Cegah Pencabulan, Bela Diri Solusinya – Ambon Ekspres
Amboina

Cegah Pencabulan, Bela Diri Solusinya

AMBON,AE.— Kekerasan seksual terhadap anak di Ambon, marak terjadi. Jumlahnya semakin meningkat, dengan rata-rata pelakunya adalah orang dekat, termasuk ayah mereka. Pembekalan ilmu bela diri bagi anak, dinilai sebagai salah satu solusi diantara sekian solusi lainnya untuk mencegah perbuatan ini.

Direktur Lembaga Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Maluku, Baihajar Tualeka mengatakan, dalam rentang Januari hingga Oktober, sekira 60 lebih kasus kekerasan seksual di Ambon. Baik pencabulan maupun perkosaan.

Pada April 2016, sesuai rilis LAPPAN Maluku, kekerasan seksual terhadap anak di kota Ambon sebanyak 96 kasus. Dari jumlah kasus tersebut diatas, kata Tualeka, umumnya korban berusia dibawah 5 tahun sampai diatas 40 tahun.
Sedangkan usia pelaku mulai dari 5 tahun sampai diatas 40 tahun. Usia korban yang sangat rentan adalah dari usia 13-18 tahun merupakan usia sekolah.“Kasus kekerasan seksual di kota Ambon memang terus mengalami peningkatan,”kata Tualeka kepada Ambon Ekspres via seluler, Jumat (21/10).

Menurut Tualeka, terdapat sejumlah upaya pencegahan yang bisa dilakukan agar kasus serupa tidak kembali terjadi. Diantaranya, dimulai dengan perlindungan terhadap anak di lingkungan keluarga. Terutama orang tua perempuan atau Ibu.

“Perlinudungan anak dari aksi kekerasan seksual harus dimulai dari lingkungan keluarga. Bagaimana keluarga berperan untuk memberikan perlindungan, ”katanya.

Tidak hanya memberi perlindungan terhadap anak, keluarga terutama orang tua perempuan, juga harus bisa memulihkan keadaan anak mereka yang menjadi sasaran. Ini penting, agar korban mampu bersosialiasi kembali dengan masyarakat.”Lalu keluarga juga harus punya peran untuk proses pemulihan. Termasuk masyarakat dan semua pihak,”paparnya.

Berikutnya, penegakan hukum. Pelaku harus diberi hukuman yang setimpal sesuai perbuatanya. Entah itu, pacar, teman, saudara maupun ayah kandung. “Disamping itu, penegakan hukum tetap dilakukan untuk memberikan efek jerah kepada pelaku,”jelasnya.
Bela Diri

Sementara itu, koordinator Himpunan Maluku Untuk Kemanusiaan (HUMANUM) Vivi Marantika menilai, pembekalan ilmu bela diri kepada anak, juga menjadi salah satu solusi untuk mencegah pelecehan seksual. Sebab, pelaku yang rata-rata merupakan orang dewasa, sangat mudah melemahkan anak-anak guna melampiaskan nafsunya.

“Salah satu trik tersebut bisa juga. Karena pola kekerasan yang dialami atau terjadi didorong oleh pelaku yang power full (berkekuatan penuh) dan korban yang power less (berkekuatan lemah), ”jelas Vivi.

Hal penting lainnya, lanjut dia, termasuk pengenalan tentang pentingnya menjaga alat kelamin sejak dini. Kemudian, menanamkan rasa memiliki, agar anak dengan sendirinya bisa melindungi diri dari aksi kekerasan seksual.
“Pendidikan seks diharapkan membangun kesadaran kritis untuk kenali tubuh dan berkata tidak (pada kekerasan seksual), ”ungkapnya.

Selain itu, menurut dia, kekerasan seksual terhadap anak perlu menjadi isu dan masalah bersama semua pihak. Tidak hanya orang tua, pemerintah dan LSM serta media massa serta penegak hukum.

“Kata kuncinya adalah perlindungan. Inisiatif yang ada harus menjadi inisiatif kolektif untuk menghasilkan kontrol publik secara bersama-sama, berkelanjutan atas pengakuan terhadap hak korban,” papar dia.
Dikatakan, pengakuan terhadap hak korban tidak sebatas proses hukum. Namun, yang lebih penting adalah mendapatkan pelayanan medis maupun psikologis yang maksimal dari pemerintah.

“Bahwa dari pendekatan hukum, korban haruslah dilindungi. Baik secara medis maupun psikologis. Untuk itu, perlu mendorong pemerintah agar pada semua rumah sakit ada unit, bahkan hingga Puskesmas untuk pemeriksaan korban,”pungkasnya.(TAB)

Most Popular

To Top