dan SMA Negeri 1 Bula ini juga mengaku bangga karena melalui kempo, nama Maluku dapat harum di kancah nasional.” Bila atlet mampu berprestasi dan memberikan yang terbaik, maka pemerintah daerah juga harus memperhatikan mereka (atlet) sehingga semuanya berjalan selaras dan seimbang,” katanya.

” Saya sangat bahagia karena bisa mendulang emas. Ini berkat doa orang tua dan medali ini untuk orang tua saya,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Belum Tuntas Wifi, Muncul Master Plan

Sebenarnya, kata Rahayaan, banyak tawaran untuk hijrah ke daerah lain. Namun ia tidak mau pindah karena masih cinta dan ingin selalu loyal kepada tanah tercinta ini (Maluku).” Memang ada tawaran yang menggiurkan dari provinsi lain. Tapi, saya tetap menolak, karena saya ingin tetap berbakti pada negeri ini. Mending saya ojek dari pada hijrah ke daerah lain,” ucapnya bangga.

Rahayaan tidak ingin nasibnya sama seperti mantan-mantan atlet sebelumnya. Kala itu, mereka dipuja ketika masih berjaya, tapi ditelantarkan saat sudah tidak berdaya. Barangkali itulah gambaran nasib sebagian mantan atlet nasional (Maluku) yang pernah mengharumkan nama bangsa dan negara saat ini.” Cerita sedih dan memilukan ini tidak boleh lagi menimpa kami (atlet berprestasi). Kami sangat butuh uluran tangan pemerintah,” pintanya lagi.

Sejatinya, imbuh pria murah senyum ini, meski banjir prestasi, namun yang diperoleh hanyalah kebanggaan semata.” Kalau tidak ada jaminan hidup laik dari pemerintah tentu semua atlet akan berpikir ulang untuk memutuskan tawaran yang menggiurkan dari daerah lain, termasuk saya,” kunci anak asuh Jeremias Lekahena ini.
Lalu Bagaimana Dengan Pemerintah?

Dalam beberapa kesempatan, Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua telah berjanji akan memberikan bantuan pekerjaan kepada para atlet asal Maluku yang berprestasi di PON Jabar.” Mereka (para atlet berprestasi) nantinya akan diarahkan bekerja di BUMD dan BUMN,” katanya kepada penulis di Situ Cipule, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, belum lama ini.

BACA JUGA:  Produk Transmigran Masuk Pasar

Selain itu, Sahuburua mengatakan, mereka bisa juga diarahkan untuk menjadi profesional di bidang-bidang tertentu, disesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing.” Kalau mereka ingin melanjutkan pendidikan, kami akan bantu. Begitupun dengan pekerjaan,” janjinya.

Menurut Sahuburua yang juga ketua kontingen PON Maluku ini, para atlet telah mengerahkan waktu dan tenaganya, hingga meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Tentunya jeri payah ini akan tetap kami hargai.” Kami akan tetap mengupayakan agar mereka bisa hidup sejahtera dan hal ini tetap kami lakukan. Kalau kami lupa tentang janji ini, tolong anda (wartawan) ingatkan saya,” tutup pria murah senyum ini.

Janji apa pun terasa manis. Tapi kalau tak dilakoni, sama saja bohong. Kalau atlet-atlet yang pernah berjaya itu tak kunjung diperhatikan kesejahteraannya, bukankah itu ‘habis manis sepah dibuang’?

Ingat nasihat bijak Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno, yang terkenal hingga sekarang, ‘Jas Merah’ yang merupakan akronim dari ‘jangan sekali-kali melupakan sejarah’. Lewat nasihat itu, beliau meminta seluruh masyarakat pemimpin di Indonesia supaya tidak lupa sama mereka yang sudah berjasa buat negeri ini.

Semoga pepatah diatas bisa mengetuk hati para pemangku kepentingan di Maluku untuk bisa melihat nasib mantan dan atlet berprestasi.(****)

Most Popular

To Top