PANTAS-PAPARISSA Abaikan Isu Lingkungan – Ambon Ekspres
Politik

PANTAS-PAPARISSA Abaikan Isu Lingkungan

AMBON,AE.—Persoalan lingkungan hidup tidak menjadi perhatian serius dua bakal pasangan calon Walikota dan wakil Walikota Ambon, Paulus Kastanya-Muhammad Armyn Syarif Latuconsina dan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler. Ini terlihat dalam visi mereka yang tidak ada program yang berkaitan langsung dengan lingkungan.

Pasangan Paulus Kastanya-Muhammad Armyn Syarif Latuconsina dengan akronim PANTAS, maju dengan visi yaitu menjadikan Ambon kota yang Berkeadaban, Berdaya Saing, Sejahtera Berbasis Potensi Lokal Yang Berkeadilan, Didukung Partisipasi Masyarakat Secara Berkelanjutan. Visi ini kemudian dijabarkan menjadi program unggulan ketika mereka terpilih pada 15 Februari.

Isu lingkungan, juga luput dari visi, misi, strategi dan kebijakan pembangunan Ambon lima tahun ke depan dari pasangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler dengan akronim PAPARISSA BARU. Visi besar pasangan ini, yaitu menciptakan Ambon yang harmonis, sejahtera dan religius.

Lalu, terjabarkan dalam empat poin yang menjadi kebijakan pembangunan Ambon ke depan, Yaitu memperkuat dan mempererat harmonisasi sosial, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memberdayakan ekonomi keluarga dan masyarakat menujukemandirian yang kreatif berbasis sumberdaya alam yang tersedia dan meningkatkan nilai-nilai spiritualitas masyarakat.

Padahal, menurut pengamat dan pemerhati lingkungan, Abraham Tulalessy, Undang-Undang nomor 23/2014 tentang pemerintahan daerah dan Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, mewajibkan setiap bakal calon kepala daerah atau kepala daerah menjadikan isu lingkungan sebagai program utama.

“Karena kalau lihat undang-undang nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah dan UU lingkungan hidup, isu lingkungan yang diutamakan. Dan itu urusan wajib, bukan tambahan, ”kata Tulalessy kepada Ambon Ekspres via seluler, Jumat (14/10).

Tidak hanya dua UU tersebut, aturan perundang-undangan Pilakada juga mengisyaratkan di dalam dokumen visi-misi paslon wajib dimasukkan program mengenai kelestarian lingkungan hidup. Sebab, jika paslon terpilih, maka dokumen visi-misi dan program tersebut menjadi panduan pembangunan kabupaten/kota dan provinsi yang bersangkutan.

Apalagi, lanjut Tulalessy, Kota Ambon memiliki banyak persoalan lungkungan. Mulai dari pemukiman penduduk yang belum tertata dengan baik, masalah ketersediaan air bersih, pencemaran daratan dan laut, bencana alam, pembukaan lahan atas, sampah dan lainnya.

Sehingga, kata dia, telah menyebabkan penurunan daya dukungan lingkungan kota Ambon. Bahkan, menurut dia, saat ini sudah sampai pada level kritis. “Daya dukung kota ini kan sudah sangat bahaya atau masuk level kritis. Baik ketersediaan lahan, produktivitas dan pengelolaan sampah, ketersediaan air bersih. Mengapa tidak dimasukan dalam visi misi kedua pasangan calon,”paparnya.

Visi misi, serta program kedua pasangan calon yang tidak mengutamakan pelestarian lingkungan, kata dia, sangat disesalkan. Ini juga menandakan bahwa selama ini upaya pemerintah Kota Ambon mengelola lingkungan dan mendapatkan penghargaan Adipura, hanya sebatas seremonial belaka.

Tidak dimaknai secara serius. Penyelesaian masalah lingkungan hanya dititik beratkan pada objek tertentu. Misalnya penanganan sampah. Padahal ada persoalan lingkungan lain membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

“Jangan lingkungan diperhatikan sebatas ceremony saja untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru, Adipura dan lain-lainnya. Nah, kalau visi dan misi bakal calon tidak ada isu lingkungan, itu konyol namanya. Ini sangat disesalkan,”paparnya.

Agar isu lingkungan menjadi fokus utama dalam pembangunan Kota Ambon lima tahun kedepan, kepala Pusat Studi Lingkungan (PSL) itu berharap, agar tim pasangan calon dapat menambahkan atau merevisi visi, misi dan program yang telah dirancang, sebelum debat kandidat atau dimasukkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai dokumen resmi. Sebab, isu lingan merupakan program wajib sesuai anjuran UU dan kondisi daya dukung kota Ambon yang kian menurun.

Pengamat lingkungan Universitas Darussalam Ambon, Husain Latuconsina, mengatakan keringnya isu lingkungan di dalam visi, misi dan program menunjukkan ketidak pedulian paslon dengan isu lingkungan. Padahal, isu lingkungan meliputi banyak hal.

Misalnya, kata dia, soal menurunnya daya dukungan lingkungan. Kondisi ini disebabkan oleh faktor alam, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, dan lainnya.

Manusia juga sebagai pelaku penurunan daya dukung, masih rendahnya kesadaran bersama, yakni membuang sampah sembarang sehingga menyebabkan banjir, pembukaan lahan atas besar-besaran dan tanpa prosedur, pabrik-pabrik yang menimbulkan pecemaran udara, air dan tanah.

“Visi misi ini memperlihatkan bahwa paslon tidak peduli soal isu dan permasalahan lingkungan. Padahal, sebenarnya calon kepala daerah di manapun, harus mengutamakan lingkungan sebagai isu utama. Karena lagi-lagi, kota mau berkembang dan masyarakatnya berkembang dengan baik, maka tergantung lingkungan hidupnya juga bagus atau tidak,”kata Latuconsina.

Masalah lain yang berkaitan dengan lingkungan dan harus menjadi perhatian serius, adalah pertambahan jumlah penduduk. Kota Ambon dengan fungsi sebagai Kota pendidikan, ibu kota provinsi, pusat perdagangan, dan kota tujuan pariwisata. Karena fungsi itu, banyak orang, baik Maluku maupun luar daerah datang ke Ambon.

Hal ini menjadi pemicu peningkatan jumlah penduduk. Catatan Ambon Ekspres yang disarikan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon 2015, jumlah penduduk kota Ambon tahun 2014 sebanyak 387.475 jiwa.

Tahun 2014, sudah mencapai 395.423 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak di kecamatan Sirimau, yakni 167 .197, jiwa, Nusaniwe  107. 275 jiwa, Teluk Ambon 45. 898  jiwa, Teluk Ambon Baguala 63.831 jiwa, dan Leitimur Selatan 11. 222. Dan tahun 2015, diperkirakan lebih dari 400.00 jiwa.

Pertumbuhan jumlah penduduk ini, kemudian menyebabkan sebagian orang nekad membuka lahan perbukitan dan daerah resapan (catchments area) untuk membangun rumah. Dampaknya, bukan saja pencemaran laut teluk, tapi juga mengurangi ketersediaan air.

“Lahan-lahan yang menjadi daerah resapan (catchments area) itu, sebenarnya harus dihijaukan kembali. Misalnya Gunung Nona, yang tadinya banyak hutan yang harusnya tetap dibiarkan, kok dijadikan pemukiman dan lainnya. Padahal sebenarnya tidak boleh,” paparnya.

Program Jumat Pagi Bersih Lingkungan (Jumpa Berlian) yang menjadi salah satu program unggulan Walikota dan Wakil Walikota Ambon sebelumnya, Richard Louhenapessy dan Sam Latuconsina, menurut dia, cukup bermanfaat bagi pelestarian lingkungan. Tapi itu hanya sedikit dari permasalah lingkungan yang beragam.

Diantaranya persoalan krisis air bersih yang sempat terjadi pada Maret 2016. Sumur air yang digunakan untuk melayani masyarakat yakni kawasan Wainitu untuk sebagian besar wilayah kota dan Kusu-kusu yang melayani kawasan Mangga Dua. Sedangkan untuk sumur dalam itu hampir di seluruh kawasan Passo, kecamatan Baguala dan Kecamatan Sirimau, saat itu mengalami penurunan debit.

“Apalagi sudah ada prediksi bahwa 50 tahun ke depan kota Ambon itu akan krisis air. Nah, ketersediaan air ini kan sangat tergantung dari daerah resapan tadi. Kalau tidak dijaga, prediksi itu bisa terjadi,”ungkapnya.

Sejumlah persoalan lingkungan itu, menurut dia, harus diartikulasikan dengan baik oleh dua pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Ambon dalam visi, misi ataupun program. Sebab, kata dia, persoalan lingkungan menjadi isu utama di hampir semua negara berkembang.

Di Indonesia, dia mencontohi kota Balik Papan dengan serius dengan pelestarian lingkungannya, sehingga mendapatkan penghargaan sebagai kota terbersih se-Asia Tenggara. Padahal, Balik Papan termasuk kategori metropolitan yang cukup luas.

“Justeru kota Ambon, itu yang penting isu lingkungan. Lalu kenapa tidak menjadikan ini sebagai isu utama dalam visi dan misi? Pendidikan dan kesehatan itu mau bagus atau tidak kan tergantung lingkungan. Kalau lingkungan tidak bagus, jangan sombong kalau pendidikan maupun kesehatan itu bagus,”jelasnya.

Latuconsina beharap pasangan PANTAS dan PAPARISSA BARU memasukkan isu-isu lingkungan dalam visi, misi serta program. Sebab, dianggap penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat kota Ambon ke depan.(TAB)

Most Popular

To Top