Calwakot Respon Keresahan Warga – Ambon Ekspres
Politik

Calwakot Respon Keresahan Warga

AMBON,AE.—Setelah mendapat masukan dari warga, dua pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Ambon, Richard Louhenapessy-Syarif Hadler dan Paulus Kastanya-Muhhamd Armyn Syarif Latuconsina menjadikan air bersih sebagai program dan kebijakan, bila mereka terpilih. Pesatnya pertumbuhan penduduk dan berkurangnya area resapan menjadi alasan pentingnya upaya ketersedian air bersih.

Bakal Calon Walikota Ambon, Paulus Kastanya mengaku, ketersediaan air bersih sudah menjadi program PANTAS. Hanya belum disampaikan secara rinci kepada masyarakat saat konsolidasi, karena keterbatasan waktu dan padatnya jadwal.

“Apalagi permintaan masyarakat kota ini untuk saya dan pak Sam cukup tinggi, sehingga kita mesti membagi waktu sedemikian rupa. Yang soal air bersih sudah masuk program,” jelas Paulus atau disapa Poly kepada Ambon Ekspres disela-sela kunjungan dia dan Sam ke RSUD dr.Haulussy, Kudamati, kemarin.

Kebijakan praktis yang akan dilakukan, kata Poly, adalah mengadakan dan menjaga daerah-daerah resapan air yang sudah ada. Bahkan, jika dimungkinkan, jika terpilih pemerintah bisa membeli tanah untuk ditanami pohon-pohon sebagai daerah resapan.

“Kota ini sudah semakin sempit. Masyarakat bertambah banyak. Nah disitulah ada intervensi pemerintah untuk menjaga daerah resapan air. Dengan adanya daerah resapan air itu, sekaligus kita mencegah banjir dan debit air selalu terjaga,”jelas Poly.

Bakal Calon Walikota Ambon, Richard Louhenapessy juga mengatakan, ketersedian air bersih bagi warga, menjadi program primadona. Sebab, sudah menjadi masalah utama di kota Ambon.

“Karena itu, dalam kebijakan saya dan pak Syarif, itu sudah menjadi program primadona untuk memecahkan masalah itu bagi seluruh masyarakat kota ini. Karena masalah air minum sudah menjadi masalah kota,” kata Richard kepada Ambon Ekspres disela-sela kunjungan dia dan balon wakilnya, Syarif Hadler bersama tim ke Radio DMS, jalan AY.Patty, Jumat (21/10).

Richard menjelaskan, untuk menjaga ketersediaan air bersih, akan dicari sumber-sumber air terbaru dari yang selama ini dipakai untuk menyuplai air bersih, seperti Air Besar, Wainitu, Halong dan Gunung Nona. Kemudian, agar tidak terjadi penurunan debit air, pemerintah kota Ambon ke depan juga memperbaiki lingkungan dengan menjaga daerah resapan (catchments area)

“Sumber-sumber air yang bisa kita manfaatkan, itu yang kita manfaatkan. Dan ini terkait dengan pentingnya lingkungan. Olehnya karena itu, lingkunan akan dijaga untuk memproteksi sumber air,”jelasnya.

Bahkan menurut dia, sudah harus dipikirkan soal penyulingan air, sebagai upaya jangka panjang untuk memenuhi ketersediaan air bersih. “Mungkin sudah saatnya kita akan pakai proses penyulingan. Apakah dari air asin menjadi air tawar. Itu akan pikirkan, ”ujarnya.

Upaya yang dilakukan nantinya, tidak bersifat sektoral bagi penduduk di wilayah-wilayah tertentu. Tapi dilakukan secara menyeluruh atau parsial. ”Bukan masalah sektor. Tidak seperti sekarang. Dimana kita tangani Gunung Nona, Halong dan lainnya. Ke depan, ini harus parsial, ”terangnya.

Ketersediaan air bersih memang menjadi masalah krusial di kota Ambon dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan nyaris terjadi setiap tahun. Terdapat sejumlah penyebabnya.

Diantaranya, pertumbuhan penduduk yang pesat dan rusaknya daerah resapan akibat pengelolaan tata ruang wilayah yang tidak baik. Data kota Ambon Dalam Angka 22015, menyebutkan pasca konflik, jumlah penduduk kota terus mengalami peningkatan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlahnya naik signifikan. Tahun 2006 (263.146), 2007 (271.972), 2008 (281.293), 2009 (284.809), 2010 (331.254), 2011 (348.407), 2012 (354.464), 2013 (379.615) dan 2014 (395.423) jiwa. Itu belum termasuk penduduk yang tidak terdata di instansi terkait.

Pertumbuhan penduduk yang pesat ini, tidak sebanding dengan daya tampung kota yang sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1979 luas wilayah Kota Ambon seluruhnya 377 kilometer (km) dan berdasarkan hasil Survei Tata Guna Tanah tahun 1980, luas daratan Kota Ambon tercatat 359,45 km. Ditambah dengan pembangunan yang tidak teratur, menyebabkan kerusakan daerah resapan air.

Rusaknya daerah resapan disinyalir, disebabkan oleh pembangunan di daerah resapan seperti di Gunung Nona dan Arbes yang tidak memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Ini banyak terjadi pasca konflik.

Catatan Ambon Ekspres, pada September 2015 krisis air bersih mencapai titik rawan bersamaan dengan kemarau panjang. Sehingga sampai Januari 2016, pasokan air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan DSA sudah mengalami penurunan drastis hingga mencapai hampir 70 persen. Kemudian, pada Mei hingga Juli 2016, juga terjadi krisis air bersih akibat menurunnya debit air.

Agar tidak terjadi lagi krisis air bersih, warga meminta agar dua paslon ini membuat program untuk mengatasinya.” Masukkan saja, kalau bisa ada sarana air bersih buat warga. Baik itu dari pihak swasta maupun pemerintah (PDAM). Sebab air bersih adalah kebutuhan dasar manusia. Imbasnya kalau saat banjir, kami sangat kesulitan air,”kata Sulaeman Tanan, warga Batu Merah Dalam, Kamis (20/10).

Selain ketersediaan air bersih, pasangan PANTAS dan PAPARISSA BARU juga menyikapi keinginan warga, terutama di daerah pegunungan yang masuk kecamatan Leitimur Selatan (Letisel) terkait ketersedIaan bus khusus bagi pelajar. Bahkan, akui Richard, sudah diprogram pada periode sebelumnya, namun belum dilaksanakan.

Olehnya itu, pada pemerintahan lima tahun ke depan, kata dia, perlu dilaksanakan, mengingat ketersedian angkutan ke Letisel dan ke kota yang masih terbatas. Salah satu solusi yang akan dijalankan, dengan memberikan subsidi kepada pihak pengusaha angkutan.

“Ada kebijakan yang telah terpikirkan oleh kita, yaitu dalam bentuk subsidi dan yang menggunakan adalah terutama mahasiswa dan anak sekolah. Kalau gak, kasihan mereka terlambat dan itu mengganggu aktivitas belajar mereka (pelajar),”jelas dia.

Sementara itu, menurut Poly, perlu ada intervensi serius dari pemerintah terkait masalah ini. Sebab, jumlah angkot ke daerah pegunungan masih terbatas. “Nah, persoalan-persoalan itu yang harus kita atasi. Karena itu persoalan masyarakat kecil. Agar mereka juga bisa menikmati sekolah dan kuliah dengan baik,”ungkapnya.

Komitmen Bersama
Sedangkan terkait dengan perdamaian, baik pasangan PAPARISA BARU maupun PANTAS punya komitmen untuk merawatnya. Kata Poly, dia dan Sam sudah mensosialiasikan pentingnya kota Ambon yang aman dan damai kepada warga.

“Dengan cara mensosialisasikan progam. Tidak menawarkan isu. Kita menawarkan program untuk mendidik masyarakat. Dan saya kira, masyarakat Kota Ambon sudah cerdas, beda dengan kabupaten dan kota yang lain. Untuk mereka dewasa dalam berpolitik,”kata dia.

Dan menurut dia, seluruh program yang telah dicanangkan tidak perlu dalam bentuk kontrak politik dengan warga.”Kita mau jadi pemimpin, itu tidak perlu bikin kontrak politik. Kalau kita punya tekad berpihak kepada rakyat, kita harus bikin,”ungkap mantan kepala dinas sosial provinsi Maluku itu.

Sementara itu, didalam visi, misi dan program PAPARISSA BARU sudah terakomodasi, yaitu upaya memperkuat dan mempererat harmonisasi sosial.

“Salah satu komponen harmonisasi sosial itu adalah rasa aman. Jadi bukan secara eksternal antara satu kelompok atau komunitas dengan komunitas lain. Yang paling penting dan utama adalah harmonisasi sosial secara internal. Program-program untuk terus memperkokoh nilai-nilai kultural itu akan menjadi kekuatan,”kata Richard.

Untuk menciptakan rasa aman, perlu dilakukan dengan program khusus dan komunikasi yang intens antar semua pihak. Karena itu, peran pemerintah Kota Ambon perlu ditingkat dalam menjaga dan memelihara keamanan, ketertiban, perdamaian dan harmoni dalam masyarakat.(TAB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!